Prosesi Adat Monabongo (pensucian) Di Pantai Tanjung Buaya

Written by  Gandhi Goma Jan 01, 2022

Bolmut, Sulutnews.com - Bupati Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) Drs. Depri Pontoh menghadiri acara ritual "Monabongo" atau mensucikan kembali segala bentuk pelanggaran adat-istiadat pada tahun sebelumnya dan menyambut awal tahun 2022 dengan memegang teguh amanah leluhur. Acara prosesi ritual dilaksanakan di Pantai Desa Tanjung Buaya Kecamatan Bolang-Itang Barat Kabupaten Bolmut. Sabtu (01/01/2022).

Dahulu wilayah Limunga sekitar tahun 1400 adalah pusat pertahanan Kerajaan Mokapoq dari serangan bajak laut mindanao. Melahirkan orang-orang yang memiliki kesaktian sebagai panglima perang antara lain Bay Supadili atau dikenal sebagai Abo Ali Pontoh, anak dan keturunannya telah menyebar dalam silsilah asal-usul marga Pontoh berada di Minahasa, Sanger Talaud, Bolmong, dan Paguyaman Gorontalo. Wilayah kekuasaan  sampai di Desa Mokoditek yang dikawal khusus dari orang-orang Sanger Talaud. Mereka memiliki armada kapal laut sehingga dikenal sebagai pasukan di Desa Mokoditek (menakutkan) bagi setiap bajak laut.

Dalam perkembangannya Limunga telah dibagi menjadi Desa Iyok dan Desa Tanjung Buaya Kecamatan Bolang-Itang Barat. Makam raja-raja berada di Desa Iyok. Sering dikunjungi keluarga besar dalam silsilah dari seluruh nusantara'.

Acara ini diawali dengan pembacaan tertib acara ritual adat istiadat motabongo oleh Dra. Enamety Humokor sebagai Kabid Kebudayaan Diknas Bolmut. Kemudian beliau membacakan  pesan moral tersirat dalam bahasa Bolang-Itang, mengingatkan kembali karakter orang Limunga dari sejarah masa lampau tentang keharmonisan, saling menghargai   komunitas masyarakat adat Limunga sebagai cikal bakal  lahirnya para cendikiawan Prof.  Dr. Abas Djenaan, Prof. Dr. H.T Usup, serta silsilah raja-raja di Kerajaan Kaidipang Besar berawal dari Limunga.

TABIATI DOKO LIMUNGA

(SIFAT ORANG LIMUNGA)

--------------------------------------

  • Mokosingo, mohuo sirita, mokolontaingo, bee mopia ginaa (banyak tertawa, banyak bicara, suka ngomel, tapi baik hatinya).
  • Nggap sui-suilo, hungu-hunguto bee mototabiana (walaupun suka mencibir, bermuka masam, tapi saling menyayangi).
  • Ku bibi-bibito, ku undu-undu, ku bobo-bobo mo boli mo goo (yang dijinjing, yang ditenteng, yang dipikul, menjadi ringan).
  • Kidoko limunga mopani, mohambe pikirango, moluaso ginaa (orang limunga pintar, berwawasan luas, berjiwa besar).
  • Dikaa numa ondonga mata soobutako (jangan hanya dipandang sebelah mata).
  • Kaaini oluo ki papa yi Bua (ini ada ayahnya Bua)
  • Lonu-lonutoniko yihusia (sedang mekar pucuknya).
  • Pokojadi moniko sambe momunga (jadikan sampai berbuah/sukses).
  • Kaini oluo ki Adito (Ini ada Adit).
  • Bibitia mosuburu (bibit yang subur).
  • Piara moniko kopia maikaito (peliharalah dengan baik agar mengakar dan tumbuh dengan kokoh).
  • Kaini oluo pindaria pipiyoko (ini ada pantai pipiyok).
  • Poko pia mai, bongu mai (mari perbaiki, mari dibangun).
  • Moboli tambato popasiaha mai (menjadi tempat pesiar)
  • Ota onggomai huaho (orang dari luar).
  • Ki doko oyoko bersatu ! (orang Iyok bersatu).
  • Mokosambu dugongia kuposumulo (mendapatkan tambahan penghasilan).

