SULUTNEWS,KOTAMOBAGU-Dengan Modal ketrampilan yang ia miliki,Robaiya kini sukses dengan usaha Keu Bagea.usaha yang ia mulai sejak 5 tahun yang lalu ini,kini laris dan banyak terpampang di beberapa Toko dan Swalayan.baik di Kotamobagu,Manado dan Gorontalo.

 wanita warga  Kelurahan Motaboi Kecil ini, usaha tersebut mulai digelutinya sejak tahun 2013 lalu,sampai sekarang.Ia mengaku usaha bagea miliknya yang dikenal dengan nama Bagea Kenari ini tidak pernah sepi dari pesanan.apaterlebih memasuki hari raya seperti lebaran.

“Kalau usahanya saya rintis sejak 5 tahun yang lalu,dan alhamdullilah langsung bisa diterima di pasaran,bahkan kini untuk mencukupi permintaan konsumen,saya mempekerjakan karyawan hingga 15 orang,” kata dia saat ditemui awak media baru-baru ini.

Dikatakannya untuk harganya sendiri bervariasi sesuai dengan ukuran mulai dari ukuran yang Rp 10.000 hingga Rp 15,000 perpak.

“Kalau untuk omset tidak menentu,sesuai pesanan kalau hari biasanya bisa  sampai Rp 3- 4 Jutaan, namun jika di momen seperti puasa dan lebaran bisa meningkat 2 kali lipat,” ungkapnya

Meskipun begitu Robaiya masih tetap mengharapkan bantuan dari pemerintah setempat.menurutnya untuk saat ini Ia sangat memerlukan bantuan seperti Plastik Kemasan.” Saya berharap pemerintah bisa memberikan bantuan Plastik Kemasan,” harapnya.

(**)

 

 

 

SULUTNEWS,KOTAMOBAGU-Bazar ramadhan Pasar senggol yang dilaksanakan Pemerintah Kota (Pemkot) di Desa Poyowa Kecil, Kecamatan Kotamobagu Selatan, dimulai. Rabu (6/6/2018), Sekretaris Kota (Sekkot) Adnan Massinae mewakili Penjabat Sementara (Pjs) Walikota Muhammad Mokoginta, membuka kegiatan tersebut secara resmi dengan ditandai pengguntingan pita.

dalam sambutan saat peremian tersebutselaku pemerintah kota kotamobagu sekot mengucapkan terimah kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini sejak awal sehingga pasar senggol ini telaksana sesuai dengan harapan

“ Terima kasih kepada semua pihak terkait baik dari Dinas Perdagangan, pihak kepolisian dan semua stakeholder yang terkait dengan kegiatan. Terima kasih juga kepada masyarakat khususnya Desa Poyowa Kecil yang telah memfasilitasi tempat ini. Mudah-mudahan kegiatan berjalan sesuai yang kita harapkan bersama,” kata  Adnan

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disdagkop dan UKM), Herman Aray, melaporkan  lapak yang disiapkan pada pasar senggol tahun ini sebanyak 404, yang ditempati pedagang lokal dan pedagang yang berasal dari luar daerah. “ Untuk blok I ada 224 lapak, blok II 92, blok III 32 dan blok IV 52,” jelas Aray.

menurutnya ,alasan kenapa dipilihnya Desa Poyowa Kecil sebagai lokasi pasar senggol tahun ini karena berbagai pertimbangan, seperti penyebaran jasa perekonomian agar tak hanya terfokus di pusat kota, mengurai kemacetan serta memperkenalkan pasar tradisional Poyowa Kecil yang berada di sekitar lokasi pasar senggol.

“ Itu adalah alasan pemerinta sehingga pasar senggol tahun ini dilaksanakan di sini. Alhamdulillah, mulai dari awal sampai pembukaan hari ini  berjalan aman dan lancar,” jelasnya.(one)

SULUNEWS,KOTAMOBAGU– Pekot Kota Kotamobagu bersama PT Bank Sulutgo Cabang Kotamobagu, Selasa (05/06/2018), melaksanakan  Launching dan Penandatanganan PKS Aplikasi Kasda Online Versi Dua dalam Rangka Implementasi Gerakan Nasional Non Tunai, di Aula Rumah Dinas (Rudis) Wali Kota.

