Hukum

Hukum (127)

Manado, Sulutnews.com– Tim URC Totosik Polres Tomohon mengamankan FP alias Feki  (30), warga Paslaten Dua, Tomohon Timur, dan RS  alias Randi (28), warga Kamasi, Tomohon Tengah, Sabtu (20/03/2021), sekitar pukul 01.10 WITA.

Pasalnya, kedua pria tersebut diduga membuat keributan sambil menenteng parang, di rumah duka warga Uluindano, Tomohon Selatan, terang Kapolda Sulut Irjen Nana Sudjana, melalui Kabid Humas Kombes Pol Jules Abraham Abast kepada Sulutnews.com (20/03) baru - baru ini.

Dijelaskan Kombes Pol Abast,  kejadian bermula saat  FP bersama beberapa temannya sedang menenggak minuman keras.

FP lalu ditelepon saudaranya, NP, yang memberitahukan bahwa dirinya dianiaya dan dikejar oleh warga Uluindano.

FP kemudian mengambil parang lalu mengajak teman-temannya untuk mendatangi lokasi penganiayaan, seperti yang disampaikan NP.

Tiba di lokasi, FP yang menenteng parang kemudian mendatangi rumah duka, sedangkan teman-temannya menunggu tak jauh dari rumah duka tersebut. Disitulah FP kemudian membuat keributan.

Sontak, warga setempat pun tak terima dengan ulah FP, dan melakukan perlawanan. Sedangkan warga lain menghubungi Tim Totosik Polres Tomohon, ujar Kombes Pol Abast.

Tak berselang lama, tim dipimpin Bripka Yanny Watung tiba di TKP. Tim terlebih dahulu mengamankan RS yang sedang menunggu dan duduk di atas sepeda motor. Setelah itu tim menuju rumah duka, di mana sedang terjadi keributan antara FP dengan warga setempat.

Tim dengan sigap berhasil melerai keributan dan mengamankan FP beserta barang bukti parang.

Informasi diperoleh, sebelumnya NP datang ke rumah duka tersebut untuk mencari seorang pria bernama Nevada. Pasalnya, NP marah dan cemburu kepada Nevada yang sudah menjalin hubungan gelap dengan pacarnya.

Namun NP tidak bertemu dengan Nevada. NP lalu melampiaskan amarahnya dengan menganiaya David dan Yordan yang saat itu berada di lokasi kejadian. Tak hanya itu, NP juga mengeluarkan pisau badik yang dibawanya.

Warga setempat kemudian memberikan perlawanan yang membuat NP melarikan diri, lalu menelepon FP.

“Setelah di amankan, FP dan temannya RS beserta barang bukti sebilah parang kemudian diamankan di Mapolres Tomohon untuk diperiksa lebih lanjut,” urai Kombes Pol Jules Abraham Abast. (Adrian)

Manado, Sulutnews.com – Tim Resmob Polres Bolaang Mongondow Timur (Boltim) berkolaborasi dengan Polres Kotamobagu dan Polres Bolaang Mongondow (Bolmong), berhasil mengamankan HL (53) tersangka pencurian kendaraan bermotor (curanmor), warga Lolayan, Bolmong.

Terungkap, tersangka HL ternyata seorang residivis kasus serupa dan juga pencurian hewan ternak sapi.

Selama 2021 ini, dalam kasus curanmor tersangka sudah beraksi di lima TKP berbeda di wilayah Bolmong Raya.

Kasus ini terungkap setelah salah seorang korban, Yusni Potabuga (48), warga Nuangan Barat, Boltim, melaporkan kejadian yang dialaminya ke Polsek Nuangan.

Korban dalam laporannya menerangkan, pada Sabtu (06/03) sore kehilangan sepeda motor Honda Revo DB 2997 NK warna hitam-hijau saat diparkir di sekitar perkebunan Ratakamiri, Desa Idumun, Kecamatan Nuangan.

Kapolres Boltim AKBP Irham Halid dalam konferensi pers, Sabtu (20/03), mengatakan, tersangka awalnya naik taksi gelap lalu turun di Molobog dan berjalan kaki untuk mencari sepeda motor yang akan dicuri.

Setelah mendapatkan target, tersangka mematahkan kunci setir dan mencabut soket untuk menghidupkan mesin. Selanjutnya tersangka menyembunyikan sepeda motor tersebut di perkebunan Moyat Desa Lolayan.

