Sumatra Utara

Sumatra Utara (4)

Medan Sulutnews.com - Seminar online yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Medan Area, Prodi Ilmu Komunikasi dengan tajuk "Semiloka Rekontruksi Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka," Selasa (2/3/2021), menjadi hangat, dengan tampilnya Ketua Umum SMSI Pusat, Firdaus, yang memberikan paparan tentang dasar- dasar jurnalistik di era digital.

Turut hadir juga sebagai narasumber,  Hermansyah, SE (Ketua SMSI Sumut), Drs. H. Sofyan Harahap (Wakil Penanggung Jawab Harian Waspada), Jimmi A.A.,  S.Ps. CHRP, CHRM (Manager Komunikasi PT. PLN Persero, UIW Sumatera Utara), Syaiful Anwar Lubis (Ketua IJTI Sumut dan Praktisi Jurnalis Televisi), Fakhrur Rozi (Dewan Redaksi Kaldera.id/Dosen UINSU), Aldi Wilman, ST (Manager Kadiv & Public Relatioan Regional 1), Saurma MGP Siahaan, MIPR (Ketua BPC Perhumasan Meda), Chandi Mohammad, SE (Youtuber), Tulangtio, SE (Alumni Influencer Conten Creator, Penyanyi) dan Dr. Dedy Sahputra, MA yang bertindak sebagai moderator.

Diawal bicara mengenai dasar jurnalistik di era digital, saat ini menurut Firdaus, ada beberapa masalah yang dialami media diantaranya, mencari model media, meningkatkan kepercayaan pembaca, membangun iklim bisnis, bersaing dengan media sosial yang banyak menarik minat para pengguna internet untuk segementasi hiburan dan praktik media terus berubah akibat disrubsi digital.

Saat ini lanjut Firdaus, media baru telah  mengubah jurnalisme dalam empat cara, pertama, sifat konten berita berubah akibat dari munculnya teknologi media baru yaitu, konten interaktif, realtime, kedua, cara wartawan melakukan pekerjaannya berbasiskan digital dan multimedia, multiplatform, ketiga struktur ruang redaksi dan industri berita sedang mengalami transformasi mendasar, keempat, media baru membentuk kembali bagaimana hubungan antara unsur di dalam organisasi berita yaitu jurnalis, dan audiens termasuk narasumber, pesaing, pengiklan, dan pemerintah.

"Contoh, audien tidak hanya hanya sebagai penerima berita, tapi juga pemasok berita.(Jhon P Pavlik, 2001)," ujar Firdaus.

Selain itu, di era digital, diungkapkan Firdaus, telah muncul karakter baru media digital.

"Teori gatekeeping,  yang menjelaskan berita diseleksi dan ditentukan tim redaksi sebelum berita ditayangkan, tidak berlaku dalam media digital. Dan berubah menjadi gatekeeping digital, online, virtual, karena interaktivitas audiens membuat audien berpartisipasi sebagai penjaga gerbang sekunder di Internet. Media digital dan media sosial memungkinkan  audiens untuk berpartisipasi dalam dialog, berinteraksi langsung dengan bisnis, institusi, dan pembuat berita. (Shoemaker & Vos, 2009)," papar Firdaus.

Ditambahkan Firdaus, dalam menulis judul di media digital ditentukan oleh Google dengan sistem clicbait yaitu istilah untuk judul berita yang dibuat untuk menggoda pembaca yaitu menggunakan  bahasa yang provokatif dan  menarik perhatian.

"Karena judul adalah elemen yang paling pertama dibaca netizen di hasil pencarian, maka dengan mengoptimasi judul jumlah klik bisa bertambah. klik tidak melalui konten berkualitas, melalui tajuk utama halaman depan yang menarik, provokatif, dan sensasional yang bertujuan mengeksploitasi keingintahuan pengguna," tandas Firdaus.

