Sekolah Adiwiyata di Minsel Sekolah Adiwiyata di Minsel

Sekolah Adiwiyata di Minsel, Lahirkan Anak Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan

Written by  Oct 06, 2021

Minsel, SulutNews.com -- Sekolah Adiwiyata merupakan program pemerintah pusat dari Kementerian Lingkungan Hidup. Program ini diharapkan akan menciptakan warga sekolah yang memiliki pengetahuan, kesadaran dan kepedulian akan pelestarian lingkungan hidup.

Program Adiwiyata di Kabupaten Minsel dimulai sejak tahun 2015, dimana saat itu 4 sekolah berhasil meraih predikat Adiwiyata tingkat Kabupaten. Ada SDN 2 Amurang, SMPN 6 Ranoyapo, SMPN 1 Amurang dan SMAN 1 Motoling.

Dari keempat sekolah ini, nama SDN 2 Amurang berhasil mengharumkan nama Kabupaten Minsel. Sekolah yang dipimpin Kepala Sekolah Anna J. Pangkey, S.Pd ini, di tahun 2015 (tahun pertama program Adiwiyata di Minsel) dianggap paling konsentrasi mengembangkan Sekolah Adiwiyata dan berhasil meraih Adiwiyata tingkat Kabupaten, Adiwiyata tingkat Provinsi dan Adiwiyata tingkat Nasional.

Untuk penilaian dan pembinaan sekolah Adiwiyata di tingkat Kabupaten dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pendidikan. Setelah dinyatakan lolos, sekolah tersebut akan direkomendasikan ke tingkat provinsi. Di tingkat provinsi ada juga tim penilai dan setelah sekolah lolos dan dinyatakan memenuhi syarat sesuai standar penilaian maka sekolah akan direkomendasikan naik ke tingkat nasional.

Di tingkat nasional, yang menjadi tim pembina dan penilai adalah dari Kementerian Lingkungan Hidup. Apabila lolos Adiwiyata Nasional, maka sekolah direkomendasikan ke tingkat paling tinggi di Indonesia, yaitu Adiwiyata Mandiri.

Sekolah di Kabupaten Minahasa Selatan yang sudah memperoleh predikat Adiwiyata Mandiri adalah SDN 2 Amurang di tahun 2017, dimana penilaian yang dilakukan lebih rumit, lebih kompleks dan merupakan hasil penilaian tim yang ada di Kementerian Lingkungan Hidup. SDN 2 Amurang menjadi peraih pertama sekolah Adiwiyata Mandiri SD di Sulawesi utara.

Yang membanggakan saat sekolah meraih predikat Adiwiyata Mandiri adalah tropi dan penghargaan diberikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia. Sementara untuk penghargaan di tingkat Kabupaten diberikan oleh Bupati, tingkat Provinsi oleh Gubernur dan tingkat Nasional oleh Menteri.

Latar Belakang Sekolah Adiwiyata di Kabupaten Minahasa Selatan

Kegiatan program Adiwiyata telah diatur teknis pelaksanaannya berdasarkan peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adiwiyata.

Di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Minahasa Selatan, program kegiatannya yaitu "Peningkatan Edukasi dan Komunikasi Masyarakat di Bidang Lingkungan Hidup" melalui Sekolah Adiwiyata. Dimana pembentukan tim pembina Adiwiyata itu berdasarkan Surat Keputusan Bupati Minahasa Selatan Nomor 337 tahun 2016 serta bertugas untuk mengadakan sosialisasi dan penjaringan.

Untuk penetapan sekolah Adiwiyata di Kabupaten Minahasa Selatan ditetapkan dengan SK Bupati Minahasa Selatan Nomor 498 tahun 2018 dan Instruksi Bupati Minahasa Selatan Nomor 2 tahun 2018 tentang Kewajiban Mengikuti Kegiatan Adiwiyata.

Di pemerintahan Bupati Franky Donny Wongkar, SH, dan Wakil Bupati Pdt. Petra Yani Rembang, M.Th, telah dikeluarkan Instruksi Bupati Minahasa Selatan Nomor 154 tahun 2021 tentang Pelaksanaan Program Adiwiyata.

"Target dari bapak Bupati kita untuk sekolah di Kabupaten Minahasa Selatan minimal 50 persen sudah Adiwiyata. Saya rasa itu cukup ambisius dan luar biasa perhatian pak Bupati kita," ungkap Ferry, ST, Kepala Bidang Penataan, Penaatan dan Peningkatan Kapasitas di Dinas Lingkungan Hidup Minsel, saat ditemui wartawan SulutNews.com di ruang kerjanya, pada Senin (4/10/2021).

Ia mengatakan hal ini menjadi tantangan di bidang yang dipimpinnya untuk mengembangkan sekolah Adiwiyata di Kabupaten Minahasa Selatan dan berharap program ini dapat menjadi perhatian bersama.