Tersangka lalu menyuruh anak lelakinya berinisial FL untuk mengambil dan kemudian menjual sepeda motor tersebut.

FL menjual sepeda motor di Desa Mopait, Lolayan, seharga Rp. 3,2 juta. Dari hasil penjualan, FL mendapat upah sebesar Rp. 1 juta. Sedangkan sisanya diambil HL.

Dalam pengembangan, tim gabungan mendapat informasi bahwa pada Senin (15/03) pagi, FL akan menjual sepeda motor Yamaha Vixion hasil curian, disalah satu bengkel di Pobundayan. Tim kemudian mengamankan FL saat hendak bertransaksi.

FL menerangkan, tiga hari kemudian atau Rabu (18/03), ayahnya akan menuju Kotamobagu. Tim kemudian juga mengamankan HL beserta sepeda motor Yamaha Vixion warna putih.

HL pun mengakui telah mencuri sepeda motor Honda Revo di perkebunan Idumun, dan sudah dijual oleh FL di Mopait. Tim selanjutnya menuju Desa Mopait dan berhasil mendapati barang bukti. HL beserta barang bukti kemudian diamankan di Mapolres Boltim.

Terpisah, Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast membenarkan hal tersebut. “Kasus ini masih dikembangkan untuk mengungkap kemungkinan adanya TKP, barang bukti maupun tersangka lainnya,” ujarnya.

Kombes Pol Jules Abraham Abast juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai aksi curanmor. “Parkir pada tempat yang aman dan mudah terpantau, dan gunakan kunci pengaman ganda untuk mencegah terjadinya aksi pencurian,” pungkas Kombes Pol Jules Abraham Abast. (Adrian)

Manado,Sulutnews.com - Tim Penyidik pada Asisten Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara akhirnya menerima pengembalian kerugian keuangan negara dari tersangka Vonnie Anneke Panambunan (VAP) (mantan Bupati Minahasa Utara) dalam perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi Penyimpangan Proyek Pemecah Ombak/Penimbunan Pantai Desa Likupang II pada Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD)  Kabupaten Minahasa Utara Tahun Anggaran 2016, sebesar 4.200.000.000,- (empat milyar dua ratus juta rupiah)

Kepada Sulutnews.com Kamis (18/03/2021) hari ini, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati), A Dita Prawitaningsih mengatakan, VAP resmi ditetapkan tersangka pada Selasa (16/03/2021).

Dari jumlah total kerugian keuangan negara sebesar 6.745.468.182,- (enam milyar tujuh ratus empat puluh lima juta empat ratus enam puluh delapan ribu seratus delapan puluh dua rupiah) ucap Kejati.

"Jadi masih ada sekitar Rp.2 miliar lebih yang harus di pertanggungjawabkan tersangka VAP,” terang Kajati.

Apa lagi pengembalian tersebut merupakan inisiatif sendiri oleh tersangka, yang diserahkan melalui Penasihat Hukum tersangka jelas Kejati.

Lanjut Kejati,  setelah di terima, Uang tersebut disetorkan ke rekening penampungan Kejaksaan Tinggi Sulawesi utara melalui Bank Rakyat Indonesia cabang Kota Manado yang diterima langsung oleh Petugas Tim Kurir Kas Paula Irene Lasabuda dan Teller Anggara Putra Timang

Sedangkan untuk tersangka (VAP) tidak bisa dihadirkan karena sakit, kami sudah cek ke dokternya dan konfirmasi ke  Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto tukas Kejati.

Diketahui untuk Tim penyidik dalam perkara ini terdiri dari Eko Prayitno, S.H., M.H., Reinhard Tololiu, S.H., M.H., Andi Usama Harun, S.H., M.H., Widarto Adi Nugroho, S.H., M.H., Ivan Nusu Parangan, S.H., M.H., Noval Thaher, S.H., Alexander Sulung, S.H., Marianty Lesar, S.H., Stevy S. Tatilu, S.Pd., Christiana O. Dewi, S.H., dan Mitha Ropa, S.H. (Adrian)

Manado, Sulutnews.com- Dua terduga pelaku pemalsuan surat keterangan hasil pemeriksaan rapid test Covid-19 metode antigen terhadap calon penumpang pesawat, Jum’at (12/03/2021), sekitar pukul 18.00 WITA berhasil di ringkus oleh Pokresta Manado.

