Sejarah Masuknya Islam Di Kaidipang

Written by  Nov 07, 2022

Kerajaan Kaidipang terbentuk pada tahun 1630 dengan Raja Maoeritz Datoe Binangkal Korompot (1630-1679) sebagai raja pertama

Bolmut, Sulutnews.com - Kecamatan Kaidipang yang berada di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara, ternyata memiliki nilai sejarah di masa lampau.

Camat Kaidipang Mohamad Misaala, S.Sos.MM dalam wawancara singkat akan melaksanakan kunjungan resmi ke Kesultanan Ternate untuk studi banding sejarah leluhurnya membawa masuknya ajaran Agama Islam ke Kerajaan Kaidipang. Minggu (06/11/2022).

Daerah ini merupakan tempat bermukimnya sebuah kerajaan besar pada abad 17, yakni Kerajaan Kaidipang.

Dr. Demicher dalam bukunya Bolaang Mongondow Dosch Nederlandse, menyebutkan nama Kaidipang berasal dari nama kayu yang banyak tumbuh di daerah tersebut yaitu Caidipang Kayoe Doepa.

Sebelum berdirinya Kerajaan Kaidipang, daerah ini terkenal dengan nama Negeri Keydupa.

Negeri ini berada di bawah pimpinan kepala suku bernama Pugu-pugu bergelar Datoe Binangkal.

Tak diketahui pasti, kaitan dan perbedaan penyebutan gelar Datoe Binangkal dengan gelar Datoe Binangkang milik Loloda Mokoagow pada Kerajaan Bolaang Mongondow.

Negeri Keydupa merupakan wilayah yang kaya dengan hasil bumi dan hasil pertaniannya.

Negeri Keydupa sangat lekat dengan budaya Portugis yang terbawa pelaut dan pedagang saat itu.

Datoe Binangkal waktu itu beragama Katolik dan menambahkan nama Maoeritz di depan nama gelarnya.

Ketika kongsi dagang dari Belanda, VOC (1602-1799) mulai melakukan ekspansi ke wilayah Asia, eksistensi Bangsa Portugis perlahan tersingkirkan.

Saat itu, VOC mulai menjalin hubungan dengan sejumlah kerajaan besar Nusantara.

Pada tahun 1630, Pieter van den Broeke melakukan misi lawatan dari Kesultanan Ternate menuju Kerajaan Gowa di Makassar, saat itu memiliki pengaruh kuat di timur nusantara.

Pieter van den Broeke Cs, yang melewati daerah Keydupa dalam perjalanannya menuju Makassar, menyempatkan diri bertemu dengan Maoeritz Datoe Binangkal.

Komunikasi singkat yang terjadi ternyata begitu berkesan. VOC kemudian mengusulkan wilayah Keydupa untuk berganti berbentuk kerajaan.

VOC bahkan mengajak Maoeritz Datoe Binangkal untuk berkunjung ke kerajaan terbesar di Sulawesi, Kerajaan Gowa.

Maoeritz menerima tawaran tersebut, setelah meminta pendapat dan izin dari masyarakat Negeri Keydupa.

Ketika berada di Kerajaan Gowa, Maoeritz Datoe Binangkal mendapat persetujuan dan menjadi raja Kerajaan Kaidipang di hadapan Raja Gowa, Raja I Mangari Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tumengga ri Gaukanna (berkuasa tahun 1593-1639).

Kerajaan Kaidipang resmi berdiri dengan raja bergelar Raja Maoeritz Datoe Binangkal Korompot.

Nama belakang Korompot menurut cerita, berasal dari kata ‘Crown Pet’, sebuah topi kebesaran dari VOC, sebagai penghormatan tertinggi kepada Raja Kaidipang.

Wilayah Kerajaan Kaidipang pada awal berdiri meliputi pesisir pantai utara Sulawesi, mulai dari Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo, hingga Kecamatan Sangtombolang Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara.

Raja Maoeritz Datoe Binangkal Korompot berkuasa kurang lebih selama 50 tahun (1630-1679). Kerajaan Kaidipang terus berkembang hingga awal abad 20.

Dalam periode 3 abad tersebut, Kerajaan Kaidipang terus berkembang dan berada di bawah pimpinan 14 raja turun temurun.

Ketika masa pemerintahan raja ke-8 yaitu Raja Wellem David Korompot (1779-1817), agama Islam masuk ke Kaidipang.

Di depan Masjid Besar Al-Ikhlas, Desa Kuala Utara Kecamatan Kaidipang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) terdapat sumur tua yang sudah berusia ratusan tahun. Sumur ini merupakan salah satu bukti dan jejak sejarah masuknya agama Islam di Kerajaan Kaidipang.

Keberadaan sumur ini membuka tabir sejarah masuknya Agama Islam pada abad 17 Masehi dan kisah-kisah menyertainya yang tidak terlepas keberadaan dari Kerajaan Kaidipang.

Masuknya Agama Islam di wilayah ini tidak terlepas dari peran besar Raja Kaidipang ke 8, yang bernama Wellem David Korompot. Jika telusuri dokumen-dokumen (literatur) yang dijadikan referensi baik yang berbahasa asing (Belanda) maupun Arsip Nasional Republik Indonesia, nama Raja Wellem David Korompot ditulis sebagai Wellem David Cornput.