Sekolah Adiwiyata di Kabupaten Minahasa Selatan

Sejak dimulai tahun 2015-2018, setidaknya ada 30 sekolah di Kabupaten Minahasa Selatan yang telah dibina Dinas Lingkungan Hidup untuk ikut program Adiwiyata.

Berikut 30 sekolah sejak 2015-2018 (sumber data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Minahasa Selatan):

1. SDN 2 Amurang

2. SMPN 6 Ranoyapo

3. SMPN 1 Amurang

4. SMAN 1 Motoling

5. SD GMIM Bitung

6. SD GMIM Boyong Atas

7. SD GMIM Pondang

8. SDN 3 Amurang

9. SD GMIM Lopana

10. SD Inpres Lopana

11. SDN 1 Amurang

12. SD GMIM Amurang

13. SD GMIM Ranomea

14. SDN 5 Amurang

15. SDN 4 Amurang

16. SMPN 1 Tenga

17. SD Inpres Pondang

18. SD Inpres Amurang

19. SD GMIM Buyungon

20. SDN Ranoketang Tua

21. SD Inpres Tumpaan

22. SD Inpres Rumoong Bawah

23. SD GMIM Lelema

24. SMPN 1 Tumpaan

25. SMPN 1 Ranoyapo

26. SD GMIM Sion Raanan Baru

27. SD Inpres Lelema

28. SD GMIM 1 Tumpaan

29. SD GMIM 2 Tumpaan

30. SD Inpres Kapitu

Pada tahun 2019 telah dilaksanakan pembinaan 24 calon Sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten dan pada tahun 2020 saat akan dilakukan penilaian tidak dapat dilakukan karena Pandemi Covid-19.

Rencana target untuk penjaringan sekolah Adiwiyata Kabupaten di tahun 2021 adalah 24 sekolah.

Untuk tahun 2021 ini ada 4 sekolah di Kabupaten Minahasa Selatan yang lolos ke Adiwiyata tingkat nasional, yakni SMAN 1 Motoling, SMPN 1 Amurang, SD GMIM Lelema dan SD Inpres Tumpaan.

Sedangkan 3 sekolah maju ke tingkat Provinsi, yakni SMPN 1 Ranoyapo, SD Inpres Rumoong Bawah dan SD GMIM 1 Tumpaan.

Pengabdian Yang Tulus Kepala Sekolah

Yang memegang tanggung jawab besar di sekolah Adiwiyata adalah Kepala Sekolah. Kepala Sekolah mau berjuang atau tidak? Kepala Sekolah memiliki keinginan untuk membangun sekolah Adiwiyata atau tidak? Itulah yang menjadi persoalannya.

Keberhasilan memperoleh predikat sebagai sekolah Adiwiyata tidak serta merta diperoleh saat berpartisipasi di tahun pertama.

"Belum tentu sekolah yang baru sekali ikut lalu dapat, ada yang 2 atau 3 kali ikut baru memperoleh predikat sekolah Adiwiyata," jelas Kabid Ferry.

Di kesempatan terpisah Anna Pangkey, Kepsek SDN 2 Amurang yang juga membina calon sekolah Adiwiyata saat ditemui wartawan SulutNews.com di sekolahnya berpendapat bahwa masalah Adiwiyata itu dari hati.

"Saat kita diberi penghargaan, semua lelah terbayarkan. Uang bisa habis, tapi penghargaan itu akan kita bawa selamanya," kata Anna Pangkey.

Menurutnya dalam membangun sekolah Adiwiyata, peran berbagai elemen sekolah termasuk orang tua sangatlah penting.

Adiwiyata Adalah Investasi Lingkungan

Di sekolah Adiwiyata, diupayakan penanaman konsep penguatan pendidikan karakter tentang peduli dan berbudaya lingkungan. Itu juga termasuk literasi, karena ada literasi lingkungan.

"Adiwiyata ini ada penguatan pendidikan karakter didalamnya, ada literasi didalamnya. Jadi Adiwiyata itu penting sekali, karena anak-anak ditanamkan karakter untuk peduli dan berbudaya lingkungan," " ungkap Kepsek Anna.

Kabid Ferry pun berpendapat kalau Adiwiyata ini adalah investasi lingkungan.

"Karena kita akan melahirkan anak-anak peduli terhadap lingkungan," ujar Ferry. 

Menurutnya, lingkungan ini tidak akan jadi kalau cuma berdasarkan regulasi, tanpa menciptakan orang itu sudah sadar. Kalau semua sekolah menerapkan hal yang sama, anak-anak kita memiliki kesadaran peduli terhadap lingkungan. Ini akan menjadi generasi yang luar biasa kedepan.

"Contoh kecil, saat berkunjung ke sekolah Adiwiyata luar biasa kesadaran siswa minimal membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah pun siswa sudah tau," kata Ferry.

Dirinya melihat sekolah Adiwiyata akan lebih asri, sekolah Adiwiyata akan lebih kreatif. Siswa tidak segan-segan untuk sentuh tanah serta siswa sudah dikenalkan berbagai jenis tumbuhan dan fungsinya.

(Tamura)