Menu

Mode Gelap
Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global Breaking : Guru SMP di Rote Ndao Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Depan Siswa Lain, Rok Korban Sampai Robek!

Bolmut · 18 Agu 2025 10:45 WITA ·

Anak-Anak Gaza Menangis Mati Kelaparan


Anak-Anak Gaza Menangis  Mati Kelaparan Perbesar

Foto : Anak Gaza menangis mati kelaparan

Bolmong Utara, Sulutnews.com – Bencana yang terjadi di Gaza tidak bisa dipahami hanya sebagai krisis kemanusiaan. Senin (18/08/2025).

Apa yang kita saksikan hari ini bukan sekadar dampak tragis dari perang, tetapi penggunaan kelaparan secara sengaja sebagai alat kontrol politik dan demografis.

Ini adalah strategi yang dirancang untuk menghancurkan masyarakat Palestina secara sistematis—bentuk nyata dari genosida struktural.

Pimpinan militer dan politik Israel, dalam usahanya mendominasi dan menghapus aspirasi nasional rakyat Palestina, telah melangkah lebih jauh dari sekadar pemboman dan penghancuran infrastruktur.

Kini, serangan mereka menyasar hal yang paling mendasar bagi kelangsungan hidup: akses terhadap makanan, air, dan kebutuhan pokok lainnya.

Merampas kemampuan suatu bangsa untuk memberi makan dirinya sendiri bukanlah konsekuensi tak terelakkan dari perang. Itu adalah kebijakan yang disengaja.

Menurut laporan berbagai lembaga internasional independen, lebih dari 95 persen lahan pertanian di Gaza telah dihancurkan atau tidak lagi bisa digunakan.

Bukan sekadar kerugian ekonomi, ini adalah penghancuran terencana atas kedaulatan pangan, dan bersamanya, harapan rakyat Palestina akan masa depan yang merdeka.

Pusat dari kehancuran ini bersifat sistematis. Akses terhadap benih telah diblokir. Infrastruktur air dijadikan sasaran. Nelayan dan petani—yang sejak awal bekerja dalam kondisi pengepungan ekstrem—berulang kali menjadi target serangan.

Foto : Mereka menangis pada saat makanan habis dibagi.

Foto : Anak-anak Gaza antri pasokan makanan terbatas.

Ini bukan rangkaian tindakan acak, melainkan bagian dari rencana yang lebih luas untuk merekayasa ulang masa depan demografis dan ekonomi Gaza sesuai dengan tujuan strategis jangka panjang Israel: kontrol penuh dan penyerahan politik total.

Apa yang lebih mengkhawatirkan adalah keterlibatan komunitas internasional.

Melalui sikap diam, atau pernyataan diplomatik yang kabur dan menyebut situasi ini semata sebagai “krisis kemanusiaan”, aktor global ikut berperan dalam menormalkan penggunaan kelaparan sebagai senjata perang.

Kegagalan untuk menyebut tindakan ini sebagai kejahatan perang, sebagai bagian dari proyek genosida, telah memberi Israel ruang impunitas untuk terus melakukannya tanpa konsekuensi hukum.

Lebih jauh lagi, makanan kini telah dijadikan alat tawar-menawar politik.

Akses terhadap kebutuhan dasar seperti tepung, susu formula bayi, dan air bersih dipolitisasi, digantungkan pada negosiasi dan kepentingan militer.

Ini mencerminkan logika kekuasaan yang kejam: Tujuannya bukan menciptakan stabilitas atau keamanan bersama, melainkan memaksakan kehendak politik melalui manipulasi penderitaan sipil secara terencana.

Dengan membuat Gaza sepenuhnya bergantung pada bantuan luar, sembari secara sistematis menghancurkan sarana hidup lokal, Israel telah menciptakan jebakan yang menghilangkan seluruh kedaulatan politik dan ekonomi rakyat Palestina.

Mereka direduksi menjadi populasi yang dapat dikendalikan, diatur, dan dinegosiasikan keberadaannya.

