SULUTNEWS,KOTAMOBAGU- Produksi sampah dari tahun ke tahun semakin meningkat. Penyebabnya, karena gaya hidup Masyarakat yang semakin tinggi sehingga diperkirakan produksi sampah per orang mencapai 0,5 Kg per hari.
Kepela Bidang Pengolahan Sampah dan Limbah Masril Lapandengan menyebutkan, volume sampah dari hampir 200.000 jiwa di Kotamobagu mencapai 44 Ton per hari. Menurunya, berkembangnya suatu Kota dapat memicu meningkatkan kebutuhan dan gaya hidup masyarakat, sehingga menimbulkan volume sampah yang cukup tinggi.

" Volume sampah di kotamobagu itu cukup tinggi yaitu sekitar 44 ribu per hari Kg atau 44 ton. Dari jumlah itu, diperkirakan rata-rata penduduk kotamobagu memproduksi sampah mencapai 0,5 Kg," sebutnya, Jumat (26/10/2018).
Dia mencontohkan gaya hidup masyarakat yang menyebabkan pembengkakkan volume sampah. Seperti, aktivitas perbelanjaan di pertokoan atau di pasar. Masyarakat, kata Dia, sudah semakin pragmatis melakukan aktivitas seperti itu yang akhirnya menimbulkan adanya sampah yang berlebihan.


" Nah, dari situlah sumber-sumber sampah berasal. Misalnya, saat warga berbelanja di pasar, mereka kan supaya lebih simple bisa membawa tempat atau keranjang belanja dari rumah, sehingga tidak lagi membeli tas plastik yang kemudian menjadikan itu sebagai sampah, itulah yang disebut gaya hidup masyarakat semakin kesana semakin pragmatis," terangnya
Untuk menekan itu, Pemerintah saat ini sedang dalam penyusunan Kebijakan Strategis Daerah (Jakstrada). Dimana kebijakan tersebut untuk mengurangi sampah rumah tangga dan sejenis sampah rumah tangga. 


"Jadi ini masalah pengurangan sampah sebanyak 30 persen dan 70 persennya penanganan. Jadi bagaimana sampah dari 100 persen itu bisa berkurang 30 persen. Nah, caranya itu membudayakan masyarakat dengan mendaur ulang sampah yang masih bermanfaat dan bisa bernilai ekonomis. Itu program kagi sampai dengan 2025," tutup Masri (ONE)

SULUTNEWS,KOTAMOBAGU -Tanpa batasan usia, siapa pun bisa mengkreasikan tanah liat menjadi sebuah benda kerajinan atau Gerabah. Salah satunya Megawati Nading  warga  Kelurahan Molinow Kecamatan Kotamobagu Barat yang kurang lebih 15 tahun menggeluti profesi kerajinan Gerabah .

Menurut Megawati, keahlian itu didapatkannya dari sang ibunda yang merupakan salah satu perintis kerajinan gerabah. Ada beberapa jenis kerajinan yang Ia bikin seperti, pot bunga, tempar sagu dan lain lain.

" Sehari itu bisa bikin 5 hingga 10 buah Gerabah, itu dibuat sesuai pesanan dari pelanggan, biasanya dimasukan lagi ke pasar-pasar yang ada di Kotamobagu," ujar mama Pandi sapaan akrabnya saat, Kamis (25/10/2018).

Meski proses pembuatannya masih secara manual, namu produknya terbilang cukup baik dan rapi. Adapun bahan baku seperti tanah liat yang dia ambil dari perkebunan setempat. Menurutnya bahan bakunya harus yang berkualitas baik.

"Kalau tidak baik tanah liatnya pasti gerabahnya juga tidak baik, adakalanya cepat pecah. Jadi biasanya dia bentuk terlebih dahulu kemudian di jemur kurang lebih 2 hari, setelah kering lalu dibakar menggunakan sabur kelapa dan bambu agar masaknya lebih baik dan kuat," terangnya
Bahkan kata Ibu Dua Anak ini, sempat gerabahnya itu pernah diikutkan dalam pameran kerajinan. "Waktu itu ada pameran kerajian, gerabah ini sempat diikutkan, tapi orang lain yang memesan disini kemudian mereka yang membawa ke pameran itu," terangnya

Meski hasil jual Gerabahnya tidak begitu banyak, namun Ia bersyukur setidaknya bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. "Kalau ada pesanan paling banyak dalam satu minggu itu Rp 300 ribu, yah Alhamdulillah bisa mencukupi kebutuhan kami keluarga," ujarnya

Dia berharap, pemerintah dapat memperhatikan usahanya dengan memberikan bantuan alat pembiat gerabah agar produksinya lebih banyak dan bisa berkembang.

