Rencana Pemindahan Jasad Radja Bolangitang Phillips Pontoh Dan Radja Pade Pontoh Dari Singkil Manado Ke Kompleks Pekuburan Radja-Radja "Milu-Milungo" Bolmut

Written by  Gandhi Goma Sep 21, 2021

Bolmut, Sulutnews.com - Keluarga besar Pontoh-Ponto dalam musyawarah keluarga di Naulas Desa Paku Selatan telah disepakati untuk memindahkan jasad Radja Phillips Pontoh dan Radja Pade dari tempat pemakaman berlokasi di Singkil Manado akan dibawah ke Pekuburan raja-raja di "Milu-Milungo" Desa Langi Kecamatan Bolang-Itang Barat.  Selasa (21/09/2021).

Menurut keterangan wakil keluarga Ibu Wisje Pontoh, persiapan untuk memindahkan jasad kedua raja Bolang-Itang ini telah dikoordinasikan dengan Bupati Bolmut Depri Pontoh dan juga sebagai keluarga, beliau akan turut serta dalam acara ini. Jadwal prosesi pemindahan jasad sesuai rencana akan dilaksanakan pada hari Sabtu (25/09/2021) Jam : 08.00 wita.

"Lokasi makam ke dua raja Bolang-Itang di Singkil sudah tidak jelas, tugu sebagai tanda makam itu sudah dirobohkan karena ada oknum sudah menguasai lokasi itu tanpa sepengetahuan kita sebagai pemilik lahan tersebut." ungkap Wisje Pontoh.

Prosesi pemindahan jasad ini akan dilaksanakan secara adat, dan persyaratan ritual keagamaan dilakukan dengan cara agama Islam, termasuk pemberitahuan kepada Pemda Bolmut beserta Pemerintah Daerah Kotamadia Manado untuk pelaksanaan nanti.

Hari Jumat (23/09/2021) diharapkan kepada keluarga yang ikut prosesi untuk berkumpul di rumah adat Bolang-Itang.

Seperti diketahui bersama Kerajaan Kaidipang Besar memiliki lintasan sejarah yang panjang sebelum kolonialisme Pertugis dan Belanda datang menguasai bumi nusantara.

Sumber referensi dapat dari penulis sejarah Prof. Dr. H.T. Usup dalam bukunya "Dari Mokapog Ke Kaidipang Besar ( Sejarah Kerajaan Mokapog, Bolang-Itang, Kaidipang dan Kaidipang Besar) Terbitan I (100 eks) 1973. Terbitan II (350 eks) 1979.

Kecamatan Bolang-Itang secara administratif adalah satu kerajaan yang berdaulat sejak tanggal 21 November 1793. Maka kalau dihitung, negeri Bolang-Itang bersatu (Bolangitang Barat dan Bolang-Itang Timur) akan berusia 228 pada 21 November tahun 2021.

Radja Willem David Korompotlah yang mengusulkan kepada pemerintah (VOC pada waktu itu) agar Salmon Muda Pontoh diangkat menjadi Radja Kerajaan Bolang-Itang yang pertama. Usul ini diperkuat dengan Surat Permohonan Penghulu Antogia Pontoh kepada Sultan Ternate yang isinya memohon agar putranya  Salmon menggantikan beliau.

Penghulu Antogia Pontoh mengawini Bua (Putri) Dongintaela Manoppo, Putri Sultan Bolaang-Mongondow dan beroleh putra yang terkenal bernama Salmon Muda Pontoh (tahun 1770). Salmon mula-mula memerintah sebagai Penghulu Bolang-Itang (1770-1793) pada masa Radja Willem David Korompot (Radja Kerajaan Kaidipang VIII).

 

Di masa Salmon, negeri dipindahkan lagi lebih ke utara, dari Motingge ke Desa Ollot/Sonuo, sekarang sebagai pusat kerajaan terletak di suatu tempat yang kini tempat berdirinya Mesjid Desa Sonuo.

Peristiwa itu bagi orang Bolang-Itang merupakan satu rakhmat yang besar karena pada saat itu Bolang-Itang yang tadi-tadinya hanya merupakan wilayah tempat kedudukan penghulu ditingkatkan tarafnya menjadi kerajaan, sebab penghulu (di masa itu) hanya memerintah di wilayah lebih kecil, bagian dari kerajaan. Kini penghulu berarti kepala agama (penyelenggara perkawinan).

Perundingan dan persetujuan tentang pendirian Kerajaan Bolang-Itang itu diadakan di Loji Amsterdam Manado (letaknya sekitar Kompleks Pasar '45 sekarang) dengan melalui pertemuan/perundingan segitiga antara Pemerintah VOC (Belanda), Raad XII Kesultanan Ternate dan Radja Willem David Korompot dengan beberapa kesimpulan antara lain mendirikan Kerajaan Bolang-Itang (dipisahkan dari Kerajaan Kaidipang yang radjanya Willem David Korompot) dan selanjutnya terwujud kata sepakat agar antara kedua kerajaan itu (Bolang-Itang dan Kaidipang) tidak boleh berselisih atau bermusuhan dan keduanya harus saling bantu-membantu dalam segala hal. Sesudah persetujuan itu Salmon kembali dari Manado dan singgah di Kotamobagu.

