Menu ✖

Mode Gelap
Breaking News : Polnustar Kembali Mewisuda 136 Mahasiswa Ferdinand Gansalangi Resmi Dilantik Menteri Diktisaintek sebagai Direktur Polnustar Periode 2026–2030 BREAKING NEWS : Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Bupati Sitaro Ditahan, Dugaan Korupsi Dana Erupsi Gunung Ruang Rugikan Negara Rp22,7 Miliar Empat Kampung di Tatoareng Krisis Air, Warga Hadapi Ancaman Kemarau

Sangihe · 8 Sep 2026 23:25 WITA ·

Ramai-ramai Warganet Sangihe Buat Tagar “Sangihe Juga Sulut” dan “Sangihe Juga Indonesia”


Ramai-ramai Warganet Sangihe Buat Tagar “Sangihe Juga Sulut” dan “Sangihe Juga Indonesia” Perbesar

Tahuna, Sulutnews.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Awu, Kabupaten Kepulauan Sangihe, sejak 5 September 2026 hingga kini belum juga menunjukkan tanda-tanda berakhir. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran sekaligus kekecewaan masyarakat terhadap lambannya dukungan dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah daerah bersama unsur TNI dan Polri terus berjibaku melakukan upaya pemadaman. Namun, keterbatasan sarana dan kondisi medan yang sulit membuat proses pemadaman berlangsung tidak mudah.

Bahkan, kobaran api dilaporkan terus menjalar ke wilayah Kecamatan Tabukan Utara dengan kondisi api yang semakin membesar.

Minimnya dukungan yang dirasakan masyarakat kemudian memunculkan gerakan di media sosial. Warganet Sangihe ramai-ramai menggunakan tagar #SangiheJugaSulut dan #SangiheJugaIndonesia.

Tagar tersebut menjadi bentuk kekecewaan sekaligus seruan agar pemerintah provinsi dan pusat memberikan perhatian serius terhadap bencana karhutla yang terjadi di Gunung Awu.

Sejumlah warganet bahkan mulai mempertanyakan, apakah Sangihe masih menjadi bagian dari Sulawesi Utara dan Indonesia, mengingat hingga saat ini masyarakat belum melihat adanya bantuan nyata dari pemerintah provinsi maupun pusat untuk menghadapi kebakaran tersebut.

Kekecewaan itu bukan tanpa alasan. Gunung Awu bukan sekadar kawasan hutan, tetapi merupakan bagian penting dari ruang hidup masyarakat Sangihe.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Johanis Pilat, sebelumnya mengakui bahwa kebakaran di kawasan Gunung Awu membutuhkan penanganan dengan sarana yang lebih memadai.

Menurutnya, kondisi medan dan luasnya area yang terbakar membuat pemadaman secara manual sangat sulit dilakukan.

“Untuk pemadaman api di Gunung Awu memang membutuhkan sarana udara, baik pesawat maupun helikopter dengan metode water bombing Kalau hanya mengandalkan pemadaman secara manual, tentu sangat sulit mengatasi kebakaran dengan kondisi seperti ini,” ujar Pilat.

Ia juga menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada informasi mengenai bantuan dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat untuk mendukung proses pemadaman di Gunung Awu.

Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah bersama TNI dan Polri harus mengoptimalkan kemampuan yang ada di lapangan, meskipun dihadapkan pada keterbatasan peralatan dan akses menuju titik-titik api.

Kekhawatiran masyarakat tidak hanya berkaitan dengan meluasnya kebakaran. Gunung Awu memiliki peranan penting terhadap kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah Sangihe.

Terlebih saat ini masyarakat mulai memasuki periode kemarau. Jika kebakaran terus berlangsung dan kawasan hutan di lereng Gunung Awu mengalami kerusakan, masyarakat khawatir kondisi tersebut akan berdampak terhadap sumber-sumber mata air.

Dari kawasan Gunung Awu mengalir sejumlah sungai yang menopang kehidupan masyarakat di berbagai kampung, termasuk wilayah Kecamatan Tahuna, Tahuna Barat, Kendahe dan Tabukan Utara.

Jika kebakaran tidak segera dikendalikan, masyarakat mengkhawatirkan dampak jangka panjang terhadap ketersediaan air bersih.

Selain itu, kebakaran juga berpotensi merusak habitat berbagai satwa liar dan burung serta mengganggu keseimbangan ekosistem hutan Gunung Awu.

Dampaknya juga dapat dirasakan masyarakat yang memiliki perkebunan di sekitar kawasan tersebut. Tanaman seperti pala, cengkih, kelapa serta berbagai tanaman hortikultura berada dalam ancaman apabila api terus meluas.

Masyarakat Sangihe berharap pemerintah provinsi dan pemerintah pusat tidak hanya memberikan perhatian melalui pernyataan, tetapi segera mengambil langkah konkret untuk membantu proses pemadaman.

Kehadiran sarana pemadaman udara dinilai sangat dibutuhkan untuk menjangkau titik-titik api yang sulit diakses melalui jalur darat.

Bagi masyarakat Sangihe, penanganan kebakaran Gunung Awu bukan hanya persoalan memadamkan api, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat, keberlangsungan sumber air, perkebunan, habitat satwa dan kelestarian ekosistem.

Seruan melalui tagar #SangiheJugaSulut dan #SangiheJugaIndonesia pun diharapkan menjadi pengingat bahwa masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia-Filipina yang juga sebagai wilayah kepulauan membutuhkan perhatian dan perlindungan yang sama dalam menghadapi bencana.

Masyarakat kini menunggu tindakan nyata pemerintah provinsi dan pusat sebelum kebakaran Gunung Awu menimbulkan dampak yang lebih luas. (Andy Gansalangi)

Artikel ini telah dibaca 2,009 kali

Baca Lainnya

Wabup TB Hadiri Rakor Pengawasan GWPP Bersama Komisi II DPR RI di Manado

13 Oktober 2026 - 19:17 WITA

Musim Kemarau, Perumda Air Minum Ake Banua Atur Jadwal Pelayanan di Tahuna Timur

7 Oktober 2026 - 17:12 WITA

PMD Sangihe Distribusikan Logistik Pilkades Ke Tatoareng

7 Oktober 2026 - 17:08 WITA

Pemda Sangihe Distribusi Air Bersih ke Pulau Para

7 Oktober 2026 - 11:25 WITA

Aroma Politik Uang di Pilkades Mulai Tercium, PMD Tegaskan Pelaku Hadapi Risiko Diskualifikasi

1 Oktober 2026 - 19:12 WITA

PMD Sangihe Siap Distribusikan Logistik Pilkades, Pengawalan TNI-Polri Disiapkan

1 Oktober 2026 - 17:46 WITA

Trending di Sangihe