Nasional

Nasional (773)

Husnizar Hood: Indonesia Jazirah Puisi, Bukan Tanah Tumpah Hoax

Bintan, Sulutnews.com - Tiga negara, 130 penyair, 350 lebih puisi, berkumpul dalam suatu Jazirah, Kamis malam (29/11) lalu, memaknai jejak-jejak Hang Tuah. Di 'Jazirah' --yang tak lain merupakan judul buku antologi puisi setebal 400-an halaman-- Hang Tuah 'hidup' kembali.

Para penyair dari berbagai belahan ranah estetik menulis sajak tentang pahlawan Melayu paling legendaris dari abad ke-15 itu, dalam perspektif dan diksi puitika masing-masing. Riuh. Penuh gairah. Bergema bersama-sama.

Sekitar delapan dekade silam, Chairil Anwar barangkali merasa cukup baginya seorang diri menyerukan sejarah lewat puisi, memanggil-manggil nama Diponegoro, maha-wira Nusantara lainnya dari abad yang lebih muda. Abad ke-19.

"Di zaman pembangunan ini, Tuan hidup kembali," demikian Chairil berkalam mengenang Pemimpin Perang Jawa itu, "...berselempang semangat yang tak pernah mati."

Bagi Datuk Seri Lela Budaya Rida K Liamsi, hari ini diperlukan lebih banyak lagi suara-suara Chairil demi merawat-melestarikan nilai-nilai historis. Sebab itu, tiga bulan lalu, bersama Ketua Dewan Kesenian Kepri Hoesnizar Hood, Datuk Rida mengundang sastrawan tanah air dan mancanegara merayakan sosok Hang Tuah dalam bait-bait puisi, sebagai sumbangan karya sastra terhadap sejarah.

"Mulanya saya dan Husnizar ragu, jangan-jangan tema Hang Tuah ini kurang akrab di telinga para penyair."

Tapi keraguan segera pupus. Pasalnya, beberapa pekan setelah pengumuman jemputan menulis puisi jejak Hang Tuah tersiar di kalangan publik sastra, surel panitia tak henti-henti menerima kiriman naskah.

"Hampir seribu karya puisi yang masuk," terang Ketua Panitia Fatih Muftih. Setelah melalui proses kurasi yang ketat di bawah --meminjam istilah Fatih-- mahkamah  para pengadil bijak bestari, Datuk Sutardji Calzoum Bachri dan Hasan Aspahani, dari total 900-an karya puisi akhirnya hanya 350-an judul dinyatakan lolos.

Ya, 350 lebih puisi, ditulis oleh 131 penyair, dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura, terhimpun dalam sebentang Jazirah, mencari ruang-ruang pemaknaan baru pada tapak besar tamaddun Melayu yang diwariskan Laksamana Hang Tuah.

Di Kamis malam yang agak renyai pada pelataran MTQ Telukbakau, Bintan, itu, kitab antologi puisi Jazirah diluncurkan secara takzim, sekaligus menandai dibukanya perhelatan Festival Sastra Internasional Gunung Bintan.

Ketua Dewan Kesenian Kepri, Husnizar Hood, punya pandangan menarik soal Festival Gunung Bintan. Festival ini, ujar Nizar, bukan setakat panggung para penyair untuk memberi sumbangsih akal-budi tatkala menapak-tilasi jejak kebesaran Hang Tuah yang memang berawal dari kaki Gunung Bintan.

Namun, lebih luas dari itu, Festival Gunung Bintan baginya adalah salah satu jeda atau rehat terbaik dari segala kebisingan politik. "Melalui Festival Gunung Bintan, kearifan budaya Melayu meyakinkan kita semua, bahwa Indonesia itu juga Jazirah Puisi, bukan cuma tanah tumpah hoax."(/SMSI)

Jakarta, Sulutnews.com - Pada bulan Desember 2018 mendatang, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) akan menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di Jakarta. Hal tersebut dikatakan Sekretaris Jenderal SMSI Pusat, Firdaus, ketika belum lama ini ditemui pada kegiatan FGD SMSI di Semarang.

