Manado, Sulutnews.com– Tokoh Sulawesi Utara, Andi Rompas, memberikan harapannya terkait perhelatan Dzikir Akbar Kemerdekaan dalam rangka memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia yang akan digelar di Manado pada 30 Agustus mendatang.
Ia berharap bahwa kegiatan tersebut selaras dengan tujuan yang diusung, yaitu mendoakan bangsa dan negara ini, memohon keberkahan serta keselamatan bagi bangsa Indonesia.
“Saya harap, sesuai dengan tertulis di judul. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Marilah kita saling menghargai, karena ini adalah kegiatan doa untuk kebangsaan,” ungkapnya.
Menurutnya, kerukunan di Sulawesi Utara yang selama ini terjalin dengan baik harus terus dijaga.
Ia mengutarakan, perhelatan akbar tersebut berjalan sesuai agenda penuh semangat kebangsaan serta menjunjung simbol Merah Putih sebagai bendera persatuan bangsa.
“Sesuaikan, kalau mau program pengangkatan bendera, kasih di flyer pengangkatan bendera, tapi jangan di flyer berdoa untuk kebangsaan tetapi tiba-tiba nanti bendera selain Merah Putih berkibar. Pointnya, dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” imbuhnya.
Lebih lanjut ia menekankan pentingnya menjaga kerukunan yang sudah lama terjalin di Sulawesi Utara.
“Torang minoritas di Indonesia, tapi Torang mayoritas di Minahasa. Jadi hargai Torang punya kerukunan yang sudah ada selama ini,” ucapnya.
Di kesempatan yang sama, Ketua Umum Persatuan Organisasi Lintas Adat Agama dan Budaya (POLA) Sulut, Puboksa Hutahean turut menyampaikan pesan kebangsaan.
Puboksa menuturkan, adat dan budaya Minahasa harus terus dilestarikan sebagai pemersatu bangsa.
“ kita harus bersatu untuk melestarikan adat budaya Minahasa sebagai pemersatu bangsa, kita tetap menjaga solidaritas kerukunan dan menghargai perbedaan,” tandasnya. Kamis(28/08/25).
Sebelumnya, Tokoh Adat dengan jiwa nasionalis tinggi ini, baru kembali dari Tanah Borneo menghadiri undangan HUT ke 45 Panglima Jilah.
Sosok yang dikenal sebagai tokoh yang peduli terhadap adat, budaya serta permasalahan yang terjadi di tanah kelahirannya, mengaku terkesan dengan Kalimantan.
Meskipun alamnya panas, namun kata dia, itu terobati dengan kesejukan budayanya yang sangat luar biasa.
Lestarinya adat dan budaya di tanah Kalimantan membuat ingin membawanya ke Sulawesi Utara.
Menurutnya, hal penting bagi masyarakat di Sulut adalah bersatu.
” Kita melihat di Dayak, mereka berkelompok kelompok dengan berbagai ragam budaya mereka, namun mereka bersatu.” Tuturnya.
Semangat persatuan yang ia temui di Tanah Borneo dapat menjadi cermin bagi masyarakat Sulawesi Utara, sehingga adat, budaya dan kebersamaan tetap terjaga sebagai kekuatan untuk membangun daerah dan bangsa.
(Tzr)





