Menu

Mode Gelap
Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global Breaking : Guru SMP di Rote Ndao Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Depan Siswa Lain, Rok Korban Sampai Robek!

Adat Budaya · 20 Des 2025 18:42 WITA ·

TIFA DAN CAKALELE, KETIKA MUSIK MENJADI SIMBOL KEBERANIAN


Wulaeng P. Tumimbang Perbesar

Wulaeng P. Tumimbang

Penulis: Wulaeng Pricilia Tumimbang

(Mahasiswi Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan IAKN Manado)

Di Maluku Utara, musik tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai penanda identitas dan simbol keberanian. Hal ini tampak jelas dalam perpaduan antara alat musik Tifa dan tarian Cakalele, yang sejak dahulu melekat dengan semangat kepahlawanan masyarakat Maluku. Perpaduan antara Tifa dan Cakalele menunjukkan bahwa musik dan gerak adalah kesatuan makna.

Bunyi Tifa tidak sekedar mengiringi tarian, tetapi menjadi “suara keberanian” yang menyalakan semangat kolektif. Dalam konteks modern, Cakalele tidak lagi dilakukan untuk perang, melainkan ditampilkan pada upacara adat, penyambutan tamu, dan perayaan budaya sebagai pengingat nilai-nilai kepahlawanan leluhur.

Dengan demikian, Tifa dan Cakalele menjadi bukti bahwa musik tradisional Maluku Utara adalah media pewarisan nilai mengajarkan keberanian, solidaritas, dan kebanggaan akan identitas budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi. Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, tersebar dari Sabang hinggah Merauke.

Setiap daerah menyimpan warisan tradisi yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna dan nilai kehidupan. Salah satu warisan budaya yang kuat akan nilai keberanian dan identitas adalah Tifa dan tarian Cakalele dari Maluku Utara ini. Keduanya menunjukan bagaimana musik dan gerak dapat menjadi simbol keberanian, persatuan, dan semangat juang masyarakat.

(Kata Kunci: Tifa, Musik Iringan, Cakalele, Musik Tradisional, Budaya)

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara dengan keberagaman budaya yang sangat kaya, salah satunya tercermin dalam seni musik dan tari tradisional. Setiap daerah memiliki bentuk ekspresi budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampai nilai-nilai sosial, sejarah, dan filosofi hidup masyarakatnya. Di wilayah Maluku, Tifa dan tarian Cakalele menjadi representasi penting dari identitas budaya yang sarat akan makna keberanian, solidaritas, dan semangat perjuangan. Tifa dan Cakalele tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Keduanya hadir sebagai satu kesatuan yang menggambarkan hubungan erat antara musik, gerak, dan nilai-nilai budaya. Melalui dentuman Tifa dan gerak tarian Cakalele, masyarakat Maluku mengekspresikan sejarah, keberanian, serta jati diri kolektif mereka. Artikel ini bertujuan untuk membahas peran Tifa dan Cakalele sebagai simbol keberanian, baik dalam konteks tradisional maupun dalam kehidupan masyarakat modern.

Metode Penelitian

Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analiitis. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini berfokus pada pemahaman makna, nilai simbolik, dan fungsi sosial budaya tifa dan cakalele sebagai representasi keberanian dalam masyarakat Maluku. Penelitian ini tidak berfokus pada pengukuran angka, melainkan pada penafsiran fenomena budaya berdasarkan konteks sosial dan historisnya.

Objek dan Subjek Penelitian

Objek penelitian dalam kajian ini adalah tifa dan tarian cakalele sebagai bentuk seni tradisional Maluku. Fokus kajian meliputi bentuk, fungsi, serta makna simbolik tifa dan cakalele dalam kehidupan masyarakat.

Subjek penelitian secara konseptual adalah masyarakat pendukung budaya Maluku, khusunya dalam konteks nilai-nilai keberanian yang tercermin dalam praktik seni tradisional tersebut.

