Sulutnews

Sulutnews

Manado, Sulutnews.com - Polisi harus betul-betul hadir di tengah-tengah masyarakat. Hal tersebut menjadi atensi serius Irjen Pol Dr. Sigid Tri Hardjanto, SH, MSi semenjak dilantik menjadi Kapolda Sulut beberapa waktu lalu.

Menurutnya ukurannya gampang untuk menilai kehadiran Polisi. "Ukurannya ya masyarakat merasa senang dan aman dengan kehadiran Polisi," ujar Kapolda di berbagai kesempatan, kalau polisi ingin dicintai masyarakat, ya katanya jangan menyakiti hati masyarakat.

Kapolda juga memberikan atensi terhadap kehadiran polisi di saat pagi, siang dan sore hari di tengah-tengah aktifitas warga.

Pengaturan lalulintas contohnya, Kapolda memberikan atensi agar anggota harus betul-betul siap di lapangan, apalagi saat pagi maupun sore hari.

Terpantau, sejak pagi hari, Senin (28/1/2019), personil Dit Samapta Polda Sulut disebar untuk melakukan pengaturan, membantu anggota Ditlantas melakukan pengaturan lalulintas.

Kurang lebih ada 9 titik lokasi di Kota Manado yang menjadi prioritas pengaturan saat itu, diantaranya lokasi patung samrat, samping SDH, multimart Karombasan, depan Wanea Plaza, pertigaan Stadion Klabat, pertigaan Oto Moto, pertigaan SMP 4, pertigaan lampu merah Ranotana dan pertigaan lampu merah BPK.

Kegiatan tersebut mendapat pengawasan dan pantauan personil Propam Polda Sulut.

Dihubungi terpisah, Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Ibrahim Tompo, menegaskan ini  merupakan atensi Kapolda Sulut Irjen Pol Dr. Sigid Tri Hardjanto, SH, MSi dalam rangka memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

"Kita ingin kehadiran Polisi di tengah masyarakat, khususnya pada saat aktivitas pagi hari yang padat, bisa dirasakan manfaatnya, baik keamanan maupun kelancaran lalulintas," ujar Kabid.

Kegiatan ini juga diikuti oleh jajaran Polres dan Polsek yang ada di Sulawesi Utara. (/Pri)

Oleh Amir Machmud NS

KEGELISAHAN konstruktif Ganjar Pranowo tentang masa depan media, saya tangkap dari ungkapan-ungkapannya saat menerima audiensi pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jawa Tengah, 2 Januari lalu. Dia terutama menanyakan, jaminan kesejahteraan seperti apa yang bisa diberikan oleh para pengelola media terhadap manusia profesional wartawan?

Pertanyaan tersebut pernah disampaikan Gubernur Jawa Tengah itu kepada pengurus PWI Pusat dalam sebuah diskusi menjelang Kongres 2018. Keberpihakan pada masalah ini, menurut dia, perlu menjadi komitmen organisasi profesi dan serikat perusahaan media untuk mendorong terciptanya rasa "aman" bagi wartawan dalam menjalani tugas profesinya. Juga supaya ada standar yang menjauhkan dari pikiran-pikiran yang membuat performa mereka tidak kredibel.

Wacana tentang masa depan profesi wartawan rasanya patut diapungkan sebagai arus diskusi menjelang peringatan Hari Pers Nasional, 9 Februari 2019 nanti. Pertanyaan awal, sebagai ungkapan kegelisahan, pernah saya diskusikan dengan Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, Firdaus Banten dalam sebuah Uji Kompetensi Wartawan (UKW), "Masih cukup berprospekkah profesi dunia jurnalistik dari sisi jaminan ketercukupan ekonomi?"

Tak mudah menjawab gambaran tersebut. Pertama, bagaimanapun media -- dengan topangan sumber daya manusia profesi jurnalis -- masih harus ada seiring dengan naluri kebutuhan manusia akan informasi. Kedua, faktanya kini sebagian kebutuhan informasi itu bisa diakses melalui browsing mesin pencari penyedia apa pun info yang dikehendaki. Ketiga, dengan aneka platform media sosial, sekarang “setiap orang bisa menjadi wartawan untuk dirinya sendiri dan orang lain".

Tiga gambaran itu memang masih menyisakan ruang eksistensial bagi wartawan dengan media arus utamanya, namun apakah cukup memberi garansi keleluasaan ruang kehidupan dari sisi kesejahteraan?