Lebih jauh diterangkan Firdaus, di era digital, jurnalis menggunakan media sosial sebagai alat pengumpul informasi, memeriksa berita media lain, mendapatkan berita terkini, mewawancari narasumber, memvalidasi informasi, dan menyebarkan pemberitaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Trending topics media sosial dapat memiliki pengaruh signifikan dalam memproduksi informasi yang mempengaruhi agenda publik. Media menggunakannya, agar tidak tertinggal informasi yang sedang diperbincangan para nitizen," tutur Firdaus.

Media, sambung Firdaus,  menjadikan media sosial sebagai medium penyebarluasan berita. Karena media sosial dapat memperluas kemampuan berkomunikasi.

"Penyajian berita pada media sosial tersebut dilakukan dalam format foto, infografis, video pendek berdurasi satu sampai enam menit, videografis, dan live streaming," urai Firdaus.

Masih dalam paparanya, owner Teras Grup ini juga menjelaskan berbagai bentuk berita diantaranya, Hard news yang  memiliki daya tarik tinggi bagi pembaca karena sifatnya informatif, aktual, realtime.

Selanjutnya berita opini yang mengulas persoalan secara khusus dengan pendekatan akademik dan jurnalisme sastrawi.

"Berita-berita opini memiliki nilai tersendiri bagi para pembacanya. Berita opini untuk refrensi dalam beberapa kasus, seperti isu lingkungan, hukum, politik, ekonomi dan sosial," cetus Firdaus.

"Berita investigasi memiliki nilai lebih dalam memberikan kepuasan pembaca, sehingga berita ini akan sangat ekslusif dalam memberikan berita. Tingkat kerumitan dan proses panjang membuat berita ini akan mampu menarik pembaca dari berbagai segementasi pembaca," imbuh Firdaus.

Sementara itu, bicara perihal masa depan jurnalistik, Firdaus menerangkan, menurut (Burgess & Hurcombe, 2019:365), jurnalisme digital adalah praktik-praktik pengumpulan berita, pelaporan, produksi teks dan komunikasi tambahan yang mencerminkan, merespons, dan membentuk logika sosial, budaya dan ekonomi dari lingkungan media digital yang terus berubah.

Jadi jurnalistik digital tidak hanya memindahkan produk media konvensional ke media digital, tapi juga harus membuat model bisnis.

Firdaus mencontohkan, model bisnis ”The Long Tail” yang  dipopulerkan oleh Chris Anderson tahun 2004. Istilah ini mendeskripsikan  strategi bisnis pada segment pasar tertentu seperti yang dilakukan oleh Amazon.com atau Netflix, yang menjual sejumlah besar item unik dimana masing-masing memiliki kuantitas yang sedikit ke pangsa pasar yang besar.

Lalu, model bisnis Siberindo.co, media digital  yang motori  Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) menjadi newsroom terbesar di Indonesia merupakan model bisnis media digital yang memproduksi konten dimana konten bisa digunakan anggota SMSI se-Indonesia. Kolaborasi ini berpotensi secara ekonomi, dengan tetap memegang teguh prinsip akuntabilitas penulisan informasi.

Diakhir paparan, Firdaus menyebut, masa depan jurnalistik adalah bagaimana mengkombinasi jurnalisme lama dan baru yaitu fungsi pers sebagai penjaga pintu tak menghilang sepenuhnya, melainkan hanya mengecil dimensinya tentang apa yang mesti disediakan pers.

"Pers harus menampilkan seperangkat fungsi yang lebih kompleks dari sekadar penjaga pintu dan mengadopsi format baru gaya bertutur, penyebaran dan pelibatan public dalam berita. Pers masih menjadi mediator, tetapi dengan peran mediasi yang lebih beragam dan kompleks, dan menjalankannya di dunia komunikasi tanpa batas seperti sekarang akan lebih sulit. (Kovach dan Rosentiels, 2012: 180)," pungkas Firdaus.(*/Rolina)

Medan, Sulutnews.com - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Medan Area, Prodi Ilmu Komunikasi menggelar seminar online bertajuk "Semiloka Rekontruksi Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka," Selasa (2/3/2021).