Sekretaris Daerah Kota Kotamobagu, Adnan Masinae, dalam sambutannya mewakili Wali Kota Kotamobagu, Muhammad Rudi Mokoginta, mengatakan, kegiatan ini merupakan wujud kerjasama yang baik antara Pemerintah Daerah Kota Kotamobagu dengan PT Bank Sulutgo Cabang Kotamobagu, dalam rangka peningkatan layanan kepada nasabah khusunya terkait dalam pelayanan Aplikasi Penerapan Non Tunai dalam transaksi.

Menurutnya, kemajuan teknologi informasi yang sangat cepat saat ini, turut berdampak secara siknifikan terhadap perubahan di berbagai bidang termasuk bidang pengelolaan keuangan.

“Salah satu upaya dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam bidang pengelolaan keuangan saat ini adalah dengan telah dimulainya sistem transaksi secara non tunai, sebagai amanah dari surat edaran Menteri Dalam Negeri RI, nomor 10/1867/SJ tanggal 17 April 2017 tentang Implementasi Transaski Non Tunai pada Pemerintah Kabupaten/Kota se-Indonesia,” jelas Sekda.

Berdasarkan surat edaran Mendagri RI tersebut, maka sistem pembayaran non tunai yaitu proses pemindahan uang dari satu pihak ke pihak lainnya akan mulai menggunakan instrumen berupa alat pembayaran kartu, cek, bilyet giro, dokumen pemindah bukuan, uang elektronik atau sejenisnya, baik digunakan dengan sistem aplikasi maupun secara manual.

“Dengan mulai diberlakukan pelaksanaan transaksi non tunai tahun 2018 ini, maka seluruh penerimaan maupun pengeluaran yang dilakukunan oleh bendahara wajib dilakukan secara non tunai. Sehingga secara tidak langsung inplementasi transaksi non tunai juga dapat ikut mendorong terwujudnya transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah, termasuk tertib dalam administrasi pengelolaan kas, serta semakin efektif dalam setiap pelaksanaan kegiatan transaksi pembayaran dan penerimaan,” jelas Sekda lagi.

Sementara itu, Pimpinan Bank Sulutgo Cabang Kotamobagu, Buchari Mokoagow, mengatakan, pihaknya berharap kerjasama dalam pengelolaan keuangan, menata administrasi Pemerintah Daerah Kota Kotamobagu dengan baik ini akan terus dilakukan antara Pemerintah Daerah Kota Kotamobagu dan Bank Sulutgo Cabang Kotamobagu.

“Kami mengharapkan dukungan dari para pejabat yang terkait dibidang pengelolan keuangan, agar Bank Sulutgo tetap menjadi bagian dalam pengelolaan keuangan Pemerintah Daerah Kota Kotamobagu. Kegiatan hari ini juga adalah bagian dari tata pengelolaan keuangan dengan baik,” singkatnya.(**)

SULUTNEWS,KOTAMOBAGU- Sanggar budaya dan seni yang ada di Kotamobagu memasuki verifikasi tahap 2. Dua Sanggar Budaya dan Seni itu lolos verifikasi tahap pertama sebagai calon penerima Bantuan Sosial (Bansos) Kementerian Sosial tentang potensi kearifan lokal.

 menurut Kepala Dinas Sosial (Dinsos),Sarida Mokoginta,program bantuan untuk kearifan lokal tersebut merupakan bantuan langsung yang berasal dari Kementerian Sosial.