Saya akan secara dini memagari, jangan hanya bicara tentang idealisme. Sikap ini menjadi ruh kehidupan para pemilih profesi wartawan, akan tetapi konteks realitas zaman tidak mungkin menuntut idealisme yang buta akan penopang kredibilitas sikap tersebut. Ekspresi idealisme hanya akan kredibel manakala seseorang merasa "aman" dalam kebutuhan dasar hidupnya, dan ini adalah opini sepatutnya yang berlaku sekarang. Bagaimanapun, wartawan bukan "pertapa" atau orang yang memilih ber-zuhud dalam hidupnya demi memperjuangkan keyakinan profetik.

Bukankah dunia jurnalistik juga mencatat sejumlah "kisah sukses" wartawan yang bermigrasi menjadi anggota legislatif, kepala daerah, staf ahli pejabat publik, komisioner penyelenggara pemilu, pebisnis non-media, juga ragam pekerjaan lain? Sebagian dari kisah sukses itu, bagaimanapun, mulanya ditopang oleh eksistensi profesi kewartawanan.

Jaminan di Sisa Ruang

Lalu bagaimana memasuki lorong pilihan profetik itu dengan memberikan keyakinan masih ada jaminan sisa ruang hidup?

Dinamika kehidupan manajemen bisnis media -- khususnya media cetak dan sebagian online -- secara nyata kita lihat sekarang sebagai "jihad" mempertahankan diri. Pada sisi lain kita juga melihat pelbagai platform media sosial tampak "meriah" dengan promosi produk dan jasa yang seolah-olah mewartakan bahwa iklan-iklan yang hengkang dari media cetak, justru bermigrasi ke media sosial, dan tidak serta merta beralih orientasi sebagai lahan bisnis media online.

Sebenarnya terdapat peluang kalkulasi teknis-kolaboratif yang bisa memberi keuntungan finansial menjanjikan antara media-media digital dengan berbagai platform media sosial. Jadi peluang tetap ada, meskipun model, pola, dan perilaku advertising ini, yang kita tangkap di banyak media online, seperti menomorduakan hakikat nilai berjurnalistik. Dengan perkembangan bentuk adaptasi sajian iklan itu, apakah produk jurnalistik nantinya akan sepenuhnya terartikulasikan seperti hanya "numpang lewat" menemani ingar-bingar wajah advertisment business?

Pertanyaan lanjutannya, apakah perilaku bermedia pada saatnya memang bakal menomorsekiankan ritus-ritus "spiritualitas jurnalistik"? Artinya, sikap berjurnalistik kelak akan sekadar menjadi mitos idealistik ketika praktik semesta media lebih tergantung pada "jualan" berbasis klickers (viewers) dengan kiat-kiat pendekatan yang lebih teknis ketimbang mengarusutamakan nilai-nilai berjurnalistik.

Sekarang ini, yang dibutuhkan oleh profesi wartawan adalah pengelaborasian sisa ruang untuk dimasuki dengan membawa keyakinan akan ada prospek kesejahteraan yang bisa diraih. Masalahnya, bagaimana manajemen bisnis media berkreasi memberi jaminan ruang kehidupan profetik sebagai "manusia", yang bisa dikolaborasikan dengan ruang ekspresi nilai-nilai jurnalistik. Bentuk inilah yang bakal saling menopang mewujudkan "manusia wartawan yang kredibel".

-- Amir Machmud NS, wartawan Suara Merdeka, Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah

Tomohon, Sulutnews.com - Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Cabang 2208 Keluarga Besar Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI Polri (FKPPI) Kota Tomohon Masa Bhakti 2019-2024, dilaksanakan di Aula Indraloka Kinilow Kota Tomohon, sabtu (12/1/19).

Dalam pelantikan dilakukan oleh Ketua Pengurus Daerah Keluarga Besar FKPPI Sulawesi Utara Hendrik Sompotan SH MH.

Staf Ahli Walikota Bidang Administrasi dan SDM Theodorus Paat SIP, hadir mewakili Walikota Tomohon Jimmy F Eman SE Ak.

Menjadi harapan Dandim 1302 Minahasa Letkol Infantri Slamet Raharjo SSos MSi :

FKPPI ini  bisa menjadi sebuah wadah untuk mengasah diri dalam pengabdian terhadap bangsa dan negara, bisa menjadi organisasi untuk mencegah ideologi lain yg bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, dan dengan adanya organisasi ini bisa memperkokoh pesatuan dan kesatuan neraga RI.

