Manado, Sulutnews.com – Pengamat Ekonomi yang juga sebagai Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia ( ISEI) Cabang Manado Joy Elly Tulung SE.M.Sc.Ph.D menilai, masuknya zona hijau realisasi APBD Provinsi Sulut tahun 2025 sesuai penilaian Kementrian Dalam Negeri tentu ini merupakan sinyal yang positif dari sisi tata kelola fiskal daerah.
Karena penyerapan anggaran yang baik menunjukkan bahwa perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan program berjalan relatif sesuai jadwal dan target.” kata Joy Elly Tulung kepada wartawan Sulutnews.com Minggu (28/12) menangapi adanya penilaian Departemen Dalam Negeri dalam Rapat Koordinasi Nasional Realisasi APBD 2025 lewat zoom dari Jakarta Rabu (24/12) bahwa realisasi APBD Provinsi Sulut masuk zona hijau.
Dalam Rakor Nasional Realisasi APBD 2025b lewat Zoom Daring hadir Gubernur Sulut Yulius Selvanus SE, Sekprov Thalis Gallang M.Si, Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah Cley Dondokambey S.STp MAP, Ketua Bappeda Elvira Katuuk ST.M.Si , Kepala Dinas Pendapatan Daerah June Silangen SE AK.M.Si dan pejabat terkait lainnya.
Menurut Joy Tulung yang juga Dosen Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsrat itu, masuk zona hijau realisasi APBD 2025 itu patut diapresiasi.
Namun demikian menurut Dosen muda Unsrat itu yang lebih penting dari sekadar angka penyerapan adalah kualitas belanja itu sendiri.
Karena APBD yang terserap dengan baik akan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat apabila diarahkan pada belanja produktif seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan penguatan ekonomi masyarakat bukan sekadar belanja rutin atau administratif.
Jadi, Zona Hijau itu perlu dibaca sebagai indikator awal yang baik, tetapi tetap harus diikuti dengan evaluasi dampak riilnya bagi kesejahteraan masyarakat.” Kata Joy Tulung yang meraih Master ( M.Sc) dan Doktor ( Ph.D) dari salah satu Universitas di Prancis itu.
Dikatakan Joy Tulung capaian ini juga tidak lepas dari kekompakan dan koordinasi kerja antara pimpinan daerah, TAPD, serta seluruh perangkat daerah.
Sinkronisasi antara perencanaan dan eksekusi sangat menentukan, apalagi di tengah tantangan ekonomi dan dinamika fiskal yang tidak ringan sepanjang 2025.
Tantangan
Ditambahkan , terkait pejabat eselon II, III, dan IV, kinerja penyerapan yang baik mencerminkan bahwa kompetensi birokrasi relatif memadai, baik dari sisi manajerial maupun teknis. Meski demikian, ke depan tantangannya bukan hanya mampu menyerap anggaran, tetapi meningkatkan efektivitas dan efisiensi belanja, serta memastikan setiap rupiah APBD memberikan nilai tambah ekonomi dan sosial bagi masyarakat Sulawesi Utara.
Sebagai Ketua ISEI Cabang Manado menilai capaian yang patut diapresiasi, tetapi tetap perlu dijaga konsistensinya dan ditingkatkan kualitas hasilnya.
Sementara menangapi ramainya warga bebelanja dimall dan pusat belanja sehinga terjadi kemacetan dibeberap ruas sebelum Natal 25 Desember 2025 itu Joy Tulung melihat, kemacetan dan padatnya pusat perbelanjaan sejak awal Desember hingga menjelang Natal, seperti di Mantos, kawasan Megamas, pusat pertokoan 45, Bahu Mall, dan lainnya, itu bisa menjadi sinyal adanya peningkatan daya beli masyarakat, tetapi tidak berdiri sendiri.
Karena ada beberapa faktor pertama memang ada faktor musiman. Natal dan Tahun Baru selalu memicu lonjakan konsumsi: belanja kebutuhan rumah tangga, pakaian, makanan, hingga aktivitas sosial dan keagamaan. Ini pola tahunan yang hampir selalu terjadi, sehingga kepadatan pusat belanja tidak otomatis berarti pendapatan naik secara struktural.
Kedua menurut Joy Tulung ada juga indikasi positif dari sisi pendapatan dan likuiditas masyarakat. Pencairan gaji ke-13, TPP, bonus akhir tahun, serta belanja pemerintah yang meningkat di akhir tahun ikut mengalir ke perekonomian lokal. Ditambah lagi, sektor perdagangan dan jasa di Sulut relatif hidup, sehingga uang memang “beredar” di masyarakat.
Dalam ekonomi, ini disebut efek multiplier musiman.
Ketiga ada faktor perilaku dan akses keuangan. Konsumsi saat ini tidak selalu mencerminkan pendapatan saat ini. Kemudahan kredit konsumsi, paylater, dan cicilan tanpa bunga membuat belanja terlihat ramai meski sebagian dibiayai oleh ekspektasi pendapatan ke depan. “Jadi, keramaian mall bisa juga mencerminkan optimisme, bukan semata-mata kenaikan pendapatan riil” ujar Tulung.
Joy Tulung yang juga menjabat Koordinator Program Study Megister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsrat itu menyimpulkan kepadatan pusat belanja jelang Natal adalah kombinasi antara faktor musiman, pencairan pendapatan dan belanja pemerintah, serta perubahan perilaku konsumsi.
Ini kabar baik untuk perputaran ekonomi jangka pendek, tetapi untuk menilai apakah pendapatan warga benar-benar naik secara berkelanjutan, tetap perlu dilihat data lanjutan seperti inflasi, upah riil, dan kualitas lapangan kerja setelah momentum Natal lewat. (Fanny)