Kedua Pelaku  yakni I (22) oknum tenaga kesehatan, warga Minahasa Tenggara, dan S (31), oknum karyawan salah satu maskapai penerbangan, warga Manado, ujar Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast, Senin (15/03).

Terungkapnya kasi ini bermula ketika seorang calon penumpang pesawat, A (24), warga Banjarnegara, Jawa Tengah, hendak melakukan perjalanan menuju Jakarta.

A lalu menjalani pemeriksaan rapid test antigen yang dilakukan di kawasan Boulevard Manado, Jum’at pagi, sekitar pukul 10.00 WITA.

Hasil pemeriksaan oleh I selaku petugas laboratorium, A dinyatakan reaktif atau positif. Kemudian S menawarkan kepada A, bisa mengubah hasil menjadi negatif dengan imbalan uang sebesar Rp. 500 ribu.

A,  lalu membayar sesuai nominal tersebut, dan selanjutnya oknum petugas membuatkan surat keterangan hasil pemeriksaan palsu, yang menyatakan hasil pemeriksaan rapid test antigen terhadap A negatif.

Setelah itu A menelepon temannya berinisial U dan memberitahukan hal tersebut. U kemudian melaporkannya kepada Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Sulut.

Pihak Polresta Manado yang juga mendapat informasi tersebut, tak tinggal diam, ungkap Kombes Pol Abast. Pada saat itu Personel Polresta Manado segera mendatangi TKP.

Kemudian mengamankan A, juga kedua terduga pelaku beserta barang bukti berupa surat keterangan hasil pemeriksaan dan test kit, yang selanjutnya dibawa ke Mapolresta untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Lanjut Kombes Pol Abast, terduga pelaku dijerat pasal 263 KUHP dan pasal 93 UU RI Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

 “Kasus ini dalam penanganan dan penyelidikan lebih lanjut oleh Polresta Manado tukas  Kompes Pol Abast . (Adrian)

Minsel,SulutNews.com - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Minahasa Selatan segera melimpahkan kasus perundungan anak dibawah umur, ke pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Minahasa Selatan.

Hal tersebut menyusul ditetapkannya 6 (enam) orang tersangka masing-masing berinisial PJ alias Pingkan (19), YJ alias Yudea (16), SM alias Syeren (16), RS alias Reva (16), NM alias Nadiva dan RE alias Rinsly ( 17). Para tersangka merupakan warga Kecamatan Amurang, Kecamatan Amurang Timur dan Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan.

Diketahui peristiwa perundungan yang berujung pada aksi perkelahian siswi SMP terjadi pada awal tahun 2019 lalu di Desa Lopana, Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan, dimana keenam tersangka mengeroyok korban, Kirsten Milani Lempoy (16). Video pengeroyokan ini pun sempat viral di media sosial.

Akibat dari tindakan kekerasan ini korban, Kirsten Milani Lempoy, warga Desa Lopana, Kecamatan Amurang Timur, mengalami luka dan sempat menjalani perawatan medis di rumah sakit.

 “Saat kejadian, para tersangka dan korban berstatus siswi sekolah menengah. Kasus pengeroyokan terjadi karena selisih paham chatting Facebook. 

Pernah diupayakan diversi atau penyelesaian perkara di luar peradilan pidana dari pihak Bapas, namun pihak keluarga korban meminta untuk tetap meminta dalam proses hukum, ”terang Kasat Reskrim Polres Minsel AKP Rio Gumara, SIK, saat ditemui di ruang kerjanya pada Selasa siang (9/03) / 2021).

Lanjut kebenaran Kasat Reskrim bahwa pihaknya telah menyelesaikan berkas perkara dan akan Ciptanya melimpahkan ke pihak Kejaksaan Negeri.

Berkas perkaranya sudah P21, lengkap. Kendalanya untuk para tersangka saat ini belum lengkap, dimana satu orang lagi masih berada di luar daerah, namun yang berhubungan akan segera kami jemput untuk Ciptanya ditahapduakan ke Kejaksaan, ”tambah Kasat Reskrim.