Selaku ketua Pengurus Cabang 2208 Keluarga Besar FKPPI Kota Tomohon yang baru dilantik Syerly Adelyn Sompotan, yang juga sebagai Wakil Walikota Tomohon :

Sesungguhnya organisasi FKPPI merupakan organisasi kemasyarakatan yang mandiri dan berasaskan Pancasila yang memiliki tekad dan komitmen yang tinggi yakni menjadi salah satu ujung tombak membela bangsa dan negara dalam satu kerangka NKRI.

Adapun tema FKPPI tahun 2019 ini adalah bersatu dan berdaulat, yang wajib diterjemahkan dan diaplikasikan dalam pelaksanaan tugas dan tanggungjawab segenap pengurus yang baru dilantik.

Kepada segenap pengurus diajak pula untuk proaktif dalam menangkal masalah radikalisme dengan bijaksana, agar nilai-nilai kebangsaan dan jiwa Nasionalisme tetap terjaga.

Tampak hadir Wakapolres Tomohon . Kompol Joice Wowor SH, mewakili Kajari Tomohon Derry Rachman SH, Danramil Kota Tomohon Kapten Infantri Sulistyo, jajaran pengurus FKPPI dari beberapa daerah di Provinsi Sulut.(/Prise)

Tomohon, Sulutnews.com - Digelar opening press conference danau linow yang dilaksanakan di Danau linow lahendong,Kamis 20/12/2018.

Danau linow yang semakin mengembangkan potensi sebagai kekayaan alam  dan juga merupakan daya tarik wisata memiliki karakter yang tersendiri,Dimana danau juga ini merupakan suatu tempat dimana menjadi suatu perpaduan antar tersedianya air dan dengan keindahan alam menjadi satu bentuk yang indah dan menarik serta memiliki nuansa alami,dimana juga air yang sangat berperan penting dalam memberikan kehidupan yang ada disekitarnya.

Sebagai potensi danau linow adalah :

  1. Mengembangkan sistem pengelolaan kawasan wisata danau linow melalui pengelolaan potensi alam,masyarakat setempat dan didukung tenaga ahli dibidangnya.
  2. Perkembangan fungsi potensi danau linow yang sebagai fungsi rekreasi dan hiburan serta kegiatan wisata ramah lingkungan
  3. Memabangun kesadaran dan penghargaan atas lingkungan dan ekosistem danau serta budaya.
  4. Mengembangkan prasarana dikawasan wisata danau yang sebagai bagian pelayanan kepada wisatawan
  5. Membangun citra kepariwisataan daerah.

Bagi mereka yang akan menggelar acara seperti perkawinan dan acara syukur lainnya, harga dimulai dari 150 ribu per kepala dengan kapasitas tempat duduk maksimal 1.500 orang.

Konferensi Pers Soft Opening Danau Linow Resort

Sementara Manager Restauran Lenda Supit mengatakan, saat ini Danau Linau Resort telah menambah menu. Bukan hanya pisang goring atau penganan ringan lainnya tapi sudah dilengkapi dengan menu makanan oriental dan masakan khas Manado.

‘’Ya, kami sudah menambah menu untuk lebih memanjakan pengunjung,’’ jelas lenda

Pengunjung di Danau Liow Resort sendiri tiap harinya makin bertambah. Selain dari local, banyak juga turis mancanegara terutama dari China.

Ini Fasilitas Danau linow Resort

  • Tempat acara untuk rapat, konferensi, pernikahan, ulang tahun, gathering dan lainnya.
  • Terdapat 3 ruang meeting: Mahawu, Lokon, Soputan.
  • Memiliki kapasitas 1.500 tempat duduk.
  • Jam operasional Senin-Minggu Pukul 09:00 Wita-22:00 Wita.
  • Menu Makanan: Oriental, dan Manado.
  • Menyediakan minuman beralkohol: beer, wine, spirit,liquor.
  • Tiket masuk Rp25.000 (+Rp5.000 retribusi Dinas Pariwisata).
  • contak person 082191507889 atau email This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

(/Prise)

Manokwari, Sulutnews.com - Ketua Umum (Ketum) PWI Pusat, Atas S Depari, yang juga sebagai salah seorang pendiri SMSI didampingi Ketua Bidang Organisasi PWI, Firdaus, Jumat (21/12), pagi, tiba di Bandara Rendani Manokwari, Papua Barat.