Setiap angka statistik yang keluar dari Gaza harus dibaca dengan pemahaman yang mendalam.

Ketika kita membaca bahwa 100 persen penduduk kini mengalami ketidakamanan pangan, itu bukan sekadar catatan tragis, melainkan indikator dari keberhasilan strategi yang kejam.

Ini bukan soal memberi makan orang yang lapar. Ini tentang menghancurkan semangat sebuah bangsa dan memaksa mereka tunduk pada tatanan baru yang ditentukan oleh pendudukan.

Namun, ketahanan rakyat Gaza tetap menyala. Perlawanan yang terus berlangsung, bahkan di bawah blokade dan ancaman kelaparan, telah membuka mata dunia pada kebangkrutan moral tatanan internasional.

Dunia yang lebih memilih “krisis yang terkendali” ketimbang pertanggungjawaban politik. Ini bukan bencana alam. Bukan pula kekacauan akibat negara gagal.

Ini adalah kejahatan yang dilakukan secara terbuka yang disaksikan dengan mata terbuka lebar di bawah bayang-bayang ketidakpedulian global.

Di tengah ketidakadilan ini, masyarakat sipil internasional tidak tinggal diam. Gerakan sosial dan organisasi akar rumput global—termasuk La Via Campesina—terus menyuarakan perlawanan.

Pada bulan September 2024, sejumlah gerakan petani, nelayan, dan masyarakat adat dari seluruh dunia, banyak di antaranya berasal dari wilayah konflik, akan berkumpul dalam Forum Global Nyéléni ke-3 di Sri Lanka.

Di sana, kami akan merumuskan respons kolektif terhadap ketidakpedulian global yang membiarkan penghapusan komunitas secara sistematis.

Dari bawah ke atas, kami berupaya membangun komitmen nyata: bahwa makanan tidak boleh dijadikan senjata, dan kelaparan tidak boleh pernah lagi digunakan sebagai alat perang.

Di seluruh dunia, aksi solidaritas terus bermunculan—dipimpin oleh individu dan gerakan yang menolak tunduk pada ketidakadilan. Mereka menuntut pemerintah mereka untuk bertindak, bukan berpaling.

Foto : TNI kirim 17,8 ton bantuan kemanusiaan ke Gaza via airdrop.

Foto : Bantuan pangan untuk rakyat Gaza dari Indonesia diluncurkan dari pesawat

Presiden Prabowo Subianto melalui TNI kirim 17,8 ton bantuan kemanusiaan ke Gaza via airdrop pada HUT ke-80 RI, sebagai simbol solidaritas dan semangat kemerdekaan. Total bantuan Indonesia capai 800 ton dalam operasi multinasional SPO-2.

“Sejarah akan mencatat apa yang terjadi di Gaza. Tapi sejarah juga akan mencatat siapa yang memilih untuk diam. Keadilan mungkin tertunda, tapi ia akan datang—dan akan bertanya: Siapa yang berbicara, dan siapa yang membiarkan kelaparan digunakan untuk menghancurkan suatu bangsa.” *** GG

Artikel ini telah dibaca 1,438 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Berkah Ramadhan, Kapolres Bolmong Utara Berbagi Takjil di Jalur Trans Sulawesi

26 Februari 2026 - 19:47 WITA

PWI Pusat Hadiri Buka Puasa Bersama Kapolri, Perkuat Komunikasi dan Sinergi Dengan Insan Pers

25 Februari 2026 - 23:06 WITA

Wabup Moh Aditya Pontoh Sangat Peduli Pemberdayaan UMKM

25 Februari 2026 - 20:17 WITA

Bupati Thungari Terima Penghargaan LKPP Level Pro Aktif

25 Februari 2026 - 12:56 WITA

PWI Pusat Buka Puasa Bersama Yatim Piatu, Perkuat Solidaritas dan Kepedulian Sosial

23 Februari 2026 - 23:54 WITA

Pimpinan dan Pansus DPRD Sulut Kawal Persub RT/RW

19 Februari 2026 - 16:41 WITA

Trending di Jakarta