Kepada para tersangka dikenakan pasal 80 ayat 1 jo psl 76c UU nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Sementara itu, Kapolres Minsel AKBP S. Norman Sitindaon, SIK mengungkapkan bahwa pihaknya sangat menaruh perhatian atas kasus kekerasan anak ini. “Secepatnya akan kami limpahkan ke pihak Kejaksaan,” tukas Kapolres. (Adrian)

Manado,Sulutnews.com - Subdit Dittipiter Reskrimsus Polda Sulawesi Utara berhasil mengungkap penjualan satwa yang dilindungi.

Jumat (06/03/2021) sekitar pukul 16.00 WITA Dittipiter Reskrimsus Polda Sulut berhasil menangkap dua orang tersangka penjual burung yang dilindungi. 

Kasubdit Dittipiter Polda Sulut Kompol Ferry Sitorus mengungkapkan ada dua jenis burung langka yang dijual.

"yakni dua belas ekor burung kring-kring, dan enam ekor burung nuri kalung ungu dan jumlah ada delapan belas ekor,” ungkap Kompol Ferry.

Reskrimsus Polda Sulut menangkap dua orang penjual ilegal burung yang dilindungi tersebut dan telah ditetapkan sebagai tersangka. 

"Salah satu tersangka berhasil ditangkap di Tateli dan di Tuminting".

Dijelaskan Kompes Pol Ferry, burung yang dilindungi ini dijual secara online dengan harga satu ekor burung dua ratus ribu. 

Tersangka terjerat pasal 21 ayat 2A juncto pasal 40 ayat 2 UU no 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam.

Dalam hal ini Polda bekerja sama dengan KSDA untuk penitipan barang bukti.

Kombes Pol Ferry  juga mengimbau kepada masyarakat yang ingin menjual burung, agar mencari tahu terlebih dahulu apakah burung tersebut masuk dalam kategori satwa yang dilindungi atau tidak tukasnya. (Adrian)

Manado,SulutNews.com – Tiga pria warga Toraut, Dumoga, yakni IM (30), RM (23), dan SB, di amankan Tim Resmob Satreskrim Polres Kotamobagu karena didapati membawa senjata tajam (sajam) saat bertransaksi jual beli sepeda motor di Mongkonai, Jum’at (05/03/2021).

Awalnya, tim mendapat informasi dari masyarakat bahwa akan ada transaksi jual beli sepeda motor mencurigakan yang berasal dari Dumoga.

Tim segera menuju lokasi transaksi yaitu di wilayah Kelurahan Mongkonai.

Tiba di TKP, benar saja saat di geledah, tim mendapati ketiganya  membawa satu unit sepeda motor tanpa dilengkapi surat-surat kendaraan.

Dan saat digeledah lebih lanjut, IM dan RM didapati membawa sajam jenis pisau badik. IM, RM, dan SB beserta barang bukti lalu diamankan di Mapolres Kotamobagu.

Sementara itu Kapolres Kotamobagu AKBP Prasetya Sejati melalui Kasubbag Humas AKP Rusdin Zima, membenarkan adanya kejadian tersebut.

Lanjut Kasubbag Humas, tersangka dijerat pasal 2 ayat (1) UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Sajam, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

 “Ketiganya telah ditahan di Mapolres Kotamobagu. Sedangkan terkait jual beli sepeda motor masih didalami penyidik Satreskrim,” tandasnya. (Adrian)

Sulut, Sulutnews.com. - Pengungkapan kasus penipuan dengan modus operandi, mencatut nama Kapolres Tomohon,  menakuti hingga memeras korban yang terjadi di Wilayah hukum Polres Tomohon, Jumat (06/03/2020) kemarin, "yang pelakunya berhasil diringkus oleh Tim URC Totosik, ternyata adalah sejarah pengungkapan  yang  pertama di Polres Tomohon.

Pasalnya,  kasus ini baru berhasil dibongkar, saat di masa kepemimpinan AKBP Bambang Azhari Gatot SIK MH. Yang saat ini diketahui masi aktif memegang tongkat komando di wilayah hukum Polres Tomohon.

Dari data yang berhasil dirangkum oleh Sulutnews.com, modus serupa dengan mencatut nama kapolres tomohon, sebelumnya juga pernah terjadi sebanyak  dua kali di Wilayah Hukum Polres Tomohon. bahkan  modus ini tercatat, nyaris  makan korban.