Dijelaskan Firdaus yang juga Direktur Majalah Teras dan Group ini, agenda Rapimnas, sesuai arahan ketua umum SMSI Pusat Auri Jaya, Rapimbas dilaksanakan berkisar pertengahan Desember. Saat ini sedang disiapkan oleh steering commite (SC) yang dibentuk SMSI Pusat.

"Dalam menjalankan tugas SC juga menginventarisir masukan dari pengurus SMSI di daerah," ujarnya.

“Sebagai organisasi yang masih baru kami masih disibukkan dengan aktivitas membangun dan melakukan penguatan infra struktur organisasi di tingkat pusat maupun daerah,” imbuhnya.

Diungkapkan Firdaus, konsolidasi memang harus segera dilakukan dengan melihat berbagai problem terkait dengan pesatnya pertumbuhan jumlah perusahaan media siber yang semakin menjamur.

"Pertumbuhan tidak terpusat di Jakarta atau kota-kota yang menjadi ibukota provinsi saja, tetapi di hampir seluruh kabupaten/kota di tanah air," tuturnya.

Kondisi saat ini, lanjut Firdaus,  sebagian besar pengelola media siber baik yang di Jakarta maupun di ibukota provinsi, tengah berjuang untuk membesarkan kelangsungan usahanya, ditengah persaingan yang semakin ketat pada era digital kini.

"Dengan kondisi demikian,  SMSI Pusat segera mengambil langkah cepat dengan menggelar Rapimnas yang akan diikuti seluruh anggota pengurus pusat, para ketua dan sekretaris pengurus provinsi SMSI. Persoalan kesehatan keuangan perusahaan akan menjadi salah satu bahasan, karena problem ini menjadi persoalan yang menggejala secara umum," pungkasnya.

Seiring dengan semakin surutnya pasar media cetak, tambah Firdaus, semestinya kondisi itu menjadi peluang bagi media siber untuk merebut konsumen media termasuk kue iklannya.

"Namun yang terjadi belum sesuai yang diharapkan, terlebih di kalangan media siber di wilayah kabupaten/kota," tandasnya.

Diakhir perbincangan, diterangkan Firdaus, pada Rapimnas SMSI nanti, juga dimatangkan tentang PO ( Peraturan Organisasi) untuk memperluas rentang kendali dan jangkauan pelayanan organisasi terhadap anggota yang sebarannya semakin luas.(*/MS)

Semarang, Sulutnews.com - Bertempat di Aston Hotel and Convention Center Semarang, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) bersama Kementerian Pariwisata menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang mengusung tema,  "Jurnalisme Ramah Pariwisata", Sabtu (24/11).

Sejumlah media online, pelaku pariwisata serta perwakilan organisasi kepemudaan, ikut serta dalam kegiatan ini.

Guntur Saketi selaku Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata, menjelasan bahwa, gerakan jurnalisme ramah pariwisata, sejak 24 Oktober lalu, telah dicanangkan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya di Jakarta.

"FGD hari ini adalah FGD gerakan jurnalisme ramah pariwisata pertama di daerah. Nantinya kami akan menggelar FGD tahap tiga di Lombok. Setelah itu diharapkan lahir buku pedoman jurnalisme ramah pariwisata," ujarnya.

Dikatakan Guntur, SMSI bersama Kemenpar akan terus bergandengantangan karena pariwisata membutuhkan ruang hidup yang aman dan nyaman.

"Ini berkaitan dengan pemberitaan yang kerapkali berlebihan saat ada bencana, sampai-sampai negara lain merasa perlu mengeluarkan travel advice,"  tandasnya.

Ketua Umum SMSI, Auri Jaya sependapat bahwa pers berperan peting  dalam publikasi pariwisata. "SMSI menaungi 300 media online, dan pada bulan ini sedang melakukan verifikasi media-media untuk menjadi konstituen dewan pers," tuturnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal SMSI, Firdaus mengatakan, FGD tahap selanjutnya, akan dilaksanakan di Lombok dan Sumatera Utara.

Ditempat yang sama, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dalam sambutan yang dibacakan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Tengah, Dadang Somantri mengatakan, Provinsi  Jawa Tengah saat ini tengah memicu dan memacu pariwisata. Hal tersebut, lanjut Dadang, antara lain diwujudkan dalam perbaikan infrastruktur akses pariwisata dan penambahan hotel.

