Jakarta, Sulutnews.com – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa secara blak-blakan mengungkap penyebab banyaknya aksi demo masyarakat yang belakangan marak hingga melahirkan tagline “Indonesia Gelap.”
Hari ketiga setelah dilantik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa hadir dalam rapat dengan Komisi XI DPR. Dua hal yang dibahas Menteri Purbaya dalam paparannya, yakni peran anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk stimulus perekonomian, rencana kerja dan anggaran Kementerian Keuangan tahun depan. Purbaya memulai dengan memaparkan kondisi ekonomi global dan domestik.
Menurut Purbaya, salah satu faktor utama adalah perlambatan ekonomi yang signifikan akibat buruknya kebijakan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir.
“Jadi itu yang Anda rasakan di ekonomi, melambat dengan signifikan, sektor riil susah, semuanya susah, banyak keluar tagline-tagline Indonesia apa? Gelap.”
“Kita semua menunjuk gara-gara global. Padahal ada kebijakan dalam negeri yang salah juga, yang utamanya mengganggu kita, karena 90 persen ekonomi kita digerakkan oleh permintaan domestik,” jelas Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, dikutip dari JawaPos.com, Rabu (10/9/2025).
Kritik soal Kebijakan Fiskal dan Moneter :
Purbaya menyoroti salah satu kebijakan buruk pemerintah, yakni minimnya penambahan uang ke sistem moneter dari sisi fiskal.
Ia mencontohkan kondisi tahun 2021 pasca Covid-19, di mana Bank Indonesia menahan dana negara hingga Rp500 triliun. Pada Mei 2021, Rp300 triliun akhirnya dikembalikan ke sistem likuiditas.
Dampaknya, pertumbuhan uang melonjak dari minus 15,3 persen hingga menyentuh double digit dan berhasil menyelamatkan ekonomi nasional.
Namun sejak pertengahan 2023, kebijakan kembali mengetat. Uang justru diserap hingga pertumbuhannya mendekati nol menjelang semester II-2024.
Meski sempat membaik pada awal 2025 dengan pertumbuhan 7 persen pada April, kondisi kembali jatuh ke 0 persen pada Mei, Juli, hingga Agustus.
“Makanya ketika saya rasakan di bulan April, saya bilang kita sudah keluar dari krisis, Indonesia akan cerah. Yang saya nggak tahu, Mei jatuh lagi, Juli jatuh, Agustus jatuh ke 0 persen. Jadi periode perlambatan ekonomi 2024 gara-gara uang ketat tadi, dipulihkan sedikit, belum sepenuhnya, direm lagi ekonominya,” ungkapnya.
Pemerintah Dinilai Terlambat Belanjakan APBN :
Lebih lanjut, Purbaya menilai pemerintah juga terlambat membelanjakan APBN sehingga dana mengendap di Bank Sentral.
“Pemerintah, karena terlambat membelanjakan anggaran, uangnya kan dari Bank Sentral. Beliau rajin narik pajak, tak apa-apa, masuk ke Bank Sentral. Kalau dibelanjain lagi, nggak apa-apa. Tapi ini kan nggak, ditaruh sana santai-santai, kering sistem,” tegasnya.
Demo Akibat Tekanan Ekonomi Berkepanjangan :
Menurut Purbaya, demo-demo masyarakat yang terjadi belakangan adalah dampak dari tekanan ekonomi akibat kesalahan kebijakan fiskal dan moneter.
“Yang Bapak-Bapak rasakan adalah yang kemarin demo itu, itu karena tekanan berkepanjangan di ekonomi, karena kesalahan kebijakan fiskal dan moneter sendiri yang sebetulnya kita kuasai,” pungkasnya. *** GG