1. AKBP Monang Simanjuntak.

Aksi penipuan dengan mencatut nama Kapolres Tomohon, AKBP Monang Simanjuntak, sempat menggemparkan Kota Tomohon. Kala itu Pelaku mengincar kalangan pengusaha di Kota Bunga ini dan meminta sejumlah uang dengan dalih untuk mengadakan kegiatan di Polres. Kasus ini bermula ketika pihak Polres Tomohon mendapat laporan bahwa pelaku telah menghubungi seorang pengusaha, Siu Tombokan, warga Tomohon Utara untuk segera mentransfer uang sebesar Rp 60 juta via Bank BRI. Saat itu Monang Simanjuntak menegaskan, dirinya tidak pernah meminta uang kepada siapapun dengan dalih apapun. “Saya tidak pernah melakukan hal itu. Penipuan ini dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk memperkaya diri.

Kasus ini terjadi Pada Bulan Maret Tahun 2017.  (Pelakunya belum terungkap)

 2. AKBP I Ketut Agus Kusmayadi.

Oknum tidak diketahui pernah melakukan modus penipuan dengan mengatasnamakan Kapolres Tomohon, AKBP I Ketut Agus Kusmayadi. nomor +6285322835266 saat itu beraksi di Tomohon melakukan penipuan dengan mencatut nama I Ketut Agus Kusmayadi dengan modus meminta uang pinjaman kepada pengusaha-pengusaha.

Orang nomor satu di Polres Tomohon itu menyampaikan ke relasi-relasi agar jangan tertipu.  Mengenai hal tersebut, Kusmayadi

menegaskan dirinya tidak ada sedikitpun melakukan hal tidak terpuji tersebut.

Kasus ini terjadi pada Tanggal 15 Februari 2018. (Pelakunya belum terungkap)

 3. Kapolres Tomohon AKBP Bambang Ashari Gatot.

Modus operandi pelaku mengaku sebagai orang kepercayaan Kapolres Tomohon, dan menjelaskan pada korban jika tersangka ini merupakan Tim Investigasi Kasus-kasus yang berkantor di Jakarta.  Kedua pelaku diamankan saat berusaha memeras seorang perempuan  (JS)  yang merupakan seorang Bidan di Puskesmas Tara-Tara Satu. Kepada korban pelaku mengaku diperintahkan Kapolres Tomohon untuk melakukan pengawasan di Puskesmas Taratara. Kepentingan mereka untuk membahas permasalahan yang ada di Puskesmas Tara-Tara dan memberikan tawaran kepada korban, korban memberikan uang sebesar Rp 15 Juta, maka kasus yang ada di Puskesmas Tara Tara tidak akan melaporkan. " Korban yang tak mau tertipu kemudian menghubungi Tim URC Totosik dan melaporkan masalah tersebut. Peristiwa Ini terjadi  Pada Jumat 5 Maret 2021, (kasus ini berhasil di ungkap), Ada dua tersangka yang ditangkap oleh Tim URC Totosik  yakni FRT alias Freddy (58) warga jalan Merpati II Blok  BP1/4 Bumi Dirgantara Perma Bekasi Kecamatan Jatiasih dan RM alias Mario (26) warga Desa Paleloan Lingkungan III Tondano Selatan.

Atas keberhasilan tersebut, Kapolres Tomohon AKBP Bambang Ashari Gatot SIK.MH kepada Sulutnews.com Sabtu (06/03/2020) saat di temui, mengimbau kepada seluruh masyarakat Tomohon agar jangan mudah tertipu.

"Jika ada oknum - oknum yang menghubungi masyarakat dan mengatasnamakan Kapolres Tomohon, apa lagi sampai  meminta uang, itu adalah tidak benar, "segera di laporkan tegasnya.

Dia juga mengajak seluruh masyarakat tomohon untuk mendukung pemerintah memututus penularan Covid -19,  dengan tetap menerapkan 5 M dalam setiap aktivitas, yaitu menggunakan masker, Mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas,” imbuhnya. (Adrian)

Tomohon, Sulutnews.com - Catut nama Kapolres Tomohon, AKBP Bambang A Gatot SIK MH, dua tersangka yakni FRT alias Freddy (58) warga jalan Merpati II Blok  BP1/4 Bumi Dirgantara Perma Bekasi Kecamatan Jatiasih dan RM alias Mario (26) warga Desa Paleloan Lingkungan III Tondano Selatan, dengan sigap dan cepat berhasil di lumpuhkan oleh Tim URC Totosik Polres Tomohon, Pada Jumat (05/03-2021) sekitar pukul 15.00 Wita di sekitar Bundaran Patung Opo Dotu Tololiu.