"Saya meminta agar para jurnalis membuat berita yang keren dan isinya enak dibaca, agar masyarakat tertarik untuk lebih tahu seluk beluk wisata alam dan budaya. Saya menunggu kontribusi teman-teman pers untuk kemajuan wisata Jateng dalam berbagai produk," tandasnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sambung Dadang, membutuhkan karya-karya yang mampu menarik kedatangan masyarakat ke objek wisata.

"Kolaborasi media dan pemprov adalah sebuah keharusan," tegasnya.

FGD di Semarang kali ini, merupakan FGD kedua, setelah sebelumnya, Kemenpar dan  Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) sukses  mengegelar FGD pertama di Hotel Sari Pan Pasific  Jakarta, Rabu (24/10) lalu.

FGD di Semarang ini,  diisi oleh empat narasumber berkompeten yakni Wakil Ketua Komisi X DPR Abdul Fikri Faqih, Kepala Disporapar Jawa Tengah Urip Sihabudin, Ketua DPD Asita Jawa Tengah Joko Suratno dan Ketua PWI Jawa Tengah Amir Machmud NS.

Di akhir sesi, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berkesempatan memberikan epilog. Dia mengaku sangat mengapresiasi forum yang diinisiasi SMSI dan Kementerian Pariwisata ini.

"Saya pernah memaparkan di luar negeri tentang kearifan lokal di Indonesia saat bencana tiba. Mereka mengatakan, oh Indonesia mistik ya. Saya katakan, tidak, itu bisa diuji secara ilmiah," katanya.

Salah satu ritual yang ia pernah amati adalah saat Gunung Merapi mengeluarkan wedhus gembel. Saat hewan-hewan di gunung turun karena merasakan hawa panas, juru kunci Merapi justru berdoa dengan caranya masing-masing.

"Jadi hal-hal inilah yang ingin kita angkat. Kita ingin agar bencana tidak selalu dilihat dari sisi yang menyeramkan, tapi ada hal-hal unik lainnya," tandas orang nomor satu di Jawa Tengah itu, kemudian menutup dengan Resmi acara FGD yang di gelar SMSI tersebut.(*/MS)

Medan, Sulutnews.com - Sebagai salah satu objek wisata unggulan di Sumatera Utara, keindahan Danau Toba, tidak perlu disangsikan lagi. Siapapun dapat dibuat terpukau akan keelokan danau yang satu ini, sehingga acara penutupan UKW PWI Sumatera Utara ke XX, yang sedianya di hotel ditepi danau, dialihkan di atas Kapal Wisata di danau Toba.

Di sela-sela penutupan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang  diselenggarakan PWI Sumatera Utata dan difasilitasi PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Kamis (22/11), diatas KM Wisata Kabupaten Samosir,  Firdaus ketua bidang organisasi PWI Pusat, mengatakan, dengan pesona dan potensi yang dimiliki, Danau Toba harus terus dijaga dan  pengembangan lebih lanjut  wajib didukung semua pihak terkait.

Firdaus juga mengatakan, standar kompetensi yang disematkan pada wartawan harus mampu memfilter mana berita yang layak atau tidak.

"Bisa saja beberapa perusahaan yang ingin masuk ke Simalungun untuk berinvestasi, membatalkan niatnya, dan beralih kedaerah lain akibat pemberitaan buruk, yang tidak berorientasi kepada kepentingan publik," ujarnya.

Pemberitaan yang tidak baik, lanjut Firdaus, juga akan merusak iklim usaha, bahkan dapat membuat resah investor yang sehingga tidak menutup kemungkinan mereka hengkang. Hal tersebut jika terjadi, jelas dapat merugikan masyarakat dan daerah.

Pada kesempatan tersebut, Firdaus juga berpesan agar semua pihak terkait khususnya wartawan yang sudah kompeten, terus menjaga investasi yang ada di Simalungun dan di Danau Toba.

"Wartawan kompeten harus mampu menempatkan dirinya sebagai pelita, karena sudah menjadi sebuah keharusan bahwa wartawan seluruh orientasi kerja wartawan untuk kepentingan publik.

