Tahuna, Sulutnews.com — Malam kembali gelap di Tahuna. Suara generator terdengar bersahut di gang-gang sempit, sementara linimasa media sosial dipenuhi keluhan warga. “Listrik lagi-lagi padam tanpa pemberitahuan,” tulis seorang ibu rumah tangga di Facebook. Seakan sudah menjadi ritual harian, masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe kini hidup dalam ketidakpastian, lampu menyala sebentar, lalu padam tanpa jadwal.
Janji PT PLN (UP3 Tahuna) yang pernah menyebutkan “tidak akan ada lagi pemadaman bergilir” kini hanya tinggal kata. Bagi warga, janji itu terasa seperti pepesan kosong. Faktanya, pemadaman tanpa jadwal masih menjadi “gaya hidup yang dipaksakan” kenyataan pahit yang harus mereka telan setiap hari.
Pemadaman yang tidak teratur kini telah merambah seluruh aspek kehidupan masyarakat. Pelajar kehilangan waktu belajar, pedagang kecil rugi karena bahan makanan rusak, pekerja kantoran kesulitan menyelesaikan tugas daring, dan pelaku UMKM kehilangan pelanggan.
“Bagaimana mau kerja kalau tiap hari listrik mati tiba-tiba? Kadang pagi, kadang malam, tanpa pemberitahuan,” keluh warga.
Di berbagai grup Facebook lokal, status warga penuh nada kecewa: “Bilang listrik so nda mo mati, tapi nyatanya mati terus!” tulis netizen. Nada gerutu itu kini berubah menjadi seruan agar PLN berhenti memberi janji, dan mulai memberi kepastian.
Paradoks di Balik Gelap: PLN Rugi, Tapi Rakyat Juga Menderita
Ironisnya, di tengah keluhan masyarakat, kondisi keuangan PLN juga tengah sorotan. Laporan resmi PLN tahun 2024 mencatat laba bersih sekitar Rp17,76 triliun, namun beberapa analisis menyebut bahwa secara operasional, PLN justru mengalami tekanan keuangan besar karena oversupply listrik dan biaya pembelian energi yang tinggi.
Beberapa laporan ekonomi menyebutkan, kerugian operasional PLN pada tahun 2024 mencapai Rp44,1 triliun, bahkan versi lain mencatat hingga Rp55 triliun tergantung metode perhitungan. Jika dirata-rata, berarti PLN merugi sekitar Rp120–150 miliar setiap hari.
Jenis Kerugian Estimasi Total Rata-rata Per Hari
2024 Operasional Rp44,1 Triliun ± Rp120,8 Miliar
2024 Versi Kajian Lain Rp55 Triliun ± Rp150,7 Miliar
Sumber: Laporan Keuangan PLN 2024, Kajian Ekonomi Energi Independen. Kerugian besar itu muncul akibat kelebihan kapasitas pembangkit (oversupply) yang tak terserap pasar, kontrak pembelian listrik jangka panjang, dan biaya bahan bakar yang tinggi. Namun, ironinya, di wilayah-wilayah terpencil seperti Sangihe, masyarakat tetap hidup dalam kegelapan — bukan karena kekurangan pasokan nasional, tetapi karena gangguan jaringan lokal dan mesin pembangkit usang.
Dampak Sosial dan Ekonomi: Ketika Gelap Memadamkan Asa
Bagi masyarakat Sangihe, pemadaman bukan sekadar ketidaknyamanan, tapi ancaman nyata bagi ekonomi lokal.
1. Aktifitas perkantoran terbengkalai, gangguan jaringan internet, pekerja yang bergantung pada kebutuhan listrik harus menunda pekerjaan
2. Rumah Tangga: peralatan elektronik cepat rusak akibat tegangan tidak stabil.
3. Pelaku ekonomi merugi harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menghidupkan generator demi usaha tetap buka dan berjualan.
PLN Perlu Transparansi: Jadwal, Alasan, dan Solusi
Kebutuhan paling mendesak saat ini adalah transparansi. PLN UP3 Tahuna harus membuka data penyebab pemadaman dan menyusun jadwal yang jelas. Tanpa itu, masyarakat akan terus merasa dibohongi.
Selain itu, PLN perlu mempercepat:
1. Pemasangan mesin pembangkit baru di wilayah krisis daya.
2. Pemeliharaan rutin jaringan distribusi.
3. Peningkatan sistem informasi publik, agar warga bisa tahu kapan padam dan kapan nyala.
4. Kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk program energi alternatif seperti mikrogrid surya bagi desa-desa terpencil.
Fenomena pemadaman di Sangihe adalah potret kecil dari problem besar energi di Indonesia: ketidakseimbangan antara surplus di atas kertas dan defisit di lapangan. Janji tanpa aksi nyata hanya menambah jurang ketidakpercayaan publik.
Warga Sangihe tidak meminta lebih, hanya kepastian kapan listrik menyala, agar roda ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sosial mereka tak lagi hidup dalam bayang-bayang gelap. (Andy Gansalangi)





