Menu

Mode Gelap
Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global Breaking : Guru SMP di Rote Ndao Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Depan Siswa Lain, Rok Korban Sampai Robek!

Bolmut · 16 Agu 2023 22:23 WITA ·

Pengukuhan Paskibraka Kabupaten Bolaang Mongondow Utara 2023


Pengukuhan Paskibraka Kabupaten Bolaang Mongondow Utara 2023 Perbesar

Bolmut, Sulutnews.com – Bupati Bolaang Mongondow Utara Drs. Hi. Depri Pontoh Mengukuhkan 33 pelajar menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Bolmut Tahun 2023, bertempat di Auditorium Pohohimbunga. Rabu (16/08/2023).

Anggota Paskibraka ini akan menjalankan tugas mengibarkan Bendera Merah Putih pada Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Tanggal 17 Agustus 2023, yang akan di laksanakan di Lapangan Kembar Boroko.

Dalam sambutannya Bupati menyampaikan bahwa Seorang anggota paskibraka, dituntut memiliki semua kemampuan prima dalam melaksanakan tugas. Disamping membutuhkan kecerdasan intelektual, juga harus memiliki kecerdasan emosional dan spritual, termasuk memiliki ketangguhan fisik dalam berlatih dan melaksanakan tugas yang mulia ini yaitu, membawa, menaikkan, dan menurunkan Bendera Merah Putih pada saat upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Melalui kesempatan yang baik ini, saya minta kepada anak-anakku untuk selalu menjaga kondisi fisik dan mental agar tetap prima dalam melaksanakan tugas. Jagalah kesehatan kalian dengan baik, atur jadwal istirahat yang berkualitas. Jaga kekompakan dan kebersamaan dalam melaksanakan tugas, karena kesuksesan bukanlah milik perorangan, tetapi milik adik-adik sekalian sebagai anggota paskibraka.”

Bupati juga mengucapkan Selamat atas terpilihnya adik-adik sekalian sebagai anggota paskibraka kabupaten Bolaang Mongondow Utara tahun 2023 dan Kepada para pelatih, saya mengucapkan terimakasih banyak, atas ketabahan dan kesabaran dalam memberikan latihan dan pembinaan terhadap anak-anak kita ini, sebagai kader dan Putra-Putri terbaik bangsa yang telah terpilih sebagai anggota Paskibraka tingkat Kabupaten Bolmut.

KEPALA Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi menegaskan pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) merupakan program untuk menyiapkan calon pemimpin bangsa berkarakter Pancasila. Hal itu disampaikannya saat rapat koordinasi nasional (Rakornas) Program Paskibraka pada Jumat (10/02/2023).

“Peraturan Presiden Nomor 51/2022 tentang Program Paskibraka memberikan landasan bahwa program Paskibraka sebagai kaderisasi calon pemimpin bangsa berkarakter Pancasila,” kata Yudian di Hotel Tribrata, Jakarta.

Tahun ini, rekrutmen Paskibra mulai tingkat Daerah sampai tingkat Nasional diwajibkan melalui tahapan seleksi program Pendidikan Ideologi Pancasila (PIP).

Hal tersebut sebagaimana diberlakukannya Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2021 dan Peraturan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Pembinaan Ideologi Pancasila pada Generasi Muda Melalui Program Pasukan Pengibar Bendera.

Menurut Deputi Bidang Pengendalian dan Evaluasi BPIP Dr. Rima Agristina, SE., MM BPIP diberikan mandat dan bertanggung jawab atas peraturan tersebut.

“Ia kita (BPIP-red) diberikan mandat oleh Presiden untuk melaksanakan PIP pada tahapan rekrutmen dan seleksi, pemusatan pendidikan dan pelatihan, pengukuhan, serta Duta Pancasila” ucapnya.

Ia menyatakan pemahaman nilai-nilai Pancasila sangat penting pada generasi muda, maka PIP dilaksanakan dalam pembentukan Paskibra mulai tahun 2021.

“Mengingat pentingnya penguatan pemahaman nilai-nilai Pancasila pada generasi muda, maka pembinaan ideologi Pancasila dilaksanakan mulai tahun ini”, tegasnya”, tegasnya.

Apa Itu PASKIBRAKA ?
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 51 tahun 2022 tentang Program Paskibraka, pembentukan Paskibraka tidak disiapkan sebatas untuk menaikkan dan menurunkan bendera pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi menjadi suatu program pengkaderan calon pemimpin bangsa yang berkarakter Pancasila. Sistem pembinaan dalam pemusatan pendidikan dan pelatihan terdiri dari pembelajaran aktif ideologi Pancasila dan pemantapan nilai wawasan kebangsaan, pelatihan yang terdiri dari pelatihan kepemimpinan dan pelatihan baris-berbaris, serta pengasuhan untuk membentuk generasi yang tangguh, mandiri, dan berkarakter Pancasila. Dengan pola pembinaan di atas diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai kebangsaan. Dengan demikian, para Paskibraka siap menjadi calon pemimpin bangsa masa depan yang memiliki jiwa nasionalisme dan berjiwa Pancasila.