Ditegaskanya,  jika wartawan bekerja tak sesuai dengan kompetensinya, apalagi terbukti kerjanya  melanggar kode etik, dan bahkan meresahkan masyarakat, kompetensi itu bisa dicabut.

Selanjutnya, ditambahkan Firdaus selaku Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat yang juga menjabat Sekretaris jenderal SMSI Pusat ini, sebagai bentuk dukungan  terhadap eksistensi Danau Toba, pihaknya merencanakan akan melakukan Rapat Kerja Serikat Media Siber Indonesia (SMSI-red) yang  akan datang digelar di Danau Toba.

Sementara itu, Ketua PWI Sumut Hermansjah menuturkan, Uji Kompetensi Wartawan (UKW) merupakan upaya peningkatan kualitas wartawan serta mengukur kompetensu wartawan dengan cara merekonstruksi tugas-tugas keseharian mereka.

"UKW angkatan berikutnya akan dilaksanakan di Tarutung,  Taput dan Medan hingga tahun 2018 ini," ucapnya.

"Kami juga  berterimakasih kepada pihak PT Japfa Compeed Indonesia Tbk yang memfasilitasi pelaksanaan pembukaan dan penutupan kegiatan yang berlangsung di atas KM Wisata Kabupaten Samosir, sembari mengelilingi kawasan Danau Toba," tuturnya.

Di atas kapal diumumkan hasil UKW yang dilaksanakan PWI Sumut angkatan 20 terdiri dari 35 orang peserta muda. Yang belum kompeten dinyatakan sebanyak 6 orang dan yang berkompeten 29 orang.

Sebelumnya, pembukaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Sumut Angkatan XX yang diselenggarakan di kawasan Objek Wisata Danau Toba, Hotel Atsari Parapat Kabupaten Simalungun, Rabu (22-23/11), turut dihadiri Kapolresta Simalungun, Ketua Umum PWI Pusat diwakili Ketua Bidang Organisasi Firdaus, pimpinan PT JAPFA diwakili Fitri Nursanti, Kadis Kominfo Simalungun, pengurus PWI Simalungun dan panitia yang  dikordinir Khairul Muslim dan Rizal Rudi Surya.(/MS)

Jarkarta, Sulutnews.com – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengadakan seminar nasional  Pers Indonesia Melawan Berita Hoax dengan tema “Seberapa Berbahayanya Hoax Itu Mempengaruhi Ekonomi di Indonesia”. Seminar ini diadakan di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis 22 November 2018 yang dihadiri oleh pelaku dunia usaha, direktur perusahaan, regulator dan Mahasiswa.

Di era media sosial seperti saat ini, sebaran hoax (berita bohong) menjadi sesuatu yang sangat serius. Dampaknya dapat mengacaukan masyarakat, tidak hanya di jagat maya, melainkan juga di kehidupan nyata. Banyak kasus buruk yang terjadi akibat hoax, karena banyak oknum yang memang sengaja memanfaatkan hoax sebagai senjata perang mereka. Terlebih di tahun politik seperti saat ini.

Akhir-akhir ini hoax menjadi perbincangan serius di negara ini seiring dengan maraknya berita palsu di jagat media sosial. Keberadaannya pun semakin meresahkan dan dinilai bisa menjadi ancaman serius bagi stabilitas keamanan dan ekonomi nasional. Wajar saja ketika Presiden Joko Widodo begitu khawatir terhadap “berita bohong” atau hoax yang akan berdampak bagi stabilitas ekonomi dan politik di Indonesia. Media sosial yang berkembang begitu cepat telah mendorong distribusi informasi ke seluruh masyarakat tanpa filter yang cukup, sehingga sulit sekali bagi orang awam untuk mengidentifikasi informasi yang valid (benar) atau tidak. Dalam konteks ekonomi, hoax punya efek yang besar terhadap perekonomian. Hoax mampu mempengaruhi ekspektasi dan perilaku masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi keputusan berekonomi (konsumsi dan berinvestasi). Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk preventif menjaga viralnya hoax sehingga tidak merugikan bisnis dan ekonomi secara umum.

