Sitaro.sulutnews.com – Keterlambatan kapal pengangkut BBM kembali menjadi pemicu utama kelangkaan bahan bakar di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) dalam sepekan terakhir.
Rusaknya salah satu kapal yang biasa mengangkut pasokan menyebabkan distribusi hanya bergantung pada satu armada, sehingga waktu kedatangan BBM ke wilayah kepulauan ini menjadi jauh lebih lama dari jadwal normal.
Dampaknya langsung terasa. Antrean panjang terlihat di sejumlah agen premium minyak dan solar (APMS) di Pulau Siau.
Warga kesulitan mendapatkan Pertalite maupun Solar, sementara keluhan dan kritik mengalir deras di media sosial, bahkan sampai ke pemerintah daerah dan DPRD.
Wakil Bupati Sitaro, Heronimus Makainas, menegaskan, persoalan ini bukan kali pertama terjadi.
“Sejak saya masih di DPRD, masalah seperti ini hampir selalu terulang setiap tahun,” ungkapnya, Kamis, 16/10/2025.
Ia menjelaskan, kerusakan kapal penyuplai membuat jadwal distribusi terganggu dan stok BBM di APMS cepat menipis.
“Tagulandang juga terdampak. Semua wilayah ikut merasakan akibatnya,” tambahnya.
Untuk mencegah penyimpangan distribusi di tengah kelangkaan, Tim Pengendalian BBM Kabupaten segera menggelar rapat darurat dan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pengecer.
Pemerintah ingin menjamin tidak ada praktik penimbunan atau penyimpanan BBM dalam jumlah besar yang memperparah situasi.
“Hasil sidak masih kami tunggu untuk mengetahui temuan lapangan secara resmi,” jelas Makainas.
Meski pasokan tersendat, ia mengapresiasi warga yang tetap menjaga situasi tetap aman. Makainas memastikan bahwa kapal pengangkut akhirnya tiba pada Rabu, 15 Oktober 2025, sehingga penyaluran BBM kembali berjalan meski belum normal sepenuhnya.
Makainas menilai, krisis BBM yang berulang bukan hanya akibat jadwal kapal yang terganggu. Ada dua persoalan mendasar yang harus dibenahi. Yaitu, stok yang tidak sesuai kebutuhan lapangan, oleh karenanya, Ia meminta Bagian Perekonomian melakukan kalkulasi ulang agar pengajuan kuota BBM benar-benar sesuai dengan kebutuhan Masyarakat dan pengawasan yang belum efektif saat proses distribusi.
“Setiap pasokan tiba, penyaluran harus tepat sasaran. Jangan ada pihak tertentu yang mengambil keuntungan pribadi,” tegasnya.
Ia juga meminta tim pengawas bertindak tegas terhadap para pelaku penimbunan atau permainan harga.
“Jika ditemukan kecurangan, harus ada langkah hukum yang jelas agar memberikan efek jera,” pungkasnya.
Kepala Bagian Perekonomian dan SDA, Jelin Yolanda Langitan, menjelaskan, kuota BBM Sitaro tahun 2025 mencapai 4.522 kiloliter, bahkan meningkat 20 persen setiap tahun. Biasanya, dua kapal melayani rute distribusi sehingga pasokan datang lebih cepat.
“Sekarang hanya satu kapal yang beroperasi, otomatis distribusinya melambat,” katanya.