Tahun 1793 beberapa bobato dan para utusan rakyat datang ke Kotamobagu untuk menjemput Salmon Muda Pontoh sebagai raja mereka. Maka berdasarkan persetujuan Raad XII Ternate dan Pemerintah Belanda (VOC) dilantik lah Salmon Muda Pontoh sebagai Radja Kerajaan Bolang-Itang I tanggal 21 November 1793 dan dengan demikian pada tanggal tersebut resmi berdiri Kerajaan Bolang-Itang.

Masa jabatan Salmon sebagai Radja I selama 30 tahun (1793-1823). Pusat kerajaan pada masa itu terletak di Desa Sonuo (sekitar 3 kilometer dari Bolang-Itang. Di sekitar Mesjid Sonuo yang sekarang sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Bolang-Itang yang pertama kali.

Salmon membangun negerinya, membuat kampung, mengatur pemerintahan dan mengajar rakyat cara hidup yang layak, memperluas daerah perkebunan rakyat, sekalipun kita akui bahwa beliau seorang yang tidak dapat dan menulis.

Permaisuri Salmon 2 orang, masing-masing :

Permaisuri pertama, Martha (Marata) berputra Phillips Pontoh (diangkat sebagai Presiden Radja/Radja Muda/Putra Mahkota dan setelah dilantik sebagai Radja II, diresmikan pelantikan beliau sebagai raja di Manado, tetapi tiba-tiba wafat dengan sebab-sebab kurang jelas.

Permaisuri kedua, Filipina Silagondo Jacobus (Putri nan cantik dari Pulau Siau Kepulauan Sangihe-Talaud, Putri Radja Siau Ismail Jacobus (1752-1788) dengan permaisurinya Ester Manoppo (Putri Radja Bolaang Mongondow) berputra Damonti dan Patri (Patri disebut juga Nicholaas Pontoh.

Radja Salmon wafat dalam usia tua/lanjut. Pada saat akan dimakamkan di Bolang-Itang (pekuburan itu sekarang terletak di belakang Gedung Pertemuan Umum Bolang-Itang).

Menurut keterangan- jenazah Salmon ketika diusung ke pekuburan, tiba-tiba... Kilat dan halilintar datang menyambar-nyambar sambung-menyambung, cuaca gelap dan buruk... dan sesudah selesai kemelut itu ternyata jenazah raja dalam usungan itu tidak ada lagi ! Alangkah herannya.

Walau pun begitu upacara pemakaman diteruskan walau secara simbolis saja. Ada pula keterangan lain bahwa pada saat pemakaman tadi-tadinya terang tiba-tiba saja menjadi gelap, kilat, halilintar, guntur dan hujan lebat.

Itulah sebabnya setelah wafat, beliau diabadikan dalam julukan "Ombuina Kinumilato" (Putra Radja atau Radja yang pergi dengan sekejap mata dengan kecepatan seperti kilat; asal katanya "kilato" (kilat) atau pada saat pemakaman tiba-tiba timbul kilat.

Kepergian Radja Salmon takhta kerajaan segera diserahkan kepada putra beliau Daud Pontoh sebagai Radja II. Masa dinas beliau 40 tahun lamanya (1823-1863). Pelantikan Daud menjadi raja dilaksanakan di Kotamobagu/Kotobangon dan sudah dilantik staf kerajaan bobato-bobato) pergi Kotamobagu menjemput beliau.

Dimasa Radja Daud agama Islam telah meluas di kalangan masyarakat yang masuk menyebar dari Gorontalo sekitar tahun 1825.

Radja Daud berpemaisuri 2 orang masing-masing :

Pertama, Nanggio (permaisuri ini adalah putri dari Piantai pada isterinya Linggakoa atau Putri Lingkan dari Kaidipang berputra Jacob (Jacob Pontoh menjadi Radja Kerajaan Siau 1850-1889) dan Israel.

Kedua, Gogat (wanita asal Bolaang-Inobonto) berputra Ayuba, Tukunang, Panjuroro, Baramaeng, dan Zulhaji.

Sedianya Radja Daud sebagai Radja II ini akan digantikan oleh saudaranya Philips Pontoh, sebab Philips Pontoh adalah Presiden Radja, tetapi setelah dilantik di Manado menjadi Radja, tiba-tiba wafat di Singkil Manado Utara secara mendadak dengan sebab kurang jelas. Karena itu beliau diberi gelar sesudah wafat dengan "Ombuina ko Singgilo" (Radja/putra Radja sesudah wafat dimakamkan di Singkil Manado "Singgilo"-Singkil). Walaupun demikian Philips Pontoh dapat dianggap sebagai Radja II (1863) yang tidak memerintah.

