Foto: Suradi Simbala / Ketua Komisi III Dekab Boltim Foto: Suradi Simbala / Ketua Komisi III Dekab Boltim

Suradi: Pengawasan Keluarga Terhadap Anak Harus Diperketat

Written by  Rifki Palengkahu Jun 29, 2020

Boltim, Sulutnews.com - Meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Bolaang Mongnodw Timur (Boltim), mendapat perhatian dari Wakil Rakyat Dekab Boltim. Legislator mendorong instansi terkait lebih meningkatkan pencegahan melalui edukasi perlindungan terhadap perempuan dan anak. Seperti dikatakan, Ketua Komisi III, Dekab Boltim, Suradi Simbala, ia mengatakan, pihaknya mendorong instansi terkait agar memaksimalkan pencegahan dengan edukasi untuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.

"Sekitar 14 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dan lima diantaranya sudah selesai. Tentu hal ini, menjadi perhatian kita semua sehingga mendorong instansi terkait agar maksimal melakukan edukasi kepada masyarakat," ungkap Simbala. Minggu (28/06)

Ia juga mengimbau, masyarakat senantiasa mengawasi dengan ketat aktifitas anak sebagai bentuk perlindungan terhadap anak.

"Berdasarkan informasi yang kami dapat, jika sebagian besar kasus kekerasan terhadap anak pelakunya orang-orang terdekat, ini harusnya menjadi sinyal kepada masyarakat Boltim untuk mengawasi ketat aktifitas anak agar tidak menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual," ujarnya

Lanjut Suradi, pihaknya mengapresiasi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) yang melakukan pendampingan hukum dan pemulihan psikologi korban kekerasan.

"Setiap korban kekerasan apalagi perempuan dan anak, harus mendapat pendapingan hukum dan pemulihan mental melalui psikiater, sebab korban pasti mengalami trauma yang mempengaruhi mental," terang Politisi Partai Golkar ini.

Terpisah, Kepala DP3A Boltim, Richlany Mamonto menuturkan, masyarakat harus mewaspadai orang asing orang terdekat.

"75 persen dari pelaku kejahatan terhadap perempuan dan anak adalah orang-orang terdekat dengan, itu berdasarkan kasus yang kini dilakukan pendampingan DP3A," ungkapnya.

Ia menyebutkan, lima dari 14 kasus kekerasan terhadap anak sudah selesai.

"Lima sudah selesai masing-masing, satu kasus cabul, tiga penganiayaan terhadap anak dan satu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Beberapa kasus masih berproses, penetapan dari pengadilan blum ada semua masih tahap satu dan tahap dua pelimpahan berkas ke Kejaksaan," terangnya.

Ia juga menambahkan, DP3A melakukan pendampingan hukum maupun pemulihan psikologi anak dan perempuan korban kekerasan.

"Kita siapkan pengacara dan psikolog. Dan pendampingan itu kita lakukan hingga kasus selesai," tutupnya. (Iki)