Cegah Penyebaran Terorisme dan Penyebaran Paham Radikalisme

Manado, Sulutnews.com - Dialog ini merupakan Kerjasama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dengan Dewan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Kawanua.

Menurut Ketua Panitia Dialog James Van Dersloot, kegiatan ini sendiri merupakan sebuah telaah kondisi global, nasional dan regional, atas gejala Terrorisme yang bukan hanya terjadi di Luar Negeri, tetapi juga di tingkat regional Asia Tenggara. 

"Terutama menyusul Bom Kampung Melayu dan termasuk Penguasaan Marawi, Philipina oleh kelompok teroris ISIS," kata James yang didampingi Donald Sendouw. 

Dikatakan perwira menengah tiga melati TNI AD ini, melihat semakin dekat dan semakin terindikasinya kelompok teroris dan paham radikal di Provinsi Sulawesi Utara, maka dirancanglah kegiatan ini. 

Dia menegaskan, aksi terorisme dan aksi penyebaran paham radikalisme merupakan gejala global yang juga menggejala di Indonesia, dan bukan tidak mungkin Sulawesi Utara. 

"Persoalannya, aksi teror dan paham radikal, sebetulnya tidak selalu terkait dengan agama tertentu, tetapi belakangan semakin dikaitkan dengan agama tertentu di Indonesia yakni Islam. Hal yang bagi kami perlu di perdebatkan dan diklarifikasi karena bisa membelah kebersamaan sebagai satu Bangsa, Bangsa Indonesia dalam kerangka NKRI," tuturnya. 

Menurutnya lagi, sekilas pemberitaan soal terorisme dan paham radikalisme, bagai melekat dengan agama mayoritas di Indonesia. Hal yang mesti dipahami sebagai satu hal yang tidak benar, karena agama manapun mengajarkan kebaikan, meski memang sering dipakai untuk alat pembenar atas tindak kejahatan sekalipun. 

"Hal ini perlu sangat dipahami, agar kebersamaan sebagai satu bangsa, tidaklah hancur karena persoalan yang tidak diletakkan secara proporsional," ungkapnya.

Lanjutnya lagi, gejala terorisme dan radikalisme di Indonesia, memang mesti disikapi secara komprehensif, karena gerakan radikalisme di Indonesia semakin menguat pasca Pilkada DKI. "Terlebih, setelah kasus teror bom Kampung Melayu dan penguasaan ISIS atas Kota Marawi di Philipina, yang sudah sangat dekat dengan Provinsi Sulawesi Utara. Pemerintah Pusat, bagaimanapun mesti berupaya keras agar penyebaran paham dan sikap radikalism, sedapat mungkin diminimalisasi lewat program deradikalisasi, maupun proses penguatan paham kebangsaan," jelas James. 

James menambahkan, dalam konteks ini, maka pengalaman Sulawesi Utara, mestinya bisa dan mampu memberi pilihan alternatif dan sikap toleransi terbangun yang bisa atau mampu disistematisasi dalam konteks Nasional. "Kebersamaan yang selalu saling mengisi dan saling menjaga dalam kebersamaan MAPALUS sebagai local wiedom, perlu diperkuat agar mampu terus merekat dan menjauhkan SULUT dari aksi terror dan menyebarnya paham radikalisme," imbuhnya. 

Untuk itu, sebagai warga negara Indonesia menolak segala macam aksi terorisme dan penyebaran paham radikalisme yang tidak bertumbuh dan bukan bagian dari sejarah Bangsa Indonesia yang multi etnis, multi-agama dan multi budaya. 

"Tidak ada tafsir tunggal atas satu agama, satu etnis, satu budaya, tetapi atas kebersamaan. Maka, dari Kota Manado, kami tegaskan kecintaan warga Sulawesi Utara atas Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sekaligus, menolak aksi terror dan paham radikalism di manapun di Indonesia sambil berusaha mengajarkan dan menularkan prinsip toleran dan juga mapalus kebersamaan budaya bagi menyenyahkan terror dan radikalisme," katanya. 

James pun mengajak warga Sulawesi Utara menjaga kebersamaan sebagai anak bangsa Indonesia yang mengedepankan Toleransi dan Pluralisme bagi seluruh anak bangsa. Maka, Indonesia akan maju lebih jaya kedepan.(PS)