MITRA, Sulutnews.com – Di tengah hiruk pikuk pembangunan dan persaingan daerah, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) baru saja mencatatkan sebuah sejarah inspiratif yang lahir dari sebuah keluarga sederhana. Bukan tentang infrastruktur megah, melainkan tentang ketekunan menuntut ilmu hingga ke jenjang tertinggi. Pasangan suami istri, Pdt. Jenins Boy Mandalele, M.Th dan Dr. Agustince Neti Kula, S.Si., Apt., M.Kes, resmi menyandang gelar Doktor, sebuah prestasi langka yang baru pertama kali dicapai oleh putra-putri terbaik Wioi, Ratahan Timur.
Jika istri lebih dahulu menuntaskan pendidikannya di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) beberapa waktu lalu, maka pada tanggal 12 Maret 2026 menjadi momen istimewa bagi sang suami. Pdt. Boy, sapaan akrabnya, berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian promosi Doktor di Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT). Kebahagiaan pun genap, keluarga kecil ini kini dihiasi dua gelar doktoral.

Perjuangan Seorang Yatim Piatu: Dari Tukang Ojek hingga Bergelar Doktor
Di balik toga kebanggaan itu, tersimpan kisah perjuangan yang mengharu biru. Pdt. Boy bukanlah seorang yang lahir dari keluarga berada. Takdir berkata lain, ia harus hidup tanpa belaian kasih orang tua sejak masih sangat belia.
“Saya tidak punya mama dan papa dalam perjuangan pendidikan ini. Sejak usia 4 bulan, mama saya meninggal. Saat saya berusia 7 tahun, papa saya menyusul,” ujar Pdt. Boy dengan suara bergetar, mengenang masa lalu yang kelam.
Namun, kekurangan tidak pernah menjadi alasan untuk menyerah. Semangatnya membara untuk meraih mimpi. Saat menempuh pendidikan S1, ia bekerja keras sebagai karyawan di sebuah toko sepatu. Melanjutkan S2 di UKIT, profesinya berubah menjadi tukang ojek yang setia mengantarkan penumpang di jalanan Tomohon. Bahkan saat menempuh pendidikan doktoral (S3), ia tak lekang oleh tantangan. Di sela tugas utamanya sebagai pendeta di Jemaat GMIM Moria Towuntu, Kecamatan Pasan, ia turun ke ladang menjadi petani, mengusahakan tanaman nilam, cengkih, dan budidaya ikan mujair, demi membiayai uang kuliah.
“Pekerjaan inti saya adalah sebagai pendeta, tetapi untuk biaya S3, saya harus jadi petani. Tuhan memampukan saya melalui tanah yang digarap,” ungkapnya penuh syukur.

Pilar Kekuatan: Cinta, Dukungan, dan Iman
Di sisi lain, sang istri, Dr. Agustince Neti Kula, yang berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Peneliti di Balitbang Kab. Mitra, juga memiliki kiprah gemilang. Ia tak hanya berhasil di pendidikan, tetapi juga aktif membimbing generasi muda, salah satunya mengantarkan siswa SMA Ratahan meraih prestasi di Olimpiade Peneliti Siswa Indonesia (OPSI).
Baginya, pencapaian ini adalah wujud nyata kebaikan Tuhan. “Tuhan itu baik,” ucapnya singkat namun penuh makna, seraya memuji Sang Pencipta atas kekuatan yang diberikan kepada keluarganya.
Keteladanan dan dukungan dari rekan sejawat pun mengalir. Ketua Wilayah Pasan, Pdt. Katrin Tampingkol, serta Pdt. Mecky Rotinsulu, M.Th yang turut hadir dalam ujian, menyampaikan rasa bangga dan selamat yang tulus atas capaian luar biasa ini.
Warisan untuk Generasi dan Kontribusi bagi Daerah
Kisah Pdt. Dr.Boy dan Dr. Agustince bukan sekadar tentang dua gelar doktor. Ini adalah simbol nyata bahwa keterbatasan ekonomi dan status yatim piatu tidak boleh menjadi penghalang untuk meraih cita-cita tertinggi.
“Saya ingin menjadi contoh bagi semua generasi muda. Manfaatkan waktu, hargai orang tua, dan kuliah dengan sungguh-sungguh. Dan bagi anak-anak yang tidak memiliki orang tua, jangan pernah menyerah! Walau tidak ada orang tua, dengan kemurahan Tuhan, kita tetap bisa meraih cita-cita, bahkan sampai Doktor,” pesan Pdt. Boy dengan penuh semangat.

Keberhasilan keluarga Mandalele-Kula ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kabupaten Minahasa Tenggara. Dalam Indeks Daya Saing Daerah (IDSD), salah satu pilar utamanya adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Pencapaian dua warganya yang menyandang gelar doktor sekaligus dalam satu keluarga merupakan kontribusi nyata yang meningkatkan skor pendidikan dan keterampilan daerah. Hal ini sejalan dengan indikator Keluarga Berkualitas dari BKKBN, yang menempatkan kualitas SDM sebagai fondasi utama.
Keluarga Mandalele-Kula bersama anak Hosiana Majesty Mandalele yang berusia 16 tahun menyaksikan keberhasilan mama dan papa sebagai bukti hidup bahwa pembangunan berkelanjutan tidak hanya tentang angka, tetapi juga tentang semangat, ketekunan, dan cinta yang dirawat dalam sebuah keluarga. Toga itu mungkin berat, namun perjuangan Pdt. Boy dan Dr. Agustin jauh lebih berat, dan itulah yang membuat kisah mereka begitu indah.(Merson)