“ Ini dananya berasal dari kementerian sosial sebagai bentuk perharian pemerintah terhadapa seni budaya terkait dengan kearifan lokal  ,” katanya Selasa (05/06/2018).

masi menurut sarida , beberapa waktu lalu pihaknya mengusulkan tiga sanggar budaya dan seni ke Kementerian Sosial untuk mendapatkan bantuan sosial kearifan lokal. Tapi, hanya dua yang memenuhi syarat masuk ke verifikasi tahap selanjutnya.

“ Kemarin yang kita usulkan  tiga sanggar yakni sanggar Mobata Poyowa Besar Dua, Tiara Fitra Mogolaing, dan Tangkudeagan Gogagoman. Nah, yang lolos verifikasi itu hanya dua sanggar. Sanggar Mobata dan sanggar Tiara Fitra,” jelasnya

Ia menambahkan, tim verifikasi dari kementerian sosial sudah dua kali turun ke Kotamobagu untuk memverifikasi sanggar.

“ tim verfak kementerian  sudah turun ke Kotamobagu untuk mengverifikasi sanggar tersebut. Nah, verifikasi ke dua sesuai dengan hasil verifikasi tahap pertama, mereka turun kembali dengan tim yang berbeda untuk mengunjungi langsung ke dua sanggar yang lolos tahap pertama, juga sekaligus mengkroscek kembali kemantapan serta kesiapan sanggar,” jelasnya.

Ia juga mengimbau kepada sanggar penerima bansos, untuk memanfaatkan sebaik-baiknya dana tersebut, pasalnya dalam penggunaan dana tersebut akan ada pertanggungjawabannya.

“Insya Allah menurut dari keterangan tim verifikasi kedua sanggar itu sudah tidak akan berubah. Nah, untuk laporan pertanggungjawaban pelaksanaan itu harus ada sesuai peruntukannya. Karena laporannya akan di sampaikan ke kementerian, agar kedepan kalau ada bantuan seperti itu dari kementerian, Kotamobagu masih bisa bermohon untuk mendapatkan bantuan,” pungkasnya.

(**)

SULUTNEWS,KOTAMOBAGU-Atap Tradisional atau atap rumbia di Kotamobagu masih terbilang laris. Meski banyak bangunan sudah menggunakan Genteng dan seng, namun tidak membuat produk yang berbahan baku gratis ini terseingkirkan.

Buktinya, di kotamobagu masih banyak menggunakannya baik di gubuk kecil di kebun, maupun lesehan pada Caffe -caffe di Kotamobagu.

Neni Pasambuna (65) adalah salah satu pengrajin atap rumbia asal Kelurahan Mongondow kecamatan Kotamobagu Selatan yang sudah 10 tahun lamanya mengenyam atap tradisional ini.

Dalam sehari Neni membuat 15 hingga 20 lembar atap rumbia yang kemudian disusun pada halaman depan rumahnya. Kemudian Ia kembali mencari bahan baku atap rumbia yang mudah ditemukan di sekitar lahan perkebunannya.

“Bahan dasarnya gratis sehingga tidak butuh modal yang besar untuk membuat atap rumbia ini. Apalagi bahan bakunya mudah ditemukan di sekitar kebun kemudian dibawa ke rumah untuk dijadikan atap tradisional,” tutur Neni

Setiap lembarnya, Neni menghagainya 8 Ribu rupiah. Semakin kering semakin kuat dan anti bocor. Makanya, sebagian besar pembeli memilih atap yang sudah kering.

“Banyak pembeli dari kotamobagu, biasanya digunakan untuk gubuk kecil di kebun, tapi lebih banyak lagi digunakan di lesehan-lesehan caffe yang ada di kotamobagu,” ujarnya

Wanita yang sudah 10 tahun mengenyam atap tradisional ini mengaku cukup laris dengan usaha atapnya itu. Kualitas dan kerapian atap tersebut membuat Neni mempuanyai banyak Langganan.

“Alhamdulillah langganannya sudah ada, meski tidak begitu banyak, namun syukurlah mampu memberikan hasil yang baik, mudah-mudahan kedepan bisa berkembang,” tukasnya