Kadis Kominfo Mansel Maxsimatau dan Ketua DKP Papua Barat Aziz Tokan, menyambut kedatangan tersebut dengan pengalungan manik-manik dan Noken.

Kedatangan Ketum dan Ketua Bidang Organisasi Pusat ini, dalam rangka menghadiri konferensi kerja PWI Papua Barat yang  digelar di Kabupaten Manokwari Selatan (21-22) Desember 2018, tepat pukul 15.15 Wit.

Ketua PWI Papua Barat, Bustam, mengatakan konferensi kerja yang digelar merupakan konferensi yang pertama sejak pengurus PWI Papua Barat dilantik pada Februari 2018 lalu.

"Konferensi ini dalam rangka mewujudkan pers berkeadikan, independen dan profesional. Disamping itu saya menghimbau, anggota setiap anggota PWI  wajib mengikuti uji kompetensi wartawan," ujarnya.

Ditempat yang sama, Ketua Umum PWI Pusat, Atal S Depari menjelaskan, PWI Papua Barat menjalankan program sesuai dengan hasil konferensi kerja yang digelar.

"Program kita harus dapat dipertanggung jawabkan. Banyaknya lembaga survei yang terkesan berbayar dan tidak menutup kemungkinan akan bias. Dalam mendekati pemilu ini, PWI akan mengaktifkan kembali Mapilu PWI. PWI punya jaringan di seluruh Kota dan kabupaten yang  akan menjadi pemantau pemilu yang obyetif," pungkas Atal S Depari.

Sementara itu, Bupati Manokwari Selatan, Markus Waran, ST, M.Si yang turut hadir dalam kesempatan tersebut mengapresiasi dan berterimakasih atas  kegiatan yang digelar.

"Terimakasih kepada PWI Papua Barat yang telah mempercayaķan Mansel sebagai penyokong utama konferensi ini. Kami menaruh harapan besar kepada PWI menjadi pendorong pembangunan di daerah," tutur Bupati.

Ditambahkan Bupati, di tahun politik ini, pemerintah berharap PWI dapat menjaga indepensi karena menurut Bupati  dengan menjaga hal tersebut, media tidak akan tergilas oleh zaman. "Selanjutnya dapat menjadi agen pembangunan," tandas Bupati seraya menyebut Mansel dengan potensi pertanian dan perkebunan yang dimiliki,  peluang untuk berinvestasi, masih terbuka lebar.

Selanjutnya Acara Konferensi kerja di Pimpin Oleh Bustam, ketua PWI Papua Barat,  dipandu Firdaus ketua Bidang Organisasi PWI Pusat.

Pada kesempatan tersebut, Firdaus yang juga Sekretaris Jenderal Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat, mengkordinasikan program PWI Barat dan pengurus SMSI Papua Barat dalam rangka menghadapi Hari Pers Nasional (HPN) 2019 di Surabaya, Jawa Timur. Salah satu agenda HPN tersebut, Akan menghadirkan narasumber Markus Waran Bupati Mansel, sebagai matahari dari Timur.(*/MS)

Bukit Kasih Kanonang Bakal Suguhkan Festival "Tondurukan"

Kanonang, SulutNews.Com - Sekertaris Komisi IV DPRD Sulut Vanny Legoh, mengatakan, lembaga DPRD dalam perannya sebagai lembaga yang memiliki fungsi legislasi, sangat berharap agar apa yang menjadi kebutuhan masyarakat terutama diwilayah desa berkembang dan dapat menjadikan masyarakat maju. Hal ini disampaikan Legoh dihadapan ratusan warga saat pelaksanaan reses Senin (10/12/2018) Desa Kanonang 2 Kabupaten Minahasa.

Menurutnya reses adalah wadah untuk masyarakat dalam menyampaikan aspirasi, sehingga srgala kebutuhan yang diharapkan dapat direalisasikan dapat disampaikan kepada wakil rakyat. "Semua yang menjadi harapan dari masyarakat dapat disampaikan dalam kegiatan reses," kata Legoh saat membuka dialog bersama warga kanonang.

