Menu

Mode Gelap
Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global Breaking : Guru SMP di Rote Ndao Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Depan Siswa Lain, Rok Korban Sampai Robek!

Bolmong · 28 Mar 2025 23:46 WITA ·

Gubernur Sulut Yulius Selvanus dan Istri Ibu Anik Wandriani Saksikan Pawai Ogoh-Ogoh di Bolmong


Foto - Gubernur Sulut Yulius Selvanus dan Istri Ibu Anik Wandriani Saat Saksikan Pawai Ogoh- Ogoh di Bolmong Perbesar

Foto - Gubernur Sulut Yulius Selvanus dan Istri Ibu Anik Wandriani Saat Saksikan Pawai Ogoh- Ogoh di Bolmong

Bolmong, Sulutnews.com –  Gubernur Sulut Yulius Selvanus SE bersama Istri Ibu Anik Wandriani Yulius Sebagai Ketua TP.- PKK dan sejumlah pejabat Pemda Sulut Jumat (28/3) menghadiri acara pelepasan ogoh-ogoh. Di Bolmong.

Tradisi khas Bali ini menjadi bagian dari perayaan menjelang Hari Raya Nyepi yang digelar oleh komunitas Hindu Bali di wilayah tersebut. Kehadiran Gubernur dan rombongab menambah kemeriahan acara yang sarat makna budaya ini.

Pawai ogoh-ogoh, yang diakhiri dengan pembakaran simbolis patung-patung raksasa, bukan sekadar atraksi visual. Dalam budaya Bali, tradisi ini memiliki makna spiritual mendalam sebagai ritual pembersihan diri dan lingkungan dari energi negatif, sekaligus menyambut tahun baru Saka dengan harapan kehidupan yang lebih harmonis. Ribuan warga, baik dari komunitas Hindu Bali maupun masyarakat lokal, turut menyaksikan prosesi yang memadukan seni, tradisi, dan kebersamaan ini.

Foto – Pawai Ogoh- Ogoh Menybu Hari Raya Nyepih

Gubernur Yulius mengatakan ini pertama kali mengenakan udeng, ikat kepala tradisional Bali, yang dikenakan oleh masyarakat setempat sebagai tanda penghormatan. “Jadi merupakan pengalaman pertama saya memakai udeng, padahal saya punya rumah di Denpasar. Suatu kehormatan besar bagi saya dan istri bisa ikut merasakan kehangatan budaya ini,” ujar Gubernur Yulius dengan senyum bangga. Kehadirannya tak hanya menjadi simbol dukungan, tetapi juga cerminan harmoni keberagaman di Sulut

Perjalanan Sejarah

Jejak Sejarah keberadaan komunitas Hindu Bali di Bolaang Mongondow tak lepas dari perjalanan sejarah yang dimulai pada tahun 1963. Saat itu, erupsi dahsyat Gunung Agung di Bali memaksa ribuan warga kehilangan tempat tinggal.

Melalui program transmigrasi pemerintah, sebanyak 1.352 warga Bali—terutama dari wilayah Karangasem, Buleleng, Badung, dan Bangli ditempatkan di lembah Dumoga, Bolaang Mongondow. Dengan tangan kosong, mereka mengubah hutan belantara menjadi lahan pertanian subur dan mendirikan Desa Werdhi Agung sebagai permukiman pertama.

Desa Werdhi Agung kini telah berkembang menjadi pusat komunitas Hindu Bali di Sulawesi Utara. Tradisi leluhur seperti perayaan Galungan, Kuningan, dan Nyepi terus dijaga dengan penuh dedikasi. Pawai ogoh-ogoh, yang menjadi sorotan tahunan, bukan hanya wujud pelestarian budaya, tetapi juga jembatan persaudaraan dengan masyarakat lokal yang mayoritas berbeda agama.
“Kami ingin tradisi ini tetap hidup, sekaligus mempererat tali silaturahmi dengan warga sekitar,” kata salah seorang tokoh komunitas.

Foto – Gubernur Sulut Yulius Selvanus Hadir Dalam Acara Pawai Ogoh- Ogoh Bagian Acara Hari Raya Nyepih.

Keberagaman

Dukungan Pemprov Sulut untuk Keberagaman
Kunjungan Gubernur Yulius dan rombongan ke acara ini menjadi bukti nyata komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dalam mendukung keberagaman budaya. Sulawesi Utara, yang dikenal dengan semboyan “Torang Samua Basudara” (Kita Semua Bersaudara), kembali menunjukkan bahwa perbedaan budaya dan agama justru menjadi kekuatan yang mempersatukan.

Acara pelepasan ogoh-ogoh ini pun menjadi pengingat bahwa warisan budaya, meski jauh dari tanah asalnya, tetap bisa berkembang dan diterima di tengah masyarakat baru. Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah, komunitas Hindu Bali di Bolaang Mongondow optimistis dapat terus melestarikan identitas mereka sembari berkontribusi pada kehidupan sosial di Sulawesi Utara.

Acara Pawai ogoh-ogoh tahun ini pun ditutup dengan sorak sorai warga saat kobaran api melahap patung-patung raksasa, menandakan akhir dari sebuah siklus dan awal dari harapan baru. Sebuah pemandangan yang tak hanya memukau mata, tetapi juga menyentuh hati. (fanny)

Artikel ini telah dibaca 1,269 kali

Baca Lainnya

Merson Calon Ketua PWI Sulut Bergelar Doktor dan Lulusan Lemhanas

19 Maret 2026 - 17:41 WITA

Plt Sekprov Sulut Denny Mangala: Selama Liburan Idul Fitry 1447 H dan Hari Raya Nyepi Pelayanan Publik Milik Pemda Sulut Seperti RSUD Terbuka 24 Jam

18 Maret 2026 - 17:36 WITA

DPRD Sulut Dan Kepsek Mendukung Gubernur Sulut Keluarkan Instruksi Membatasi Pengunaan HP Bagi Siswa Saat Belajar

15 Maret 2026 - 23:37 WITA

Stevanus BAN Liow Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan Bagi Ratusan Pemuda GMIM di Kota Manado

14 Maret 2026 - 13:00 WITA

Kapolres Minahasa Selatan Pimpin Sertijab Kasat Intelkam, Kapolsek Tompasobaru dan Kapolsek Tumpaan  

12 Maret 2026 - 20:33 WITA

Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Perkuat Distribusi LPG 3 Kg di Sulawesi Utara, Tambah 351.120 Tabung

12 Maret 2026 - 18:59 WITA

Trending di Manado