Kotamobagu, Sulutnews.com – Turnamen Catur BMR ( Bolaang Mongondow Raya ) bukan sekadar ajang adu strategi di atas papan 64 petak, melainkan sebuah kegiatan yang sarat akan filosofi kehidupan, pembangunan karakter, dan peningkatan kapasitas kognitif.
Penyelenggaraan turnamen catur penting dilaksanakan sebagai cermin kehidupan, di mana pemain belajar tentang strategi, disiplin, kesabaran, dan sportivitas. Sabtu (31/01/2026).
Sekretaris Jenderal DPP Partai Hanura, Benny Rhamdani, menutup turnamen catur se Bolaang Mongondow Raya karena permainan catur sering disebut sebagai cermin kehidupan.
“Turnamen memaksa pemain untuk mengambil keputusan berisiko, bertanggung jawab atas langkah yang dipilih, dan menerima konsekuensi (kekalahan atau kemenangan). Ini mengajarkan bahwa setiap langkah dalam hidup membutuhkan visi, misi, dan perhitungan yang matang,” ujarnya.
“Turnamen mengajarkan bahwa kekalahan bukanlah akhir, melainkan pelajaran untuk menjadi lebih kuat. Ini membangun mentalitas pantang menyerah dan ketahanan psikologis (resiliensi).”
Turnamen catur menekankan pada nilai fair play. Filosofinya adalah bertarung habis-habisan dengan pikiran, namun tetap menghormati lawan dengan bersalaman sebelum dan sesudah pertandingan, terlepas dari hasil akhir.
Menurut Ketua Percasi Bolmong Utra dr Jusnan C Mokoginta, MARS, turnament catur se BMR secara rutin untuk mendapatkan para pecatur muda yang memiliki talenta untuk meraih jenjang master, grand master, sampai mengikuti turnamen kejuaraan catur internasional.

“Pecatur muda belia Mohammad Farzin Patadjenu sering dipanggil Mudi Patadjenu, masih duduk di kelas V SDN 2 Kaidipang, telah memiliki rekam jejak juara telah telah mengikuti turnamen catur skala regional dan nasional. Saya sering kelabakan ketika bertanding dengan anak ini dengan pola catur cepat.”
Jusnan Mokoginta menambahkan, Catur adalah “olahraga otak” yang terstruktur. Turnamen meningkatkan konsentrasi, daya ingat, pengenalan pola, dan kemampuan pemecahan masalah (problem solving).
“Turnamen catur, khususnya dengan kontrol waktu (time control), mendidik pemain untuk disiplin, sabar, dan mengelola waktu dengan efisien,” ungkapnya.
Abdul Fatah Patadjenu, SH, orang tua kandung pecatur muda Mudi Patadjenu dalam dialog singkat mengatakan;
“Teringat kutipan dari legenda catur Garry Kasparov yang mengatakan, ‘Catur adalah perang tanpa darah dan diplomasi tanpa kata-kata’. “Hari ini, kita sedang menyelami makna terdalam dari sebuah langkah Satu bidak yang maju dalam diam bisa mengubah nasib seluruh permainan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, catur bukan hanya olahraga otak, tetapi juga cerminan dari karakter bangsa.
Dengan demikian, turnamen catur berfungsi sebagai wadah untuk menanamkan nilai-nilai tersebut, sekaligus menjadi metode dalam mempererat silaturahmi, kebersamaan, dan membangun pemikir-pemikir yang handal di masyarakat. *** GG