Sementara itu, Hukum Tua Kanonang Welly Rawis saat menyampaikan aspirasi mewakili warga mengatakan soal keberadaan Bukit Kasih Kanonang yang merupakan salah satu objek wisata milik pemerintah propinsi Sulut yang saat ini mulai kurang terawat dan terancam, sehingga sangat membutuhkan perhatian terutama dalam hal anggaran pemeliharaan. "Dibutuhkan biaya untuk pengelolaan bukit kasih. Dan sangat disayangkan jika bangunan yang sudah ada tidak terpelihara sementara potensi untuk menarik perhatian khusunya bagi turis sangat bagus, dan ini tentunya akan memberi nilai tambah bagi masyarakat." kata Rawis.

Juga kata dia, sebagaimana rencana yang sudah disusun untuk pengelokaan Bukit Kasih, akan ada oagelaran Festifal budaya yang bertajuk" TONDURUKAN" dan ini akan menjadi momentum promosi budaya lokal agar lebih dikenal dan tentunya memberi nilai positif bagi keberadaan abjek wisata Bukit Kasih Kanonang. "Kami pemerintah dan nasyarakat akan berupaya menjadikan Bukit Kasih Kanonang, semakin dilirik oleh dunia untuk menjadi salah satu temoat tujuan wisata," ungkap Rawis.

Menanggapi hal tersebut, Vanny Legoh memberi apresiasi rencana yang disusun okeh masyarakat dan pemerintah, dan atas aspirasi yang sudah disampaikan pihaknya akan berusaha melakukan oendampingan agar anggaran yang dibutuhkan bisa terealisasi, sehingga rencana pemeliharaan dan promosi Vestifal akan dapat terealisasi. "Tidak hanya anggaran yang bersumber dari APBD tetapi akan diupayakan lewat APBN," kata Legoh.

Pada kegiatan reses yang dilaksanakan di Aula Kantor Desa tersebut, hadir pula Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama bersama pemerintah setempat. (Josh Tinungki)

Tomohon,Sulutnews.com - Dalam rangka menuju gelaran akbar Festival Film Indonesia 2018, PARFI ( Persatuan Artis Film Indonesia) 56 Sulawesi Utara menyelenggarakan Festival Film Pendek untuk sineas muda.Senin (3/12/2018).

Dari sekian film yang masuk penialian juri dari beberapa kategori, salah satunya film pendek 34 MENIT karya sineas muda asal Kota Tomohon yang meraih beberapa penghargaan di ajang ini.

Para pemeran film pendek 34 MENIT bersama Ketua PARFI 56 SULUT Jane Sumendap-Rende Ketika dihubungi secara online, salah satu pemeran dalam film pendek 34 MENIT Wulan Roeroe mengatakan film ini sendiri dibuat oleh 545 Creative Production di Kota Tomohon dengan talent yang semua berasal dari putra putri terbaik di Kota Tomohon.

 Adapun penghargaan yang diraih oleh Film Pendek “34 MENIT” ini yaitu :

THE BEST SHORT FILM

SUTRADARA TERBAIK : RAFAEL TURANG

AKTRIS TERBAIK : AIKO MAMPOUW

SINEMATOGRAFI TERBAIK : RAFAEL TURANG, PETTER TANGKUDUNG

545 Creative Production adalah bentukan dari Wakil Walikota Tomohon Syerly Adelyn Sompotan.

Terpisah, Wawali Tomohon Syerly A. Sompotan mengatakan bahwa ini adalah wadah anak muda di bidang Perfilman. “Jadi saya membentuk Golden Chrysant Management yg di dalam itu terdiri dari beberapa divisi ada tarian,Choir dan Dance Sport serta Modeling ini agar seluruh bakat anak2 muda di Tomohon bisa tersalur dgn adanya Management ini.” Ungkap Wawali Sompotan.

Wawali Sompotan yang juga adalah Produser dalam film 34 Menit ini merasa bangga dgn hasil yg diraih.

“Ini adalah hasil kerja keras para generasi muda tomohon, sehingga bisa meraih hasil yg baik , semoga kedepan dengan hasil prestasi ini dapat lebih mendorong semangat para muda mudi di kota tomohon untuk terus berkarya dan memberikan yang terbaik agar kota tomohon dapat lebih dikenal baik di tingkat nasional maupun internasional.” Kunci Wawali.