Raja Wellem David Korompot memerintah kurang lebih 32 tahun (1750 – 1782). Resmi naik tahta pada tanggal 25 Mei 1750 dihadapan Residen Jan Ellias Van Mijlendonk.


Raja Wellem David Korompot menandatangani akte/ Kontrak terakhir di Benteng Oranye Ternate dihadapan Gubernur Jenderal Maluku Alexander Corbone pada tanggal 1 November 1782.
Raja Wellem David Korompot (Cornput) dicatat lembaran dan terdokumentasi dalam sejarah sebagai Raja Kaidipang dan Bolangitang.

Tertulis dalam Silsilah Keluarga Raja Wellem David Korompot selama hidupnya berpermaisurikan :

1. Permaisuri Elisabeth / Joule Boki (Belanda).
2. Permaisuri Deinuli (Deinulio).
3. Permaisuri Vanivulawa Papeo.
4. Permaisuri Vuntinene (Bolu).

Raja Wellem David Korompot Raja Kaidipang yang pertama memeluk Agama Islam dan kemudian diikuti seluruh rakyatnya. Setelah memeluk Islam Raja Wellem David Korompot disebut sebagai Raja WALLADIN.

Diceritakan, dalam satu kesempatan dan urusan tertentu Raja Wellem David Korompot menemui Gubernur Jenderal di Ternate. Ternyata lawatan inilah yang merubah sang Raja secara spiritual dari yang sebelumnya beragama Nasrani sebagai mana para leluhurnya, bahkan Raja Wellem David Korompot hingga ke Sultanan Sulu (Islam) di Philipina Selatan.

Setelah kembali ke Kaidipang menunjuk dua orang tokoh yang oleh Raja Wellem David Korompot dianggap cakap dan pintar untuk berguru. (Dalam istilah orang-orang tua, untuk mengambil Ajaran Agama Islam di Kesultanan Ternate)

Dua tokoh ini bernama MISAALA dan BOLOTA yang juga guru spiritual Sang Raja, ini dibuktikan Makam Raja Wellem David Korompot berdampingan dengan kedua tokoh Misaala dan Bolota yang makam ini disebut Jere Kecil.

Sumur tua tersebut diatas, menjadi saksi bagaimana Raja ke 13 Lui Gongala Korompot (1898 – 1902) tegas memerintahkan rakyatnya menunaikan ibadah Sholat, yang mana Raja Lui Korompot memegang cambuk dan tidak segan mencambuk rakyat jika hanya melewati Masjid disaat waktu Sholat.

Dari air sumur ini jenazah Raja Manopo Antogia/ Mahmud Korompot (1904 – 1910) dimandikan karena pelaksanaan fardhu kifayah terhadap Raja Manopo Antogia dilaksanakan di Masjid Al Ikhlas sekarang ini, tepatnya pada tanggal 7 Februari 1910.

Di lokasi Sumur tua ini menjadi bukti kuat dan oleh Balai Arkeologi telah ditetapkan sebagai Situs Peninggalan Kerajaan Kaidipang. Bahkan dari sumur tua ini sebagai bukti bahwa di lokasi menjadi bukti Masjid tertua di Bolaang Mongondow Utara.

Sumur bersegi 4 berukuran 2 X 2 meter belum mempergunakan semen tapi menggunakan kapur (sumur Kapulo)

Raja Wellem David Korompot kemudian menjadi pemeluk Islam dan berlanjut hingga generasi setelahnya.

Saat raja ke-14, Raja Mahmud Manoppo Korompot Antogia (1908-1910) mangkat pada 7 Februari 1910, Kerajaan Kaidipang mengalami kekosongan pemerintahan.

Kekosongan pimpinan kerajaan ini berlangsung cukup lama, hingga kurang lebih dua tahun (1910-1912).

Dalam masa ini terjadi pergolakan antara beberapa putra mahkota untuk menjadi raja pengganti Raja Mahmud Manoppo Korompot Antogia.

Selama masa dua tahun, roda pemerintahan berada di bawah kendali Jogugu (Panglima) Kerajaan Kaidipang yaitu Mbuingo Papeo.

Melihat pergolakan internal yang berlangsung lama tersebut, Kerajaan Bolaang Itang berencana untuk menggabungkan wilayah dua kerajaan.

Kerajaan Bolaang Itang yang saat itu berada di bawah pimpinan Raja Ram Suit Pontoh, berhasil mengunifikasi dua kerajaan bertetangga tersebut.

Daftar raja raja Kaidipang

1) 1630-1677: Raja Mauritz Datoe Binangkal Korompot dengan permaisuri Tohomiong, puteri Raja Limboto. Raja dan permaisuri masih memeluk agama Kristen Katolik.
2) 1677-1699: Raja Tiaha Korompot, masih memeluk agama Kristen Katolik.
3) 1699-1703: Raja Dodoali Korompot, masih memeluk agama Kristen Katolik.
4) 1709-1735: Raja Philip Korompot, masih memeluk agama Kristen Katolik.
5) 1710-1735: Raja Piantai Korompot, masih memeluk agama Kristen Katolik.
6) 1735-1745: Raja Antogia Korompot, masih memeluk agama Kristen Katolik.
7) 1745-1770: Raja Gongala Korompot, masih memeluk agama Kristen Katolik. Permaisuri bernama Bua Kaeba Manopo Mamonto dari Dumoga.