Hadir sebagai narasumber, Drs. Firdaus, M.Si (Ketua Umum SMSI), Hermansyah, SE (Ketua SMSI Sumut), Drs. H. Sofyan Harahap (Wakil Penanggung Jawab Harian Waspada), Jimmi A.A.,  S.Ps. CHRP, CHRM (Manager Komunikasi PT. PLN Persero, UIW Sumatera Utara), Syaiful Anwar Lubis (Ketua IJTI Sumut dan Praktisi Jurnalis Televisi), Fakhrur Rozi (Dewan Redaksi Kaldera.id/Dosen UINSU), Aldi Wilman, ST (Manager Kadiv & Public Relatioan Regional 1), Saurma MGP Siahaan, MIPR (Ketua BPC Perhumasan Meda), Chandi Mohammad, SE (Youtuber), Tulangtio, SE (Alumni Influencer Conten Creator, Penyanyi) dan selaku moderator, Dr. Dedy Sahputra, MA.

Dalam paparanya Ketua Umum SMSI, Firdaus yang membawakan materi tentang  Publisitas di Era Digital menerangkan bahwa, publisitas adalah segala kegiatan yang dilakukan untuk mengenalkan perusahaan dan atau produk kepada masyarakat melalui media massa.

"Publisitas merupakan penyebaran pesan secara terencana dengan menggunakan media tertentu, guna mencapai kepentingan organisasi tanpa melakukan pembayaran pada media," ujar Firdaus.

Dalam melaksanakan publisitas, lanjut Firdaus, melakukan sejumlah usaha komunikasi untuk menjalin relasi yang baik sehingga tercapai tujuan membangun, membina dan menjaga citra atau reputasi institusi secara positif.

"Reputasi institusi ini merupakan suatu aset yang sangat berharga secara komersial dan terganggunya reputasi dapat mengikis keandalan bisnis dalam memaksimalkan shareholder value, finance, independency dan market share (Larkin, 2003)," jelasnya.

Lebih jauh diungkapkan Firdaus, dimata jurnalis, publisitas adalah informasi yang disediakan oleh sumber luar yang digunakan oleh media karena informasi itu memiliki nilai berita.

"Public relations tidak dapat mengontrol atau menentukan apakah berita dimuat atau tidak," tandas Firdaus.

Kegiatan publisitas sendiri menurut Firdaus meliputi, penulisan Press Release  (teks, audio, video), Konferensi Pers, Press Tours, Press Party, Press Receptions, Media Gathering, dan wawancara khusus.

Masih bicara tentang publisitas, Cyber Public Relations inisiatif public relations yang menggunakan media internet sebagai sarana publisitas melalui publikasi online,  media sosial, dan komunitas online.

"E PR harus mampu mengembangkan konten untuk format distribusi media cetak, radio, TV, situs web, e-mail, iTV, PDA, WAP, Usenet, media sosial agar dapat dengan tepat menjangkau berbagai macam audiens,"  ucap Firdaus.

Ditambahkan Firdaus, Kekuatan Cyber PR antar lain, Convergence (memusat/integrasi), Reach (jangkauan), Ease of Use (mudah digunakan),  Speed(kecepatan), Real time (seketika), Compression and Streaming dan, (pemampatan dan mengalir).

Sedangkan fungsi media sosial bagi organisasi dan publiknya adalah mempertahankan identitas organisasi, membangun hubungan, kemampuan untuk mengontrol manajemen isu, mempromosikan Corporate Social Responsibility  (Amy Reitz, 2012).