“Prestasi yang telah kami raih ini juga tidak lepas dari dukungan seluruh Crew dan Terlebih dukungan dari Ibu Wakil Walikota Ibu SAS sehingga kita dapat menyelesaikan film ini dan bisa mendapatkan hasil yang baik.” ungkap Rafael Turang yang adalah Sutradara dalam Film ini sekaligus kordinator dari 545 Creative Production.(/Prise)

Tomohon, Sulutnews.com - Memaknai hari guru yang ke 73 di tahun  2018 dari Dinas pendidikan dan kebudayaan kota Tomohon Dengan melaksanakan hari puncak hari guru.Saat di wawancarai beberapa awak media, Jumat,30/11/2018.

Kepala Dinas pendidikan dan kebudayaan daerah kota Tomohon Dr.Juliana dolvin karwur Mkes,Msi mengatakan bahwa dengan memaknai banyak faktor-faktor dan menjadi faktor yang pertama faktor kebersamaan penyatuan persepsi adalah Faktor persamaan persepsi dalam sebuah kekompakan sebagai guru untuk maju bersama dalam membangun negara ini,dan lebih khususnya juga akan lebih  lagi maju bersama untuk kota Tomohon,

Dengan memberi tema meningkatkan profesionalisme kemajuan guru ke abad 21,Disamping itupula guru-guru akan  semakin memberi kompentensi agar semakin membangun anak didik sehinngga dapat memberi penguatan terhadap pendidikan karakter bagaimana kemampuan guru dalam hal memenejemen sehingga pada abad 21  betul- betul dapat membanggakan diri sebagai guru karena output daripada guru tidak dapat kita rasakan saat ini tapi akan dapat dirasakan saat outcame pada waktu yang akan datang.

Menjadi harapan dengan  menyatukan persepsi dengn memperkuat dan memperkokoh, dengn menyatukan kekompakan itu merupakan sebuah strategi sehingga dalam peningkatan profesionalisme guru akan sangat tepat dan akan merapatkan barisan untuk terus meningkatkan kopentensi guru dan akan menghasilkan anak didik yang luar biasa.

Dengan adanya peningkatan kompentensi yang menjadi sebuah pilar utama yang menjadikan penilaian-penilaian sebagai nilai budaya yang harus kita bangun sehingga betul-betul ada makna yang berarti."ucap karwur"

Dan menjadi baromater dengan di tahun 2019 sudah dapat diukur dengan memberikan theacher aword memberikan strategi kedepan ditahun 2019 yang akan semakin banyak peserta didik bisa tampil baik ditingkat nasional maupun internasional,

Dengan demikian juga ibu bapak guru ataupun kepala sekolah semakin di perkuat pembimbingannya dan  kopentensinya sehingga semakin bersaing di tingkat daerah,propinsi maupun ditingkat nasional dan di tingkat internasional."jelas karwur.(/Prise)

Tomohon, Sulutnews.com - Dalam Rangka Pembukaan Rangkaian Hari Ulang Tahun Dharma Wanita Persatuan ke-19 yang mengambil start dari Mall Pelayanan Publik(MPP) Wale Kabasaran dan Finish di kompleks Menara Alfa Omega, Jumat(30/11/2018).

Sekretaris Daerah Kota Tomohon Ir Harold Lolowang Msc MTh membuka dan mengikuti Jalan Sehat Pemerintah Kota Tomohon.

Sekretaris Daerah mengatakan, dalam rangka menyukseskan HUT DWP ke-19, maka DWP Kota Tomohon akan melaksanakan kegiatan sebagai berikut: Pembukaan rangkaian kegiatan dengan jalan sehat bersama dengan Pemkot Tomohon pada 30 November 2018; Lomba senam poco-poco nusantara antar unit DWP perangkat daerah se Kota Tomohon; acara puncak sekaligus ibadah perayaan menyambut Natal pada tanggal 5 Desember 2018 bertempat di GMIM Kakaskasen Eben Haezer; Anjangsana ke panti asuhan werda.

Harapan kepada seluruh jajaran pemkot Tomohon melalui seluruh perangkat daerah untuk berperan aktif dalam menyukseskan HUT ke-19 DWP. Dalam Kegiatan ini  sangat bermanfaat bagi kesehatan kita semua.

Oleh karena itu  berolahraga, banyak sekali manfaat yang dapat kita terima antara lain: Mencegah penyakit jantung dang stroke; Mengendalikan Diabetes; Menurunkan tekanan darah tinggi; Mencegah nyeri punggung; Menangkal obesitas; Menunda keterbatasan fisik saat usia tua; Menekan resiko osteoporosis; Mengatasi stres serta meningkatkan kualitas hidup.