8) 1770-1817: Raja Wellem David Korompot, memeluk agama Islam dengan nama Waladin Korompot.

9) 1817-1835: Raja Toruru Korompot, telah memeluk agama Islam. Memiliki 2 permaisuri, Ladio dan Mow.
10) 1835-1863: Raja Tiaha Korompot, memiliki 2 permaisuri: Mamongo dan Telehulawa. Permaisuri kedua memiliki seorang Putera bernama Husain Korompot yang menjadi Jogugu di kerajaan Buol.
11) 1863-1866: Raja Moh. Nurdin Korompot; memiliki 2 permaisuri: Telehaji dan Lauko. Raja ini sangat menentang kolonialis belanda dan diasingkan ke pulau Ambon, Batu Merah. Makam raja terbaring di kompleks Masjid Al’Hilal, Ambon, Batu Merah. Keturunannya membawa nama Kaidupa.
12) 1866-1898: Raja Gongala Korompot II, yang mendapat gelar Raja Bintang. Memiliki 4 permaisuri: Sinir, Salimburung, Miihing dan Hembeso.
13) 1898-1908: Raja Lui Korompot. Raja membangun Masjid Jami di desa Kuala.
14) 1908-1910: Raja Mahmud Manopo Antogia Korompot. Raja ke-14 adalah raja terakhir di kerajaan Kaidipang, yang wafat pada tanggal 7 Februari 1910, sehingga kerajaan Kaidipang mengalami kevakuman selama kurang lebih 2 tahun (1910-1912). Atas musyawarah dewan Raja, tokoh adat dan persetujuan keluarga Korompot, disepakati sebagai pelaksana tugas adalah Jogugu kerajaan Kaidipang Mbuingo Papeo.

15) 1910-1912: Mbuingo Rapeo, pejabat sementara karena raja Mahmud Manoppo Korompot tidak setuju penggabungan kerajaan Kaidipang dan Bolaang-Itang. Akibat kekosongan ini, berdasarkan usul Lancong Korompot saudara kandung Mahmud Manoppo Korompot dan dengan persetujuan Residen Manado Van Marle pada tanggal 12 Agustus 1912 berdirilah kerajaan Kaidipang besar dengan raja pertama Ram Suit Pontoh (1912-1950).

Raja Ram Suit Pontoh ini merupakan raja pertama sekaligus terakhir dari kerajaan Kaidipang Besar karena dengan berdirinya Republik Indonesia, maka sistem kerajaan di Bolaang Mongondow menjadi hilang/dihapus.

Info dari Taufik Kaidupa Korompot:
Makam raja Muhammad Nurdin Korompot (Vandis) berada di Negeri Adat Batu Merah Ambon dan terbaring di dalam Kompleks Mesjid Agung An Nur Batu Merah, (salah satu mesjid tertua di kota Ambon). Karena tekanan daripada Belanda Sang Raja Vandis mengubah Marga Korompot menjadi Kaidupa untuk melindungi keluarga dan keturunannya dari kejaran Belanda.

Kerajaan baru berdiri bernama Kerajaan Kaidipang Besar.

Tanggal 26 April 1913, Raja Ram Suit Pontoh menjadi Raja Kaidipang Besar (1913-1950). Namun, masa Kerajaan baru tersebut ternyata tak berlangsung lama.

Raja Ram Suit Pontoh tercatat menjadi raja pertama sekaligus raja terakhir dari Kerajaan Kaidipang Besar.

Pada bulan Juli 1950 terjadi penghapusan Daerah Swapraja di Bolaang Mongondow sekaligus berakhirnya era pemerintahan Raja Ram Suit Pontoh Kerajaan Kaidipang Besar.

Daerah ini kemudian masuk menjadi Kecamatan Kaidipang di bawah kepemerintahan Kabupaten Bolaang Mongondow.

Pada 8 Desember 2006, DPR RI menyetujui pemekaran Kabupaten Bolmong Utara.

Pada tanggal 23 Mei 2007, Kabupaten Bolmong Utara resmi menjadi kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara. Editor : Gandhi Goma.

Sumber :
https://detiksulawesi.com/opini/344-tahun-negeri-kaidipang-1677-2021/

https://newsantara.id/2017/12/04/kaidipang-kerajaan-kaya-yang-disegani-voc/

https://detiksulawesi.com/bolmut/sumur-tua-dan-jejak-islamisasi-di-kaidipang/

http://kpmibmcabangmanado.blogspot.com/2011/12/raja-raja-kerajaan-kaidipang.html

https://manado.tribunnews.com/2015/02/27/peninggalan-rumah-raja-kaidipang-besar-jadi-lokasi-wisata-di-bolmut