Acara seminar diawali dengan kata sambutan dari ketua umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Atal S Depari yang dan Welcome Speech dari Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Rudiantara. Hadir sebagai narasumber di acara seminar ini Dirjen IKP Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Niken Widiastuti, Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, VP Corporate Communications PT Pertamina (Persero), Adiatma Sardjito, dan Praktisi Media Sosial, Nukman Luthfie.dan diskusi panel ini di moderatori oleh pemimpin redaksi Warta Ekonomi, Muhamad Ihsan.

Dan seminar nasional ini terselenggara atas kerjasama PWI Pusat dengan mitra diantaranya adalah Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Tabungan Negara (BTN), Bank BCA dan Pertamina.

Banyak manfaat yang didapat para  dari seminar ini, beberapa diantaranya seperti bagaimana perusahaan menghadapi berita hoax, bagaimana cara menyikapi berita hoax dan memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang bagaimana kiat untuk tidak mudah terpengaruh oleh berita-berita hoax.(/MS)

Rembang, Sulutnews.com - Dukuh Ngotoko yang selama ini nampak teransing dari desa induknya karena akses jalan yang jelek dan susah dilalui, dengan adanya program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke 103 Kodim 0720/Rembang tahun 2018, sekarang sudah nampak lebih baik.

Warga Dukuh Ngotoko yang keseharian berprofesi sebagai petani, mereka sangat merasakan perbedaan yang terjadi dengan adanya program TMMD Kodim Rembang mereka sekarang jauh lebih berbeda terutama saat melintas melewati jalan yang menjadi sasaran TMMD saat itu.

Akses jalan yang lebih baik sekarang sudah bisa dinikmati oleh warga Dukuh Ngotoko khususnya, karena akses jalan tersebut adalan akses satu-satunya jalan penghubung ke Desa Pasedan yang notabene sebagai desa induknya.

Dengan adanya program TMMD Kodim Rembang yang saat itu memperbaiki akses jalan menuju ke desa Ngotoko, kami merasa senang sekali, karena jalan yang selama ini kami lalui sekarang sudah jauh lebih baik, semoga dengan adanya jalan yang sudah baik semoga akan membawa berkah bagi kami warga Dukuh Ngotoko khususnya. Kamis(15/11).

Dengan perbaikan akses jalan yang dilaksanakan dalam program TMMD Kodim Rembang diharapkan juga akan membawa perbaikan pada perekonomian warga Desa Pasedan. (0720_Syaiful)

Rembang, Sulutnews.com - Selama 30 hari sudah Satgas TMMD Reguler ke 103 berada di tengah-tengah masyarakat Dukuh Ngotoko Desa Pasedan, Kecamatan Bulu guna melaksanakan kegiatan fisik dan non fisik. Selama 30, Satgas TMMD Reg 103 yang beranggotakan anggota TNI-POLRI bersama-sama dengan masyarakat bahu membahu menyukseskan program fisik dan nonfisik yang sudah dicanangkan. Setelah program TMMD berakhir dan ditutup oleh Danrem 073/Makutarama, anggota Koramil 05/Bulu yang wilayahnya ketempatan mulai melaksanakan pembersihan bener-bener dan atribut yang masih tersisa, Kamis (15/11).

Anggota Koramil 05/Bulu (Serka Sutrisno) dan rekanya 2 orang menurunkan banner yang masih terpasang di Gapura Dukuh Bawang jalan arah Desa Pasedan, banner diturunkan sebagai tanda berakhirnya TMMD Reguler ke 103 Kodim 0720/Rembang.

Semangat gotong-royong yang kian hari, kian memudar digelorakan kembali dalam pelaksanaan program TMMD Reguler 103. Tiada sekat antara anggota Satgas TMMD dan masyarakat. Semua bersatu untuk satu misi yang sama yaitu, membangun Desa Pasedan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang. (0720_Syaiful)

Rembang, Sulutnews.com - Selama 30 hari sudah Satgas TMMD Reguler ke 103 berada di tengah-tengah masyarakat Dukuh Ngotoko Desa Pasedan, Kecamatan Bulu guna melaksanakan kegiatan fisik dan non fisik. Selama 30, Satgas TMMD Reg 103 yang beranggotakan anggota TNI-POLRI bersama-sama dengan masyarakat bahu membahu menyukseskan program fisik dan nonfisik yang sudah dicanangkan. Setelah program TMMD berakhir dan ditutup oleh Danrem 073/Makutarama, anggota Koramil 05/Bulu yang wilayahnya ketempatan mulai melaksanakan pembersihan bener-bener dan atribut yang masih tersisa, Kamis (15/11).

