Menu

Mode Gelap
Breaking News: Jago Merah Lahap Rumah Mantan Pejabat Pemda Sangihe Pangdam XIII/Merdeka Gelar Coffee Morning Bersama Insan Media Sulut, Sampaikan Konsep Pentahelix Akhirnya, Bupati Sangihe Lakukan Ground Breaking Jalan Lenganeng–Bawongkulu Dihadiri 500 Lebih Ekonom, Pleno ISEI Ke-XXIV Serukan Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global Breaking : Guru SMP di Rote Ndao Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Depan Siswa Lain, Rok Korban Sampai Robek!

Adat Budaya · 6 Feb 2026 11:16 WITA ·

Dakwah Tanpa Mimbar: Cerita Musafir Pakistan yang Menginspirasi


Dakwah Tanpa Mimbar: Cerita Musafir Pakistan yang Menginspirasi Perbesar

Reporter : Dance Henukh

KUPANG, Sulutnews.com — Tahun 1987 mengukir babak baru dalam lembaran sejarah spiritual dan kemanusiaan masyarakat Kupang. Pada bulan suci Ramadan yang penuh berkah itu, seorang musafir dari tanah Pakistan, Haji Malik Mahboob Ahmad, mendarat di kota ini dengan tujuan melanjutkan perjalanan menuju Australia. Namun, takdir menyimpan keajaiban—persinggahan yang seharusnya singkat justru menyebarkan manfaat yang mengalir hingga kini.

Di sebuah masjid yang tidak megah namun penuh keheningan, Haji Malik bertemu dengan Bapak Usman Siddin. Dalam pertemuan itu, terjalin ikatan yang lebih dalam dari darah—Haji Malik kemudian mengangkatnya sebagai ayah sendiri. Kesediaan Pak Usman untuk mengundang sang musafir meninggalkan penginapan dan tinggal di rumahnya bukan sekadar tamasya, melainkan bentuk penghormatan kepada tamu Allah. Ia berniat tulus agar ibadah puasa dan amalan Ramadan Haji Malik dapat dijalani dengan khusyuk, jauh dari hiruk pikuk, dengan pelayanan yang datang dari lubuk hati.

Meskipun rumah Pak Usman sederhana dan dihuni oleh banyak anak-anak, sebuah kamar disediakan khusus sebagai tempat kediaman tamu yang dicintai Allah. Sejak saat itu, suasana rumah yang dulu biasa saja perlahan berubah menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang mencari petunjuk. Kabar tentang musafir Pakistan yang alim, rendah hati, dan penuh kasih sayang menyebar dengan sendirinya, dari satu rumah ke rumah lain, tanpa reklame atau pamflet.

Orang-orang datang dengan berbagai beban dan harapan: ada yang memohon doa untuk kesembuhan, ada yang mencari nasihat dalam menjalani hidup, ada yang berkonsultasi tentang cara berusaha yang benar, hingga mereka yang ingin mempelajari pengobatan herbal dan terapi yang sesuai dengan ajaran agama. Semua diterima dengan lapang dada. Tidak ada biaya yang dikenakan, tidak ada janji yang melebihi batas kemampuan. Haji Malik selalu mengingatkan bahwa dirinya hanya hamba Allah yang lemah, dan segala kebaikan yang terjadi hanyalah limpahan rahmat-Nya, yang datang melalui doa yang ikhlas, ikhtiar yang sungguh-sungguh, dan amal saleh yang sesuai dengan syariat agama.

Salah satu kisah yang masih hangat dikenang adalah perjalanan hidup almarhum Bapak Lakatonde, seorang nelayan yang hampir setahun tak mendapatkan hasil tangkapan dan terjerat dalam utang. Setelah berkonsultasi dengan Haji Malik melalui perantaraan Pak Usman, ia mengikuti nasihat tentang waktu melaut yang tepat, memperbaiki ibadah, serta menjalankan amalan yang diajarkan. Tak butuh waktu lama, hasil tangkapan yang melimpah datang kepadanya. Keesokan harinya, ia kembali dengan wajah penuh syukur, membawa oleh-oleh sebagai bentuk terima kasih yang tulus—bukan karena mengharapkan balasan, melainkan sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada yang Maha Kuasa.

