Sulutnews.com Bengkulu Selatan – pernyataan yang mencekam keluar dari kepala BPP kecamatan seginim Sukir, yang menyatakan bahwa mereka juga merasa tertipu atas usulan kelompok wanita tani KWT desa gunung Ayu kecamatan Seginim kendaraan roda tiga untuk mendukung kebun jeruk yang di olah oleh kelompok tani mereka.
Kepala BPP kecamatan seginim Sukir menjelaskan bahwa mereka mendukung KWT melati putih dengan memberikan roda tiga sebagai bantuan pemerintah, namun tidak lama kemudian beredar kabar kebun tersebut sudah di jual, sementara itu ketua KWT melati putih desa gunung ayu Yarti mengakui kebun tersebut di tebang.
Bantuan kendaraan roda tiga yang di ketahui sudah lebih kurang tiga tahun tidak lagi di tangan KWT melati putih timbulkan pertanyaan besar, terlebih ketua kelompok Yarti menyatakan bahwa Rosa tiga tersebut berada di desa darat sawah di pinjam pakaikan dengan kakaknya. Namun karena adanya kerusakan seharga tujuh ratus lima puluh ribu roda tiga tersebut tak kunjung di perbaiki hingga tiga tahun lebih.
Sesuai bantuan pemerintah roda tiga yang di berikan terhadap KWT melati putih piral di beberapa media online, roda tiga kembali di bawa pulang oleh ketua KWT melati putih, ke desa gunung ayu yang selama ini ketua kelompok dianggap tidak peduli dengan bantuan tersebut.
Hal yang aneh juga terjadi, apakah memang kelompok ini ada kelebihan belum diketahui, sebab salah satu kelompok tani yang mayoritas beranggotakan wanita kembali mendapatkan bantuan hingga Rp 324jt lebih untuk pembangunan optimasi lahan non rawa yang di danahi oleh APBN-TP dengan membentuk kelompok baru P3A Lembak dusun, yang menurut informasi kepala BPP kecamatan seginim P3A ini adalah gabungan 3 kelompok tani, yang di ketahui di ketuai oleh Ketua melati putih, bendahara suaminya sendiri.
Atas adanya keanehan yang terjadi patut di curigai adanya ketidak singkronan antara pihak dinas terkait dengan kelompok ini, disamping mengakui pernah merasa tertipu di saat penurunan bantuan roda tiga, namun kembali memberikan bantuan terhadap P3A Lembak dusun yang notabanenya masih pengurus melati putih yang mana 3 kelompok yang tergabung dinilai tidak jelas, hingga PPL desa gunung ayu tidak mengetahui, serta kepala BPP kecamatan seginim.
Ini mestinya jadi perhatian dinas terkait, yang menjadi muara terakhir kelompok yang ada di kabupaten Bengkulu Selatan, di harapkan jangan sampai kelompok lain yang ada di kabupaten Bengkulu Selatan dirugikan dengan berulang kalinya lakukan pengusulan bantuan tidak dapat, sementara kelompok diduga hanya memikirkan keuntungan selalu menjadi prioritas oleh dinas terkait.
Salah satu penggiat di kabupaten Bengkulu Selatan Arif yang juga putra asli kabupaten Bengkulu Selatan berharap bupati Bengkulu Selatan mengevaluasi jaringan yang menangani kelompok tani khususnya PPL desa gunung ayu, kepala BPP kecamatan seginim, hingga bagian Sapras pertanian kabupaten Bengkulu Selatan, diduga tidak profesional dalam bekerja. (JN)