Suumber Data

Sumber data dalam penelitian ijin terdiri atas:
Data Primer
Data primer diperoleh melalui pengamatan tidak langsung terhadap pertunjukan tifa dan cakalele yang terdokumentasi dalam bentuk video, foto, dan catatan etnografis yang tersedia dalam sumber akademik dan budaya.
Data Sekunder
Data sekunder diperoleh melalui studi pustaka yang mencakup buku, jurnal ilmiah, laporan penelitian, serta dokumen resmi dari lembaga kebudayaan yang membahas musik tradisional Maluku, tarian cakalele, dan simbilisme seni pertunjukan.

Teknik pengumumpulan data yang dilakukan melalui:
Studi pustaka
Mengkaji literatur yang relevan dengan penelitian, seperti buku, antropologi budaya, seni pertunjukan tradisional, serta artikel ilmiah yang membahsan tentang tifa dan cakalele.
Analisiis dokumen
Mengkaji tertulis dan visual berupa foto, video, dan arsip pertunjukan seni untuk memahami bentuk, fungsi, dan makna simbolik tifa dan cakalele.
Observasi Konseptual
Observasi dilakukan secara tidak langsung melalui sumber dokumentasi untuk mengamati pola ritme tiffa, gerak cakalele, serta hubungan anatara musik dan tari dalam membangun simbol keberanian.

Tifa Sebagai Alat Musik Tradisional dan Simbol Sosial

Tifa merupakan alat musik pukul tradisional yang banyak ditemukan di Maluku Utara dan Papua. Secara fisik, tifa berbentuk tabung memanjang yang terbuat dari kayu, dengan salah satu sisinya dilapisi kulit hewan sebagai membran. Cara memainkannya adalah dipukul menggunakan tangan, menghasilkan bunyi yang kuat dan ritmis. Dalam kehidupan masyarakat Maluku, tifa memiliki fungsi yang sangat luas. Masyarakat Maluku menggunakan tifa sebagai alat komunikasi untuk memanggil masyarakat berkumpul untuk melakukan suatu acara atau kegiatan tertentu, seperti untuk melakukan upacara adat, ritual keagamaan, hingga pertunjukan seni. Selain sebagai alat komunikasi, tifa juga juga digunakan sebagai alat musik dalam sebuah pergelaran tarian, baik tarian dalam rangka upacara adat maupun tarian sebagai hiburan masyarakat. Jenis tarian untuk hiburan masyarakat salah satunya adalah tari maku-maku. Sementara jenis tarian yang merupakan bagian upacara adat diantaranya tari cakalele dan tari lenso yang dipertunjukkan dalam rangka penyambutan bagi tamu kehormatan. Lebih dari sekedar alat musik, tifa memiliki makna simbolik yang mendalam. Dentuman tifa yang tegas dan berulang sering dimaknai sebagai lambang kekuatan, keteguhan, dan keberanian. Irama yang dihasilkan mampu  membangkitkan semangat kolektif dan rasa persatuan, sehingga tifa dipandang sebagai simbol kekuatan sosial dalam masyarakat Maluku.

Cakalele sebagai Representasi Keberanian dan Sejarah Perjuangan

Cakalele adalah tarian tradisional Maluku yang dikenal luas sebagai tarian perang. Tarian ini biasanya dibawakan oleh penari laki-laki dengan mengenakan  pakaian adat serta membawa senjata tradisional seperti parang dan salawaku (perisai). Gerakan cakalele bersifat dinamis, tegas, dan penuh energi, mencerminkan kesiapsiagaan dan keberanian seorang pejuang.

Secara historis, cakalele berakar dari peperangan dan pertahanan wilayah. Tarian ini menjadi bagian dari ritual sebelum atau sesudah perang, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan simbol kesiapan mental serta fisik. Setiap gerakan dalam cakalele memiliki makna tersendiri, seperti kewaspadaan terhadap ancaman, keberanian menghadapi musuh, dan solidaritas antara anggota kelompok.

Dalam perkembangan zaman, fungsi cakalele mengalami pergeseran. Tarian ini tidak lagi dimaknai secara literal sebagai simbol perang, melainkan sebagai bentuk representasi sejarah dan identitas budaya. Cakalele kini sering ditampilkan dalam acara adat, penyambutan tamu kehormatan, dan festival budaya sebagai simbol keberanian, kehormatan, dan kebanggaan masyarakat Maluku.