Anggota Koramil 05/Bulu (Serka Sutrisno) dan rekanya 2 orang menurunkan banner yang masih terpasang di Gapura Dukuh Bawang jalan arah Desa Pasedan, banner diturunkan sebagai tanda berakhirnya TMMD Reguler ke 103 Kodim 0720/Rembang.

Semangat gotong-royong yang kian hari, kian memudar digelorakan kembali dalam pelaksanaan program TMMD Reguler 103. Tiada sekat antara anggota Satgas TMMD dan masyarakat. Semua bersatu untuk satu misi yang sama yaitu, membangun Desa Pasedan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang. (0720_Syaiful)

Rembang, Sulutnews.com - Sudah tiga hari yang lalu program Tentara Manungal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke 103 Kodim 0720/Rembang tahu 2018 telah resmi ditutup dengan upacar penutupan yang berlangsung di lapangan sepak bola Desa Kemadu Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang.

Dengan demikian para anggota Satgas TMMD Kodim Rembang sudah kembali ke Kesatuan mereka dan melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.

Desa Pasedan yang saat itu tempat dilaksanakannya TMMD Reguler Kodim Rembang sekarang sudah mulai lenggang, para warganyapun sudah kembali melaksanakan rutinitas pekerjaannya masing-masing.

Babinsa Pasedan Serda Umarsaid yang saat pelaksanaan kegiatan TMMD ia selalu aktif dilokasi untuk mendukung kelancaran program Kodim Rembang tersebut, setelah program selesai ia melaksanakan Komsos ke Desa Pasedan sambil mengecek hasil kerja Satgas yang sudah beberapa hari ditingalkan.

“Saya sengaja datang ke Desa Pasedan selain melaksanakan Komsos juga sambil mengecek hasil kerja Satgas yang sudah ditinggalkan beberapa hari ini, setelah diguyur air hujan beberapa hari ini ada yang rusak apa tidak” ujar Umarsaid.

Dalam keseharian Serda Umarsaid yang saat ini menjabat sebagai Babinsa Pasedan selalu aktif patroli wilayah guna memantau perkembangan yang terjadi diwilayah binaannya. (0720_Syaiful)

Rembang, Sulutnews.com - Dalam pengerjaan sasaran fisik TNI Manunggal Membangun Desa Reguler ke 103 Kodim 0720/Rembang dengan betonisasi dan perbaikan makadam jalan dari Dusun Ngotoko ke Desa Pasedan telah tuntas sepenuhnya, Rabu (14/11).

Pembetonan dan perbaikan jalan makadam penghubung Dusun Ngotoko ke Pasedan itu makin mempermudah aktivitas warga Dusun Ngotoko terutama anak - anak Sekolah dan para petani setempat. Mereka dapat dengan mulus melewati jalan yang dulunya rusak parah.

Warga Desa Pasedan mengapresiasi hasil karya pengerjaan fisik yang di lakukan oleh Satgas TMMDtersebut.

”Kegiatan kami tentu akan semakin lancar. Mau ke pasar ataupun kemana saja juga mulus dan lancar” ujar Sugiyono salah satu warga Pasedan Rembang, selesai melaksanakan sujud syukur atas hasil karya Satgas TMMD dan warga masyarakat Pasedan.

Jalan menuju Dusun Ngotoko dari Desa Pasedan awal kondisi sebelumnya cukup memperihatinkan dan rusak parah. Jalan yang jika musim hujan becek dan tentu susah di lewati. Namun setelah adanya program TMMD Reguler ke 103 tahun 2018 ini jalan tersebut diperbaiki dengan makadam dan betonisasi. Hasil nyatanya sudah bisa di rasakan oleh warga Ngotoko Desa Pasedan, kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.(0720_Syaiful)