Sejarah PASKIBRAKA
Husein Mutahar, pendiri Paskibraka Gagasan Paskibraka lahir pada tahun 1946, pada saat ibu kota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (Laut) Husein Mutahar, untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta.

Pada saat itulah, di benak Mutahar terlintas suatu gagasan bahwa sebaiknya pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air, karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa yang bertugas. Tetapi, karena gagasan itu tidak mungkin terlaksana, maka Mutahar hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (3 putra dan 2 putri) yang berasal dari berbagai daerah dan kebetulan sedang berada di Yogyakarta, salah satunya Siti Dewi Sutan Assin. Lima orang tersebut melambangkan Pancasila.

Sejak itu, sampai tahun 1949, pengibaran bendera di Yogyakarta tetap dilaksanakan dengan cara yang sama. Ketika Ibu kota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950, Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka.

Pengibaran bendera pusaka pada setiap 17 Agustus di Istana Merdeka dilaksanakan oleh Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966. Selama periode itu, para pengibar bendera diambil dari para pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta.
Pada tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil Presiden Soeharto untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka.

Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, dia kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu:
• Pasukan 17 / pengiring (pemandu).
• Pasukan 8 / pembawa bendera (inti).
• Pasukan 45 / pengawal.
Jumlah tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu dengan situasi kondisi yang ada, Mutahar hanya melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka. Rencana semula, untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI) namun tidak dapat dilaksanakan.

Usul lain menggunakan anggota pasukan khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, KKO, dan Brimob) juga tidak mudah. Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi karena mereka bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta. Mulai tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibar bendera pusaka adalah para pemuda utusan provinsi. Tetapi karena belum seluruh provinsi mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh eks-anggota pasukan tahun 1967.

Pada tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan reproduksi Naskah Proklamasi oleh Suharto kepada Gubernur/ Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia. Bendera duplikat (yang terdiri dari 6 carik kain) mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/diturunkan.

Mulai tahun 1969 itu, anggota pengibar bendera pusaka adalah para remaja siswa SLTA se-tanah air Indonesia yang merupakan utusan dari seluruh provinsi di Indonesia, dan tiap provinsi diwakili oleh sepasang remaja putra dan putri. Istilah yang digunakan dari tahun 1967 sampai tahun 1972 masih Pasukan Pengerek Bendera Pusaka.

Baru pada tahun 1973, Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan Paskibraka. PAS berasal dari PASukan, KIB berasal dari KIBar mengandung pengertian pengibar, RA berarti bendeRA dan KA berarti PusaKA. Mulai saat itu, anggota pengibar bendera pusaka disebut Paskibraka.

Turut Hadir, Forkopimda Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Panitera Pengadilan Agama Boroko, Kakan Kemenag Bolmut, Ketua Jejaring Panca Mandala (JPM) Bumi Patriot Bolaang Mongondow Utara/BPIP, Para Asisten Sekda, Staf Ahli Bupati, Staf Khusus Bupati, Pimpinan OPD, Para Pejabat TNI / Polri, Panitia Perayaan HUT Ke 77 Kemerdekaan Republik Indonesia, Para Orang Tua Siswa-siswi Anggota Paskibraka, Serta Para Pelatih dan Anggota Paskibraka Tingkat Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
(**/Tim Redaksi).

Artikel ini telah dibaca 2,483 kali

Baca Lainnya

Refleksi 1 Tahun Kepemimpinan Yulius-Victor, Bolmong Utara Menerima Bantuan Pangan & Pemeliharaan Irigasi

6 Maret 2026 - 00:30 WITA

Tim Safari Ramadhan 1447 Mengakhiri Kunjungan Di Kecamatan Pinogaluman

5 Maret 2026 - 00:37 WITA

Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Penjabat Sangadi Desa Kuala, Kec. Kaidipang

5 Maret 2026 - 00:05 WITA

Hari Ke 9 Safari Ramadhan 1447 H, Pemkab Bolmong Utara Pererat Silaturahmi Dengan Masyarakat Bintauna

28 Februari 2026 - 00:34 WITA

Berkah Ramadhan, Kapolres Bolmong Utara Berbagi Takjil di Jalur Trans Sulawesi

26 Februari 2026 - 19:47 WITA

Wabup Moh Aditya Pontoh Sangat Peduli Pemberdayaan UMKM

25 Februari 2026 - 20:17 WITA

Trending di Bolmut