Rote Ndao, Sulutnews.com – Warga Desa Lalukoen Tamba lagi pada garuk-garuk aspal saking bingungnya. Kenapa? Desa mereka lagi “rame” banget, bukan karena festival panen, tapi karena drama internal yang bikin pusing tujuh keliling!
Bayangin aja, para KAUR (Kepala Urusan) dan KASIE (Kepala Seksi), plus BPD (Badan Permusyawaratan Desa), kompak nyalahin Sekretaris Desa. Padahal, kata bisikan tetangga, biang keroknya ya mereka-mereka juga. Lupa kali ya, kerja itu kayak orkestra, bukan solo gitar yang maunya menang sendiri.
“Sok pintar boleh, tapi jangan kayak kalkulator rusak, hasilnya ngaco semua,” celetuk warga yang ogah disebut namanya, takut dikira ember bocor.
Tapi yang lebih bikin ngakak so hard, para KAUR dan KASIE ini awalnya semangatnya kayak nonton bola final. Eh, lama-lama kok kayakTransformer, berubah jadi jarang kelihatan di kantor desa? Jangan-jangan mereka lagi casting sinetron azab?
“Dulu rajinnya kayak semut nemu gula, sekarang kayak cicak di dinding, ngumpet mulu,” sindir warga sambil ngakak guling-guling.
Belum lagi masalah HOK (Honor Operasional Kerja) buat pekerja pagar kawat duri. Kasihan mereka, udah kerja keras banting tulang, eh honornya malah nyangkut di awang-awang. Semoga pengurus keuangan desa cepat sadar, jangan sampai para pekerja bikin pagar berduri di depan kantor desa!
Yang bikin sedih, pelayanan buat masyarakat jadi ikut-ikutan keteteran. Mau urus KTP susah, mau tanya soal dana desa malah dicuekin. Padahal, warga cuma pengen dilayani dengan senyuman, bukan malah jadi penonton bayaran di sinetron desa.
Semoga para perangkat desa cepat insaf, berhenti main sinetron, dan mulai kerja beneran. Ingat, jadi pemimpin itu kayak jadi nahkoda kapal, bukan kayak jadi penumpang gelap! Kalau nggak becus, mendingan jadi penonton setia aja, biar nggak bikin kapal oleng dan tenggelam.
Reporter: Dance Henukh