Perpaduan Tifa dan Cakalele sebagai bahasa Bahasa Budaya

Keberadaan cakalele tidak dapat dipisahkan dari iringan musik tifa. Tifa berperan sebagai pengatur tempo dan pembangun suasana dalam tarian. Irama tifa yang cepat dan mengentak memperkuat ekspresi gerak penari, menciptakan kesan gagah dan berani.

Perpaduan antara tifa dan cakalele menunjukkan bahwa musik dan tari berfungsi sebagai bahasa budaya nonverbal. Tanpa menggunakan kata-kata, keduanya mampu menyampaikan pesan tentang keberanian, disiplin, loyalitas, dan tanggung jawab sosial. Dalam hal ini, seni tradisional menjadi media edukasi budaya yang efektif, terutama dalam mentransmisikan.

Makna Keberanian dalam Konteks Kontemporer

Dalam konteks modern, konsep keberanian mengalami transformasi mengalami transformasi. Keberanian tidak lagi semata-mata diartikan sebagai keberanian fisik dalam peperangan, melainkan juga keberanian moral dan budaya. Keberanian untuk mempertahankan identitas, melestarikan tradisi, serta menghadapi tantangan globalisasi menjadi makna baru yang relevan.

Tifa dan Cakalele menjadi simbol keberanian generasi masa kini dalam menjaga warisan  budaya di tengah arus modernisasi. Melalui pendidikan, penelitian, dan pertunjukan seni, tifa dan cakalele dapat terus hidup dan beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai dasar.

Pelestarian Budaya sebagai Tanggung Jawab Akademik dan Sosial

Pelestarian  tifa dan cakalele tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat Maluku, tetapi juga dunia akademik dan masyarakat luas. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendokumentasikan, meneliti, dan mengkaji seni tradisional sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Dengan memasukan kajian tifa dan cakalele ke dalam diskursus akademik, nilai-nilai keberanian, persatuan, dan identitas budaya dapat dipahami secara lebih mendalam dan kritis. Hal ini juga membantu mencegah terjadinya kepunahan budaya akibat kurangnya regenerasi dan perhatian.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan, dan dapat disimpulkan bahwa tifa dan cakalele merupakan warisan budaya Maluku yang memiliki nilai simbolik yang kuat sebagai representasi keberanian dan identitas masyarakat. Tifa sebagai alat musik tradisional mencerminkan kekuatan, dan persatuan, sementara cakalele sebagai tarian perang merepresentasikan semangat juang, kehormatan, dan solidaritas sosial. Perpaduan keduanya menunjukan bahwa musik dan tari tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampai nilai-nilai budaya.

Dalam konteks modern, tifa dan cakalele tetap relevan sebagai simbol keberanian kultural dalam menjaga dan melestarikan identitas bangsa. Oleh karna itu, pelestarian dan kajian akademik terhadap tifa dan cakalele perlu terus dilakukan agar warisan budaya dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.(***)

 

 

 

Artikel ini telah dibaca 1,944 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dukung Pertambangan Rakyat Lewat Perda RTRW, Ketua Koperasi Batu Api Talawaan Apresiasi Pemerintahan YSK-JVM

25 Februari 2026 - 20:19 WITA

Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kota Manado Berlakukan Penyesuain Dan Perubahan Jam Kerja Selama Bulan Ramadhan 2026

25 Februari 2026 - 13:45 WITA

Henry Walukow Usulkan Gunernur Sulut YSK dan Wakil Gubernur Vicktory Dianugrahi Gelar Bapak Pertambangan Rakyat

24 Februari 2026 - 20:29 WITA

Sulut Miliki Perda RTRW, Rocky Wowor : Penambang Rakyat Terlindungi

24 Februari 2026 - 19:34 WITA

Tendris Bulahari Dorong Ekonomi Pesisir Naik Kelas Lewat HLM Strategis

24 Februari 2026 - 13:00 WITA

Serahkan Dokumen Pemandangan Akhir Fraksi Gerindra, Grcia Oroh : Perda RT/RW “Buku Suci” Pembangunan Sulut

24 Februari 2026 - 06:26 WITA

Trending di Manado