"Selama ini kan pembuatannya masih secara manual, saya masih menggunakan tangan dalam membuat gerabah ini. Yah, saya berharap pemerintah dapat memberikan batuan berupa alat pembuat  gerabah ini suapaya produksinya lebih banya dan usaha kerajinan ini bisa berkembang luas," ucapnya(one)

SULUTNEWS,KOTAMOBAGU- Badan Perencanaan Penelitian dan Pembanguan Daerah (Bappelitbangda) menggelar rapat orientasi penyusunan rancangan awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD), di Ruang rapat Bappelitbangda. Rabu (24/10/18)

Dalam kegiatan tersebut, Sekertaris Daerah (Sekda) Kota Kotamobagu Adnan Massinae saat membuka kegiatan, diapun Menegaskan " seluruh Satuan Perangkat Daerah (SKPD) agar kompak dalam penyusunan ROPJMD 5 tahun kedepan 2018-2023" tegasnya

Adnan juga meminta agar fokus dalam penyususnan RPJMD, serta tidak menumpukkan semua pekerjaan ke Bappelitbangda sehingga tidak saling mengharapkan.

“Bappelitbangda ibaratnya adalah dapur, nah yang mengisi dapur itu adalah semua SKPD, jadi jangan tumpukkan semua penyususnan ini ke Bappelitbangda, harus adanya singkronisasi dan pokok-pokok pikiran agar semuanya tersusun dengan baik,” ujarnya

Menurutnya, penyusunan RPJMD Kotamobagu harus ada singkronisasi dengan RPJMN dan Provinsi. “Agar semua berjalan secara bersamaan, baik itu dari RPJMN, Provinsi dan misi -misi walikota dan wakil wakikota 5 tahun kedepan,,” jelasnya

SULUTNEWS,KOTAMOBAGU- Wilayah Kecamatan Kotamobagu Timur Kota Kotamobagu saat ini menjadi wilayah yang paling rawan DBD. Pasalnya, dari Januari hingga Oktober Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotamobagu mencatat sebanyak 38 warga yang menetap di Kecamatan itu terserang DBD.

Menurut Kepala Dinkes Devie Ch Lala, penyebab terjadinya DBD yaitu tidak terjaganya kebersihan lingkungan sehingga menjadi wadah penempatan nyamuk jentik. "Yah, itu penyebabnya, sehingga perlu perhatikan tentang kebersihan lingkungan," kata Devie, Kamis (25/10/2018).

Selain Kotamobagu Timur, juga terdapat beberapa kasus DBD di wilayah lainnya, seperti di Kotamobagu Barat sebanyak 33 warga, Kotamobagu Selatan sebanyak 17 dan Utara ada 17 waega yang terserang penyakit menular ini.

"Tahun ini sebanyak 95 warga yang terkenak penyakit DBD, penyakit ini bisa menyerang kapan saja kalau lingkungan tidak bersih, sehingga kebersihan itu penting untuk mencegah serangan penyakit ini," ujar Devie

Untuk itu, Ia kembali mengingatkan akan pentingnya perhatian masyarakat tentang kebersihan lingkungan. Apalagi sekarang sudah memasuki musim hujan yang berpotensi menimbulkan wadah penyakit DBD.

"Kebersihan sangatlah penting bagi kesehatan kita semua, tentu masyarakat harus ada perhatian disitu. Sehingga mari kita jaga bersama kebersihan lingkungan ini agar terhindar dari berbagai penyakit kususnya DBD," tandasnya(ONE)

SULUTNEWS,KOTAMOBAGU-Wakil Walikota Kotamobagu, Nayodo Koerniawan, SH,   Selasa (23/10/2018) siang tadi  memantau kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mongkonai.
kesempatan tersebut, Wakil Walikota Kotamobagu juga meminta   kepada pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotamobagu untuk dapat  terus mengoptimalkan para petugas, dan sejumlah alat berat di TPA Mongkonai.  “ Saya juga meminta alat berat yang saat ini dioperasikan di TPA Mongkonai untuk terus dioptimalkan, termasuk juga memperbaiki   beberapa alat berat, yang saat ini masih mengalami kerusakan,” ujar Nayodo yang juga kader PDIP  tersebut 
                
Wakil Walikota Kotamobagu juga mengatakan bahwa kedepan nanti, akan diupayakan penggunaan teknologi tepat guna, seperti membuat kincir air, sebagai pembangkit tenaga listrik, dengan memanfaatkan air  dari sungai yang berada di dekat TPA Mongkonai.

“ Dengan penggunaan  kincir air sebagai pembangkit tenaga listrik, maka diharapkan juga akan dapat menghemat biaya pembayaran listrik di TPA Mongkonai,” terang  Wakil Walikota.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Walikota Kotamobagu yang didampingi Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotamobagu, Abdul Thalib,  juga menyempatkan diri untuk melihat secara langsung gedung tempat pembuatan kompos, serta tempat pengolahan sampah yang berada di lokasi TPA Mongkonai