Kapolres Tomohon, AKBP Bambang A Gatot SIK MH saat dikonfirmasi melalui Katim URC Totosik Polres Tomohon, Aipda Yanny Watung membenarkan soal pegungkapan kasus tersebut.

Dijelaskan Watung, Keduanya diamankan saat berusaha memeras seorang perempuan  (JS) yang merupakan seorang Bidan di Puskesmas Tara-Tara Satu.

“Modus operandi keduanya yakni mengaku sebagai orang kepercayaan Kapolres Tomohon, dan menjelaskan pada korban jika tersangka Freddy merupakan Tim Investigasi Kasus-kasus yang berkantor di Jakarta serta Mario merupakan asistennya,” terang Watung.

Kamis (04/03-2021) kepada Sulutnews.com Lanjut Watung, kejadian ini berawal saat keduanya datang di kantor korban dan menyampaikan bahwa dirinya datang bertemu karena diperintahkan Kapolres Tomohon untuk melakukan investigasi di Puskesmas Taratara.

Kepentingan mereka yakni untuk membahas permasalahan yang ada di Puskesmas Tara-Tara dan memberikan tawaran kepada korban, apabila korban memberikan uang sebesar Rp 15 Juta,  maka kasus yang ada di Puskesmas Tara Tara tidak akan dilaporkan.

“Korban yang tak mau tertipu kemudian menghubungi Tim URC Totosik dan melaporkan masalah tersebut, urai Watung.

Setelah kami datang ketempat korban, kami menyuruh korban menghubungi dua tersangka dan menyanggupi akan memberikan uang yang diminta di seputaran tugu Opo Dotu Tololiu,”

Usai korban menghubungi dan terjadi perjanjian ditempat kejadian, kami langsung siaga di sekitar Tugu Bundaran sejak pukul 01.00 wita.

Dari informasi  korban, kedua tersangka menggunakan kendaraan Xenia warna merah DB 1967 FB. Dan benar saja, tak lama  kemudian mobil tersangka muncul dan parkir di sekitar Bundaran Tugu.

 “Korban pun langsung menghampiri kendaraan dan bermaksud akan menyerahkan uang yang diminta.

Saat akan diserahkan, tim kami langsung bergerak dan langsung meringkus tersangka Mario didalam mobil.

Saat itu ternyata tersangka Freddy tak berada di mobil, namun saat diinterogasi, Mario mengaku jika Freddy menunggu di rumah pacarnya di Matani Kaaten.

Kami pun langsung bergerak ke lokasi dan berhasil meringkus Freddy tanpa perlawanan,”  Saat ini kedua pelaku sudah kami serahkan di Polres guna di proses sesuai hukum yang berlaku, tukas Watung.  (Adrian)

Jakarta,Sulutnews.com - Bareskrim Polri resmi menghentikan kasus dugaan penyerangan Laskar FPI kepada polisi di Tol Jakarta-Cikampek KM 50.

Dengan begitu, seluruh penyidikan perkara tersebut dan status tersangka pada enam Laskar FPI tersebut sudah tidak berlaku di mata hukum.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono menjelaskan, penghentian kasus ini sebagaimana tertuang dalam Pasal 109 KUHP karena tersangka sudah meninggal dunia.

"Kasus penyerangan di Tol Jakarta-Cikampek dihentikan. Dengan begitu, penyidikan serta status tersangka sudah gugur," kata Argo dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (4/3/2021).

Disisi lain, terkait dengan kasus ini, kata Argo, aparat kepolisian sudah menerbitkan Laporan Polisi (LP) soal dugaan adanya Unlawful Killing di kasus penyerangan Laskar FPI tersebut.

Saat ini, Argo menyebut, ada tiga polisi dari jajaran Polda Metro Jaya yang sudah berstatus terlapor. Hal itu sebagaimana dengan instruksi Kapolri untuk menjalankan rekomendasi dan temuan dari Komnas HAM soal perkara ini.

"Rekomendasi dan temuan Komnas HAM, kami sudah jalankan. Saat ini masih terus berproses," ujar Argo. (Adrian)