Menu

Mode Gelap
Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau DPD ABPEDNAS Sulut Gelar Rapat Pleno Perdana Bahas Program Kerja dan Tindak Lanjut Kerjasama dengan Kejaksaan

Bisnis · 2 Apr 2026 16:38 WITA ·

Menaker Imbau WFH, Bagaimana Cara Jaga Produktivitas dan Kualitas Layanan Perusahaan?


Menaker Imbau WFH, Bagaimana Cara Jaga Produktivitas dan Kualitas Layanan Perusahaan? Perbesar

Jakarta, 2 April 2026 – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk melaksanakan kerja dari rumah (work from home/WFH) selama satu hari dalam satu minggu. Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pola kerja yang produktif, adaptif, dan berkelanjutan.

“Para pimpinan perusahaan swasta, BUMN, dan BUMD diimbau untuk menerapkan Work From Home (WFH) bagi pekerja/buruh selama satu hari kerja dalam satu minggu sesuai kondisi perusahaan, dengan pengaturan jam kerja yang ditetapkan oleh masing-masing perusahaan,” ujar Menaker pada konferensi pers di Gedung Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Rabu (1/4/2026). 

Menaker juga menegaskan bahwa pelaksanaan WFH tetap harus menjamin hak pekerja.  Upah/gaji dan hak lainnya dibayarkan sesuai ketentuan serta tidak mengurangi cuti tahunan. Di sisi lain, pekerja tetap berkewajiban menjalankan tugasnya, sementara perusahaan perlu memastikan produktivitas dan kualitas layanan tetap terjaga.

Menjaga Produktivitas dan Kualitas Layanan Menjadi Tantangan

Dalam skema kerja WFH, produktivitas menjadi lebih sulit diukur. Ketika karyawan bekerja dari rumah, perusahaan tidak memiliki visibilitas langsung terhadap aktivitas kerja sehari-hari. 

Meeting tetap berlangsung dan laporan tetap dibuat, namun hal tersebut belum tentu mencerminkan hasil kerja yang sebenarnya. Dalam beberapa kasus, aktivitas terlihat tinggi, tetapi progres pekerjaan tidak selalu sebanding.

Tantangan serupa juga terjadi pada kualitas layanan. Tim yang berinteraksi dengan pelanggan, seperti sales dan customer service, tetap menjalankan tugasnya melalui panggilan telepon maupun meeting online

Namun, tanpa sistem yang memadai, perusahaan tidak memiliki gambaran yang utuh mengenai isi dan kualitas percakapan tersebut. Hal ini menyulitkan perusahaan untuk memastikan apakah komunikasi berjalan efektif atau terdapat peluang yang terlewat.

Dalam praktiknya, komunikasi menjadi faktor kunci yang memengaruhi produktivitas dan kualitas layanan. Meskipun sebagian besar koordinasi internal dan interaksi dengan pelanggan kini dilakukan melalui platform digital, tidak semua percakapan terdokumentasi dengan baik atau dapat dianalisis lebih lanjut.

Akibatnya, perusahaan berpotensi kehilangan informasi penting yang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja tim.

MiiTel: AI untuk Visualisasikan dan Monitoring Komunikasi Bisnis

Untuk menjawab tantangan ini, perusahaan dapat mengadopsi solusi berbasis AI seperti MiiTel yang memungkinkan perusahaan memahami apa dan bagaimana komunikasi dilakukan, baik melalui telepon maupun meeting.

Melalui fitur seperti auto recording, transkripsi voice-to-text, AI summary, hingga analisis percakapan, perusahaan dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas terhadap aktivitas komunikasi yang terjadi.

Hal ini membantu menjaga produktivitas tetap stabil sekaligus memastikan kualitas layanan tetap konsisten, meskipun karyawan bekerja dari rumah.

Selain itu, melalui solusi MiiTel Call Center, perusahaan juga dapat melakukan monitoring aktivitas dan performa agen secara real-time.

Aktivitas panggilan dapat dipantau, dianalisis, dan dievaluasi tanpa harus menunggu laporan manual. Dengan visibilitas ini, perusahaan dapat lebih cepat mengidentifikasi kendala di lapangan, menjaga standar layanan, serta melakukan pelatihan secara lebih tepat sasaran.

Pada akhirnya, kebijakan WFH satu hari dalam seminggu bukan hanya soal perubahan lokasi kerja, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan beradaptasi dalam mengelola kinerja dan layanan.

Tanpa sistem yang tepat, WFH berisiko menurunkan efektivitas kerja. Namun, dengan pendekatan berbasis data, WFH justru dapat menjadi momentum untuk meningkatkan cara kerja menjadi lebih terukur dan efisien.

Ingin berkonsultasi tentang kebutuhan bisnis Anda dengan MiiTel? Klik di sini untuk demo gratis!

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Artikel ini telah dibaca 932 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Tingkatkan Keselamatan di Jalan Tol, Jasa Marga Integrasikan Perangkat WIM, RFID Reader dan ANPR ke Sistem BLUe Kemenhub untuk Dukung Zero ODOL 2027

11 Agustus 2026 - 19:49 WITA

Masih Ada Waktu! Dupoin Blog Competition Resmi Diperpanjang

11 Agustus 2026 - 17:49 WITA

Mugen 2026: Hadirkan Model Context Protocol (MCP), RevComm Ciptakan Inovasi Voice Analytics untuk Bisnis

11 Agustus 2026 - 17:24 WITA

ESR dan INA Perluas Kemitraan untuk Pengembangan Logistik Baru di Indonesia

11 Agustus 2026 - 17:22 WITA

Rian D’Masiv hingga Didik Nini Thowok Puji Talenta AICE Got You! Solo

11 Agustus 2026 - 17:00 WITA

K Mall Semarakan Indonesia Shopping Festival 2026 Lewat Kemayoran Reimagined

11 Agustus 2026 - 16:59 WITA

Trending di Bisnis