Ritual prosesi acara motabongo ini diawali pembacaan doa menolak bala dalam bahasa adat Bolang-Itang dibawakan tokoh pemangku adat Wisno Masie dalam arti harafiah bermakna;

"Ya Allah, hindarkanlah kami dari kesulitan ekonomi, musibah, penyakit, kekejian, kemungkaran, bencana peperangan, kesulitan-kesulitan hidup , dan berbagai petaka, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, khususnya dari negeri adat kami ini, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." Aamiin.

Prosesi berikutnya adalah memecahkan buah kelapa dengan parang untuk diambil airnya dituangkan ke baskom berisi irisan bunga melati, bunga cocor bebek, bunga kamboja, bunga doyo oleh Imam Desa Tanjung Buaya Abdul Haris Van Gobel.

Air kelapa melambangkan sumber air kehidupan yang prosesnya mencapai puncak ketinggian melalui proses alami dan tersimpan serta terlindungi dalam wadah serabut, tempurung dan terjaga kesuciannya dari kontaminasi polusi udara.

Selanjutnya wadah berisi air kelapa dan bunga-bungaan menebar aroma harum semerbak dibawah ke tepi laut didahului oleh Bupati Bolmut Depri Pontoh menebarnya ke laut, kemudian oleh Sekda Bolmut Rachmat Pontoh, serta para peserta acara ritual adat ini.

Sambutan Bupati Bolmut Drs Depri Pontoh dalam acara diprakarsai dua kepala desa (sangadi) Desa Tanjung Buaya Sidik Toliu dan Desa Iyok Rafik Lamalaka serta mengucapkan selamat datang kepada  rumpun keluarga dari Limunga. Tradisi monabong dimaknai mendinginkan suasana kebatinan dari gejolak amarah dari hikmah peristiwa masa lalu dan dengan kekuatan doa bersama kepada Tuhan penguasa semesta alam akan mendamaikan batin kita dalam kesucian serta segala puji bagi Allah seru sekalian alam.

"Semoga acara adat istiadat  keagamaan yang bersifat ritual dilaksanakan setiap tahun ini akan mengingatkan kembali pesan leluhur yang akan kita pegang teguh dalam nafas kehidupan masyarakat adat Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yaitu Mopopiana (saling menjaga kebaikan bersama), Motabiana (salin mengasihi) dan Mononandobana (saling mengingatkan)."

Ditambahkannya, dalam renungan awal tahun 2022, marilah kita mengkaji diri kita setiap perbuatan, tindakan kita dalam ucapan, sikap dan perilaku dalam kehidupan bermasyarakat. Saya sebagai kepala daerah telah banyak mengalami ujian keimanan dari hasut dan fitnah namun hal itu saya sudah maafkan. Jika saya keliru dalam mengambil kebijakan, ingatkan saya dalam pesan leluhur untuk saling mengingatkan (mononandobana). Karena saya dalam prosesi menerima gelar adat sungguh berat mengingat sumpah adat jika kita melanggarnya. Doa dan harapan kita bersama untuk menjalani tahun 2022, semoga hikmah setiap peristiwa yang sudah terjadi dapat menjadi koreksi dalam sistem kepemerintahan saya untuk membenahinya.

Acara adat motabongo ini dihadiri isteri Bupati Bolmut Ny. Dra. Ainun Talibo, isteri Sekda Bolmut Ny. Pontoh-Monoarfa, Wakil Rakyat Soeit Pontoh, Staf khusus Bupati Bolmut Reba Pontoh, tokoh adat Wisje Pontoh, Sumarni Pontoh, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat Desa Iyok dan Desa Tanjung Buaya. (/Gandhi Goma)

Last modified on Sunday, 02 January 2022 03:07