Situasi kerajaan menjadi panik setelah mendengar kabar yang mengejutkan itu, maka dengan segera bobato-bobato mengangkat putra Radja Daud Pontoh ialah Israel Pontoh (turunan dari Radja Salmon Muda Pontoh) sebagai Radja Kerajaan Bolang-Itang III dengan masa dinas 17 tahun (1863-1880) yang dilantik Residen Manado pada waktu berkunjung ke Bolang-Itang dan Kaidipang.

Radja Bolang-Itang III Israel Pontoh berpemaisuri Adinimo dan berputra 2 orang, masing-masing Reba Pontoh dan Sombo Pontoh sekitar tahun 1870.

Tahun 1880 Radja Israel Pontoh mangkat. Lalu ditetapkanlah Togupat Pontoh sebagai Radja Kerajaan Bolang-Itang IV dengan masa dinasnya singkat, 8 bulan (tahun 1880).

Di masa Radja Togupat perluasan wilayah Kerajaan Bolang-Itang lebih ke hulu (ke selatan) yang dibarengi dengan pembukaan kampung-kampung untuk perkebunan rakyat. Beliau membuat tempat peristirahatan di suatu tempat yang bernama "Milu-Milungo", suatu tempat yang terletak di Desa Langi sekarang di daerah aliran sungai Bolang-Itang menjadi tempat pemakaman raja-raja.

Penganti Radja Togupat ialah Pade Pontoh yang diangkat sebagai Radja V, hanya bermasa dinas 9 bulan (1881-1882). Pade ialah saudara kandung seayah dari Togupat atau putra Piantai Pontoh dengan isterinya Linggakoa (Putri Lingkan).

Permaisuri Radja Pade yaitu Boki Jamarutu, putri Radja Kaidipang IX dan berputra Adam, Ali dan Sahu serta Susungia; sedangkan istri yang lainnya ialah Fungaraya dan berputra Laimbango. Radja Pade adalah Raja Bolang-Itang yang banyak memiliki budak-budak, apabila berpergian sekitar 50 orang budak harus mendampinginya apalagi kalau beliau berada di Istana.

Radja Pade terkenal sebagai seorang raja yang keras hati, agresif dan agak diktator. Keputusannya pantang untuk dibantah. Tatkala saat menanam padi atau berkebun, rakyat diperintahkan untuk berkebun dan kalau tidak tentu akan dihukumnya.

Setelah selesai panen diperintahkan pula agar rakyat segera kembali ke kampung untuk menjalankan tugas-tugas pembangunan.

Hal ini sulit ditaati oleh rakyat sebab rakyat masih terikat dengan sambilan mereka selain padi. Keputusan beliau yang pantang dibantah itu menyebabkan beliau main hakim sendiri dengan membakar kebun-kebun rakyat, rumah sekaligus isinya yaitu bahan makanan rakyat.

Tindakan itu diketahui oleh Residen Manado melalui Kontorlir di Kotamobagu dan pada tahun 1881 beliau dipanggil ke Manado dan diusut sebagai terdakwa, itupun nanti dipanggil secara kekerasan.

Pada waktu pertemuan dengan Residen di Manado dalam proses pengusutan, beliau mengancam Residen Manado dan menyepak kursi duduk Residen sebagai tanda protes atas semua keputusan.

Akhirnya beliau dipecat dan tidak boleh kembali ke Bolang-Itang. Tindak pemecatan itu sama sekali tidak diterima karena beliau berpendapat bahwa Belanda (Residen) tidak ada kuasa samasekali memecatnya.

Selain itu beliau dipersiapkan untuk menjalani pembuangan. Namun selama menunggu pembuangan dengan tiba-tiba beliau mangkat tahun 1882 di Manado karena terserang penyakit kolera dan dikuburkan pula di Singkil Manado (sekitar kuburan Radja Phillips Pontoh) dan diberi gelar "Ombu Ina ko Munaru" (putra raja/raja yang dimakamkan di Manado, "Monaru" - Manado).

Demikian catatan sejarah singkat ke dua raja Bolang-Itang Phillips Pontoh dan Pade Pontoh dalam lintasan dimensi ruang dan waktu.

Ada pesan moral dari Prof. Dr. H.T. Usup dalam catatan halaman kedua Buku "Dari Mokapog Ke Kaidipang Besar" untuk kita semua.

"Saudara-saudaraku ! Mari kita belajar SEJARAH supaya berlaku jujur."

"Historia Vitas Magistra" (Sejarah adalah guru kehidupan)." (/Gandhi Goma).

Last modified on Tuesday, 21 September 2021 22:52