Banyak orang yang merasakan keberkahan serupa: dari pejabat hingga pengusaha, dari masyarakat biasa hingga mereka yang sedang diuji dalam masalah kesehatan dan ekonomi. Rumah Pak Usman pun bukan lagi hanya tempat tinggal, melainkan pusat silaturahmi dan doa yang menghubungkan hati satu sama lain. Rezeki mengalir bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam rasa solidaritas yang kuat antarwarga. Bahkan, beberapa warga asing yang mengalami kesulitan karena masa tinggal mereka habis dibantu dengan tulus, hingga akhirnya mendapatkan tiket untuk kembali ke negara asalnya.

Ketika masa tinggal Haji Malik harus berakhir dan visanya tidak dapat diperpanjang, gelombang dukungan datang dari berbagai lapisan masyarakat. Banyak orang yang bersedia menjadi penjaminnya. Meskipun harus melalui proses yang tidak mudah di kantor imigrasi, termasuk masa penahanan sementara, ia akhirnya diberangkatkan dengan penuh hormat dari Pelabuhan Tenau menuju Jakarta. Bahkan, perjalanan tersebut mendapatkan perhatian khusus dari tokoh-tokoh daerah dan berbagai pihak yang mengenal kebaikan dirinya.

Setelah itu, perjalanan hidup Haji Malik berlanjut dengan menjalankan usaha pembuatan permadani rajutan tangan. Setiap karya yang dihasilkan memiliki nilai spiritual yang tinggi—dibuat dari bahan yang halal dan thayyib, tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya. Permadani tersebut tidak hanya memiliki nilai seni yang indah, tetapi juga menyimpan filosofi dan energi positif yang mendalam. Tak heran, karyanya dipercaya dan dimiliki oleh para pemimpin dunia serta tokoh bangsa.

Enam Presiden Republik Indonesia dari masa ke masa telah bersentuhan dengan karya dan doa beliau—mulai dari Gus Dur, BJ Habibie, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, hingga Prabowo Subianto. Bagi Haji Malik, semua ini bukanlah hasil dari permainan politik atau upaya mencari kedudukan. Ia selalu mengingatkan bahwa kekuasaan sepenuhnya berada di tangan Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ali Imran ayat 26: “Katakanlah: “Wahai Tuhan kami, Engkau yang mempunyai kerajaan; Engkau memberikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki, Engkau meninggikan siapa yang Engkau kehendaki dan merendahkan siapa yang Engkau kehendaki; pada Engkau-lah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Meski sering terhubung dengan berbagai peristiwa penting dalam bangsa, Haji Malik tetap menjaga jarak dari politik praktis. Ia memilih menyebarkan pesan kebaikan dengan cara yang tenang: melalui doa yang dilakukan dalam diam, melalui karya permadani yang penuh makna, dan melalui silaturahmi yang tulus—tanpa pernah mencari panggung atau fasilitas khusus.

Hingga saat ini, hubungan silaturahmi antara keluarga Pak Usman, masyarakat Kupang, dan Haji Malik tetap terjaga dengan erat. Banyak orang yang menyaksikan bahwa bahkan setelah beliau pergi, keberkahan yang dibawanya tetap mengalir dalam kehidupan mereka, tanpa rasa kehilangan yang mendalam. Kisah ini menjadi pengingat abadi bahwa ketulusan hati, penghormatan kepada tamu, dan doa yang ikhlas memiliki kekuatan untuk membawa perubahan besar dalam hidup manusia—bahkan melampaui batas ruang dan waktu.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

Baca Lainnya

SMA Negeri 1 Manado Berakreditasi “A” Siap Terima Siswa ADEM Dari Daerah 3T Tahun 2026, SMK Negeri 1 Terserah Jumlahnya

6 Februari 2026 - 11:42 WITA

MyRepublic Indonesia Resmi Buka Pra-Registrasi Internet FWA: MyRepublic Air

6 Februari 2026 - 11:39 WITA

Taruna Ikrar Kepala BPOM Resmikan Cafe Jamu Indonesia di PIK 2: Dari Warisan Leluhur ke Masa Depan Kesehatan Global

6 Februari 2026 - 11:36 WITA

Libur Tahun Baru Imlek 2577, KAI Divre III Palembang Sediakan 16.008 Tempat Duduk

6 Februari 2026 - 11:32 WITA

Dari Packaging Mewah hingga Undangan Digital, PEPA Hadirkan Solusi Event & Bisnis yang “Seamless”

6 Februari 2026 - 11:26 WITA

Reska Catering Suguhkan Layanan Profesional di Rapim UO Kemhan 2026

6 Februari 2026 - 11:19 WITA

Trending di Bisnis
error: Content is protected !!