Pilbup Minsel 2020: Begini Penilaian Pengamat Sulut Ferry Liando

Written by  Jan 14, 2020

Minsel-Amurang, Sulutnews.com -- Tahapan pemilihan Bupati (Pilbup) di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) telah dimulai sejak bulan September 2019 kemarin. Dinamika politik pun semakin memanas.

Saat ini, justru yang menjadi topik hangat adalah dua partai besar yang menguasai Kabupaten Minsel, yakni Partai Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Kedua kubu partai yang pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) lalu sempat saling mendukung, kini akan saling beradu di Pilbup Minsel 2020 mendatang.

Pakar politik Sulawesi Utara (Sulut), Dr. Ferry Daud Liando, kepada wartawan Sulutnews.com, Selasa (14/1/2020), menilai, jika benar Golkar dan PDIP akan benar-benar berkompetisi pada Pilbup di Minsel, maka pertarungan akan sengit.

"Memilih antara Michaela Paruntu dengan Franky Wongkar tentu tidak gampang bagi masyarakat. Keduanya punya nama besar dan didukung oleh parpol yang juga besar. Micha (sapaan akrab Michaela Paruntu) melekat nama besar kakaknya Ibu Christiany Paruntu yang saat ini sebagai Bupati Minsel dan ketua Golkar Sulut. Dan Pak Franky melekat nama besar Pak Olly Dondokambey yang juga Gubernur dan ketua PDIP Sulut. Ini pertarungan gajah melawan gajah," kata Ferry Liando.

Kendati demikian, dari sudut pandang penilaian Ferry Liando, untuk kondisi seperti ini pasti akan berdampak pada sikap atau pilihan politik masyarakat. Sebagian besar pemilih akan kesulitan memilih karena kesulitan membedakan keduanya.

"Namun demikian, disatu sisi akan sangat membahayakan keduanya. Jika masyarakat sulit menentukan pilihan dari antara keduanya, bisa saja pilihan masyarakat akan berpindah pada calon alternatif. Sehingga jika ada satu pasang calon dari jalur perseorangan (independen), maka calon dari jalur ini akan sangat membahayakan kedua nama besar tadi," terang Akademisi di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.

Oleh karena itu, menurutnya sepanjang calon independen itu mampu mengkonsolidasikan diri dengan baik maka akan sangat berbahaya. Sepanjang calon perseorangan hanya satu pasang.

"Segmentasi pemilih dari calon ini bisa juga menampung para pemilih yang tidak bersimpati baik pada calon Golkar atau calon dari PDIP," terangnya. Dijelaskan Liando, fenomena ini pernah terjadi di Minahasa Utara pada periode pertama kepimpinan ibu Vonny dan Pak Sompie Singal. Saat itu terjadi pertarungan 2 gajah besar yakni Golkar dan PDIP. Tapi akhirnya yang menang adalah ibu Vonny. Fenomena ini bisa saja terulang di tempat lain.

(TamuraWatung)