Perempuan Dalam Pemilu Dan Demokrasi

Written by  Gandhi Goma Dec 13, 2018

Boroko, Sulutnews.com- Acara Sosialisasi Pendidikan Pemilih Pemilu 2019 dalam Forum Warga Berbasis Keluarga dihadiri oleh pemangku kepentingan dari ormas kemasyarakatan. Ketua  KPU Kabupaten Bolmong Utara Djunaidi Harundja, SH telah membuka resmi acara ini didampingi komisioner Rita Sophia Dorondo pimpinan Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih Partisipasi Masyarakat Dan SDM. Kamis (13/12/2018)

Dalam  sambutan Ketua KPU Bolmong Utara menyampaikan pemahaman yang penting dan perlu dibangun oleh penyelenggara pemilu adalah koordinasi dan komunikasi sesama penyelenggara pemilu, pengurus parpol, peserta pemilu, aparat keamanan, serta dinas yang terkait. Aktifitas apa saja yang dapat dilakukan perempuan dalam panggung politik, dimulai dari penyelenggara dalam hal ini KPU dan BAWASLU, peserta, hingga aktif di organisasi politik. Peran serta masyarakat politik serta penyelenggara pemilu untuk saling ingat mengingatkan akan menentukan tingkat keberhasilan setiap tahahan Pemilu 2019.

Kadis KB dan Pemberdayaan Perempuan  Pemda Bolmong Utara Ibu Sity Sabriana Buhang, S.Prt. M.Kes dalam makalahnya "Pemilu Dan Demokrasi Dalam Perspektif Perempuan" mengungkapkan persoalan gender kerap dipersoalkan diantaranya karena stereotype artinya perempuan secara kodrat hanyalah melahirkan anak, dapur, kasur, merawat anak dan melayani suaminya. Partisipasi perempuan dalam politik harus ditingkatkan. Rendahnya partisipasi perempuan dalam politik menyebabkan isu tentang keberpihakan perempuan kurang terdengar.

"Selain itu masih tingginya pragmatis politik dengan lebih mengutamakan calon berbasis popularitas dan modal kuat ketimbang kompetensi." Ujar Sabriana.

Wahyudin Ukoli sebagai pemateri kedua dalam sosialisasi ini mengungkapkan tentang Daftar Pemilu Tetap (DPT) Tingkat Nasional mencapai 185.732.093 jiwa, pemilih berjenis kelamin laki-laki sebanyak 92.802.671 jiwa, dan pemilih berjenis kelamin perempuan sebanyak 92.929.422 jiwa. 

"Dari perbandingan gender, maka pemilih perempuan dalam Pemilu 2019 lebih banyak dari jenis kelamin laki-laki, sehingga peran perempuan dalam forum warga berbasis keluarga  sangat penting  dalam meraih perolehan  suara, dan hal ini sudah teruji dalam perhelatan pemilihan legislatif setiap daerah pemilihan minimal 30 persen dari daftar para caleg setiap parpol, namun apakah  peran perempuan dalam meraih suara adalah  pilihan tersendiri bagi setiap kaum perempuan itu sendiri dalam sistem berdemokrasi  lewat Pemilu 2019." 

Dalam tertib kepatuhan terhadap aturan pemilu terhadap pelanggaran; hak pilih kita jangan ditukarkan dengan politik uang, karena sanksinya ada pidana politik, partisipasi perempuan dalam urusan rumah tangga adalah memberikan pemahaman terhadap anak-anaknya sebagai pemilih pemula agar waspada menerima politik uang dari siapapun  karena berdampak hukum dan saksinya. 

Sesi tanya jawab hanya menyangkut isu yang berkembang menjelang Pemilu serentak 2019 tentang perpecahan antar umat beragama dan menjadi pemilih cerdas dalam memilih dan memilah para capres, caleg, DPD serta peran para penyelenggara pemilu tetap netral dalam sikapnya serta tindakannya dalam proses tahapan pemilu.

Para pelaku pelaku politik; sasarannya adalah pemilih pemula akan mudah goyah jika tidak diberikan pengertian dan pemahaman pidana politik uang, sehingga peran perempuan sebagai ibu rumah tangga sangat penting dan strategis, ungkap Rita Sophia Darondo.

Sosialisasi menjelang Pemilu 209 betapa berat tantangan penyelenggara pemilu ketika rekapitulasi secara berjenjang dari 805.075 Tempat Pemungutan Suara (TPS) di 83.370 desa/kelurahan, 7.201 kecamatan, 514 kota, dan 34 provinsi di Indonesia, hal ini dijelaskan oleh Ketua Bawaslu Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Irianto Pontoh, SPd pada akhir acara ini dan menghimbau jangan melakukan pelanggaran tindak pidana politik uang atau melakukan tindak pidana kecurangan dalam pemungutan suara, dan hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama. (/Gandhi Goma).