
Bolmut, Sulutnews.com – Hayya Alashalah, Hayya alal falah adalah bagian dari lafaz-lafaz saat azan dikumandangkan. Azan atau adzan merupakan panggilan bagi umat muslim sebagai penanda waktunya untuk menunaikan kewajiban shalat fardu. Azan dikumandangkan oleh seorang muadzin setiap salat lima waktu. Minggu (25/08/2024).
Hayya Alashalah mengandung arti: mari mengerjakan shalat.
Hayya Alal falah mengandung arti: mari menuju kemenangan/kejayaan/kesuksesan.
Kandungan makna yang tersirat ketika Pemerintah Daerah Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) menggelar acara “Sejuta Istighfar untuk Negeri” sebagai rangkaian kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-79, 17 Agustus 2024.
Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Kembar Boroko ini dihadiri oleh ribuan masyarakat yang berkumpul untuk bersama-sama memanjatkan Doa dan Istighfar demi keselamatan dan kemakmuran bangsa.
Acara yang digelar dengan penuh khidmat ini dipandu oleh Habib Salim Bin Abdurahman Al Jufri didampingi Pj. Bupati Bolmut Sirajudin Lasena pada Jumat kemarin 15 Agustus 2024.


Habib Salim Bin Abdurahman Al Jufri dalam ceramahnya, ketika adzan dikumandangkan maka Islam mengajarkan kepada kita untuk menjawab panggilan tersebut, sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang artinya:
“Jika kalian mendengar seruan adzan maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin”(HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Adzan adalah seruan untuk memanggil umat Islam melaksanaka salat. Dalam Kamus Besar Bahsa Indonesia azan diartikan sebagai seruan untuk mengajak orang melakukan salat. Dari pengertian ini bisa diketahui secara umum bahwasannya adzan memang panggilan yang dikumandangkan untuk umat melaksanakan salat. Salat yang dimaksudkan adalah salat wajib yang lima waktu yaitu subuh, dzuhur, asar, maghrib dan isya.
Pada sejarahnya awal kemunculan adzan adalah di abad pertama hijriyah ketika Rasulullah pertama kali hijrah ke Madinah. Saat itu Rasulullah mendirikan masjid sebagai aktivitas umat Islam dalam mengkaji wahyu Allah.
Dalam prosesnya terdapat banyak pendapat bagaimana cara memanggil umat Islam agar mendatangi masjid untuk salat berjamaah.
Dimulai dengan mengibarkan bendera, memakai lonceng seperti umat nasrani hingga api seperti umat yahudi hingga benda lain yang kini justru digunakan agama lain dalam melakukan ibadah.
Keadaan tersebut ditolak oleh Rasulullah Muhammad saw. Beliau menggantikannya dengan lafal mengajak salat berjamaah yang berbunyi asshalatu jami’ah (marilah sholat berjamaah).
Mendengar usulan Rasulullah, Umar bin Khathab memberikan suara agar terdapat orang yang menjadi pemanggil umat Islam dengan lafal tersebut sebagai pertanda masuknya waktu salat.
Keputusan tersebut diterima. Dalam perjalanannya terdapat kisah dari Abu Daud. Dikutip dari Republika.co.id Abu Daud berkisah bahwa Abdullah bin Zaid berkata,
“Ketika cara memanggil kaum Muslimin untuk sholat dimusyawarahkan. Suatu malam dalam tidurku aku bermimpi.”
Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud menjual lonceng itu. Aku pun berkata padanya, ‘Wahai hamba Allah, apakah engkau menjual lonceng itu?’ Dia berkata, ‘Apa yang akan engkau lakukan dengannya?’ Maka kujawab: ‘Kami akan gunakan lonceng itu sebagai panggilan sholat.’ Dia pun berkata, ‘Mau engkau kuberi tahu (panggilan) yang lebih baik dari (bunyi lonceng) itu?’ Dan aku menjawab, ‘Ya!’ Lalu dia berkata lagi dan kali ini dengan suara yang amat lantang:
– Allahu Akbar Allahu Akbar yang artinya Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.
– Asyhadu alla ilaha illallah yang artinya Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah.
– Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah yang artinya Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
– Hayya ‘alash shalah yang artinya Mari kita menuju salat.
– Hayya ‘alal falah yang artinya Mari kita menuju kemenangan.
– Allahu Akbar Allahu Akbar yang Artinya Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.
– La ilaha illalah yang artinya tiada Tuhan selain Allah.
Keesokan harinya, Abdullah ibn Zaid mendatangi Rasulullah Saw dan menyampaikan perihal mimpi itu kepadanya.
Rasulullah Saw pun berkata, “Mimpi itu adalah mimpi yang benar.” Rasul kemudian menyuruh untuk mengajarkannya kepada Bilal, karena Bilal memiliki suara yang sangat lantang.
Ketika Umar bin Khathab mendengarnya, ia berkata kepada Rasul, “Demi Allah, Akupun bermimpi seperti itu juga.”
Dengan demikian, orang yang pertama kali mengumandangkan adzan adalah Bilal bin Rabbah.
Dari catatan sejarah ini dapat dipahami bahwa lantunan azan memang disuarakan dengan keras dan lantang agar umat mendengarnya dan agar orang-orang yang lalai dan tidur dapat mendengarnya, berbeda jika hanya memakai bendera yang hanya jika orang tertentu saja melihat bendera tersebut berkibar.
Sampai saat ini azan terus dikumandangkan dengan lantang dan kuat. Setiap suara lantunan tersebut terdengar maka umat Islam tahu sudah memasuki waktu salat wajib bahkan umat agama lain dapat memahaminya dan memberikan toleransi kepada umat Islam dalam suatu pekerjaan dapat menjalankan ibadah terlebih dahulu.
Firman Allah SWT
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ، فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah, ayat 9-10)
Kalimat hayya alal falah yang tersemat dalam panggilan adzan merupakan ajakan untuk sukses. Kesuksesan di sini termasuk dalam ibadah, sukses sebagai makhluk sosial, berkarir maupun berusaha.
Menuju kemenangan dalam panggilan adzan bermakna tetap istiqomah (konsisten) dalam martabat taqwa serta mendirikan shalat berwaktu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Penulis Gandhi Goma, Pengurus Tanfidziyah Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bolmong Utara.





