Bitung, Sulutnews.com — Dentuman keras menggema di langit Selat Lembeh, Jumat(10/10/2025) pagi.
Tembakan flare gun ke udara di susul dua ledakan TNT berkekuatan sedang, bukan tanda bahaya.
Melainkan isyarat dimulainya Sailing Pass Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) 2025.
Momen pembuka penuh semangat ini dipimpin langsung oleh Komandan Satrol (Dansatrol) Koarmada VIII, Kolonel Laut (P) Marvill Marfel Frits, E.D., S.E., M.Tr. Hanla., CRMP.
Suara stom kapal terdengar, menambah semarak dengan 15 armada TNI Angkatan Laut ikut bermanuver.
20 perahu mural dan 90 kapal dari nelayan dan instansi lainnya mulai berlayar, menampilkan ragam ciri khas laut Bitung.
Sailing Pass sejak awal FPS, parade ini sudah menjadi antraksi utama yang memperlihatkan potensi maritim Bitung sebagai Pintu Gerbang Pasifik.
Sebelumnya, kapal perang, perahu nelayan dan kapal pesiar berbaris rapi melintasi Selat Lembeh sebagai simbol kejayaan bahari dan kebanggaan warga pesisir.
Seiring waktu, semakin berkembang. perahu-perahu mulai dihias dengan kain dan ornamen berwarna.
Sayangnya, banyak bahan yang digunakan saat itu tidak ramah lingkungan.
Kemudian, perubahan besar datang pada FPSL 2021, ketika seniman lokal, komunitas nelayan, dan Pemerintah Kota Bitung berkolaborasi menghadirkan ide perahu mural.
Setiap kapal dan perahu dilukis warna, bukan lagi dihias dengan plastik atau Styrofoam.
Tujuannya sederhana, selain memberi ruang ekspresi bagi seniman muda dan menjadikan parade laut lebih indah dan Instagrammable, juga menunjukkan identitas Bitung sebagai kota kreatif berbasis bahari.
Dan setiap tahun jumlah perahu mural terus bertambah. Tahun 2023 misalnya, lebih dari 30 perahu tampil dengan tema flora-fauna laut, budaya lokal, hingga ikon Tangkoko dan monyet yaki.
Kini, di 2025, parade ini makin ramai dan jadi magnet utama FPSL.
Saat ini, di puncak FPSL 2025, hadir Bitung Harmony Day, sebagai perayaan yang memadukan keindahan laut, seni, dan semangat gotong royong masyarakat Bitung.
Masyarakat menyaksikan kapal-kapal berlayar dengan berbagai ragam. nelayan, pelaut dan seniman bersatu dalam gerak yang menggambarkan kebersamaan khas kota bahari ini.
“Ini bukan sekadar kapal yang lewat,” ujar salah satu penonton sambil mengabadikan momen itu.
“Tapi tentang kebanggaan dan kebersamaan kita menjaga laut yang sudah jadi bagian hidup orang Bitung.”katanya.
Sailing Pass Perahu Mural bukan hanya parade laut biasa. Ia telah menjadi galeri seni terapung di tengah Selat Lembeh sebagai simbol perpaduan tradisi bahari, kreativitas anak muda, dan semangat harmoni masyarakat pesisir.
(Tzr)






