Sitaro.sulutnews.com – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) terus memperkuat langkah percepatan penurunan stunting dengan menghadirkan berbagai inovasi baru. Dua program unggulan. Yakni, Sistem Informasi Pemberian Tablet Tambah Darah untuk Remaja Putri (SIHERO) dan Sekolah Lansia yang resmi diluncurkan dalam Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting yang digelar di Auditorium Pemkab Sitaro pada Selasa, 4/11/2025.
Bupati Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit, dalam sambutannya menegaskan, percepatan penanganan stunting harus berjalan selaras dengan target nasional tahun 2025 yang mematok prevalensi sebesar 18,8 persen. Menurutnya, upaya ini menuntut kerja sama lintas sektor yang solid untuk menjawab berbagai tantangan lokal.
“Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan, tetapi cerminan kualitas SDM di masa depan. Karena itu, konsolidasi antar-sektor menjadi sangat penting agar setiap intervensi tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujar Bupati.
Peluncuran SIHERO menjadi sorotan karena aplikasi ini akan mempermudah pemantauan pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri di sekolah dan puskesmas. Dengan sistem digital tersebut, pemerintah berharap kasus anemia pada remaja dapat ditekan sehingga risiko stunting pada kehamilan usia muda bisa diminimalkan sejak dini.
Selain itu, Sekolah Lansia resmi dibuka di empat kecamatan. Yaitu, Siau Barat, Siau Tengah, Siau Timur, dan Siau Timur Selatan. Program ini difokuskan pada edukasi kesehatan, peningkatan kualitas hidup, serta penguatan peran lansia dalam keluarga, termasuk dalam memberikan pola asuh positif bagi generasi muda.
Dijelaskan juga oleh Bupati, stunting adalah gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan kurangnya stimulasi psikososial pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Dampaknya berlangsung lama dan menentukan kualitas generasi penerus, sehingga penanganannya tidak boleh setengah-setengah,” tegasnya.
Dalam paparannya, ia menyebut target prevalensi stunting di Sulawesi Utara pada 2025 berada di angka 19 persen, sedikit di atas target nasional. Kondisi ini, katanya, menuntut intervensi yang lebih cepat, tepat, dan menyentuh keluarga berisiko secara langsung.
Bupati juga menekankan pentingnya pengendalian kehamilan remaja sebagai bagian dari strategi pencegahan stunting. Edukasi komprehensif bagi remaja menjadi perhatian utama pemerintah daerah.
Pada kesempatan itu, Chyntia turut memberikan apresiasi kepada Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Sitaro yang pada 2024 berhasil meraih peringkat kedua terbaik nasional dalam pelaksanaan 8 Aksi Konvergensi Stunting.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa kerja keras OPD, puskesmas, kader, hingga masyarakat telah membuahkan hasil. Namun tugas kita belum selesai,” ungkapnya.