Mengajak  kepada kita semua segenap masyarakat Kota Tomohon apapun profesinya, untuk hidup aktif utamanya melalui olahraga secara rutin da teratur."tutup lolowang

Tampak hadir Ketua DWP Kota Tomohon Ibu Eva Lolowang-Mince SPd MPd, Asisten Kesejahteraan Rakyat Drs ODS Mandagi, Asisten Perekonomian Max Mentu SIP MAP, Asisten Umum Corry Caroles, jajaran pemerintah Kota Tomohon serta unit DWP se Pemerintah Kota Tomohon.(/Prise)

Husnizar Hood: Indonesia Jazirah Puisi, Bukan Tanah Tumpah Hoax

Bintan, Sulutnews.com - Tiga negara, 130 penyair, 350 lebih puisi, berkumpul dalam suatu Jazirah, Kamis malam (29/11) lalu, memaknai jejak-jejak Hang Tuah. Di 'Jazirah' --yang tak lain merupakan judul buku antologi puisi setebal 400-an halaman-- Hang Tuah 'hidup' kembali.

Para penyair dari berbagai belahan ranah estetik menulis sajak tentang pahlawan Melayu paling legendaris dari abad ke-15 itu, dalam perspektif dan diksi puitika masing-masing. Riuh. Penuh gairah. Bergema bersama-sama.

Sekitar delapan dekade silam, Chairil Anwar barangkali merasa cukup baginya seorang diri menyerukan sejarah lewat puisi, memanggil-manggil nama Diponegoro, maha-wira Nusantara lainnya dari abad yang lebih muda. Abad ke-19.

"Di zaman pembangunan ini, Tuan hidup kembali," demikian Chairil berkalam mengenang Pemimpin Perang Jawa itu, "...berselempang semangat yang tak pernah mati."

Bagi Datuk Seri Lela Budaya Rida K Liamsi, hari ini diperlukan lebih banyak lagi suara-suara Chairil demi merawat-melestarikan nilai-nilai historis. Sebab itu, tiga bulan lalu, bersama Ketua Dewan Kesenian Kepri Hoesnizar Hood, Datuk Rida mengundang sastrawan tanah air dan mancanegara merayakan sosok Hang Tuah dalam bait-bait puisi, sebagai sumbangan karya sastra terhadap sejarah.

"Mulanya saya dan Husnizar ragu, jangan-jangan tema Hang Tuah ini kurang akrab di telinga para penyair."

Tapi keraguan segera pupus. Pasalnya, beberapa pekan setelah pengumuman jemputan menulis puisi jejak Hang Tuah tersiar di kalangan publik sastra, surel panitia tak henti-henti menerima kiriman naskah.

"Hampir seribu karya puisi yang masuk," terang Ketua Panitia Fatih Muftih. Setelah melalui proses kurasi yang ketat di bawah --meminjam istilah Fatih-- mahkamah  para pengadil bijak bestari, Datuk Sutardji Calzoum Bachri dan Hasan Aspahani, dari total 900-an karya puisi akhirnya hanya 350-an judul dinyatakan lolos.

Ya, 350 lebih puisi, ditulis oleh 131 penyair, dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura, terhimpun dalam sebentang Jazirah, mencari ruang-ruang pemaknaan baru pada tapak besar tamaddun Melayu yang diwariskan Laksamana Hang Tuah.

Di Kamis malam yang agak renyai pada pelataran MTQ Telukbakau, Bintan, itu, kitab antologi puisi Jazirah diluncurkan secara takzim, sekaligus menandai dibukanya perhelatan Festival Sastra Internasional Gunung Bintan.

Ketua Dewan Kesenian Kepri, Husnizar Hood, punya pandangan menarik soal Festival Gunung Bintan. Festival ini, ujar Nizar, bukan setakat panggung para penyair untuk memberi sumbangsih akal-budi tatkala menapak-tilasi jejak kebesaran Hang Tuah yang memang berawal dari kaki Gunung Bintan.

Namun, lebih luas dari itu, Festival Gunung Bintan baginya adalah salah satu jeda atau rehat terbaik dari segala kebisingan politik. "Melalui Festival Gunung Bintan, kearifan budaya Melayu meyakinkan kita semua, bahwa Indonesia itu juga Jazirah Puisi, bukan cuma tanah tumpah hoax."(/SMSI)