Lalu strategi cyber PR melalui penyebaran informasi melalui  public relations news dan public relations web, penyebaran informasi dalam Executive summary, melalui metode email, slide share, scribd, social media, penyebaran informasi dalam Flickr Graphs, menggunakan media picasa dan media sosial, penyebaran informasi dalam blog snippets melalui social media, penyebaran informasi dalam events-events, Pembuatan video yang diunggah di  youtube, social media, e-mail, penyebaran informasi  dalam bentuk audio melalui i-tunes, penyebaran informasi dalam slides yang bisa disebarkan melalui e-mail, slide shares, scribd, dan social media. (Dewi Kusumawardani, Quani,  2016)

"Tujuan utama publisitas adalah bagaimana media memberitakan perusahaan atau institusi sesuai dengan tujuan yang diinginkan, reputasi meningkat dan dukungan stakeholder menguat secara berkelanjutan," pungkas Firdaus diakhir paparanya.

Seminar Online Univeritas Medan Area, Ketum SMSI Bicara Jurnalistik Digital dan Masa Depan Media

Masih dalam seminar online yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Medan Area, Prodi Ilmu Komunikasi dengan tajuk tajuk "Semiloka Rekontruksi Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka," Selasa (2/3/2021), Ketua Umum SMSI Pusat, Firdaus, memberikan paparan tentang dasar- dasar jurnalistik di era digital.

Turut hadir juga sebagai narasumber,  Hermansyah, SE (Ketua SMSI Sumut), Drs. H. Sofyan Harahap (Wakil Penanggung Jawab Harian Waspada), Jimmi A.A.,  S.Ps. CHRP, CHRM (Manager Komunikasi PT. PLN Persero, UIW Sumatera Utara), Syaiful Anwar Lubis (Ketua IJTI Sumut dan Praktisi Jurnalis Televisi), Fakhrur Rozi (Dewan Redaksi Kaldera.id/Dosen UINSU), Aldi Wilman, ST (Manager Kadiv & Public Relatioan Regional 1), Saurma MGP Siahaan, MIPR (Ketua BPC Perhumasan Meda), Chandi Mohammad, SE (Youtuber), Tulangtio, SE (Alumni Influencer Conten Creator, Penyanyi) dan Dr. Dedy Sahputra, MA yang bertindak sebagai moderator.

Diawal bicara mengenai dasar jurnalistik di era digital, saat ini menurut Firdaus, ada beberapa masalah yang dialami media diantaranya, mencari model media, meningkatkan kepercayaan pembaca, membangun iklim bisnis, bersaing dengan media sosial yang banyak menarik minat para pengguna internet untuk segementasi hiburan dan praktik media terus berubah akibat disrubsi digital.

Saat ini lanjut Firdaus, media baru telah  mengubah jurnalisme dalam empat cara, pertama, sifat konten berita berubah akibat dari munculnya teknologi media baru yaitu, konten interaktif, realtime, kedua, cara wartawan melakukan pekerjaannya berbasiskan digital dan multimedia, multiplatform, ketiga struktur ruang redaksi dan industri berita sedang mengalami transformasi mendasar, keempat, media baru membentuk kembali bagaimana hubungan antara unsur di dalam organisasi berita yaitu jurnalis, dan audiens termasuk narasumber, pesaing, pengiklan, dan pemerintah.

"Contoh, audien tidak hanya hanya sebagai penerima berita, tapi juga pemasok berita.(Jhon P Pavlik, 2001)," ujar Firdaus.

Selain itu, di era digital, diungkapkan Firdaus, telah muncul karakter baru media digital.

"Teori gatekeeping,  yang menjelaskan berita diseleksi dan ditentukan tim redaksi sebelum berita ditayangkan, tidak berlaku dalam media digital. Dan berubah menjadi gatekeeping digital, online, virtual, karena interaktivitas audiens membuat audien berpartisipasi sebagai penjaga gerbang sekunder di Internet. Media digital dan media sosial memungkinkan  audiens untuk berpartisipasi dalam dialog, berinteraksi langsung dengan bisnis, institusi, dan pembuat berita. (Shoemaker & Vos, 2009)," papar Firdaus.

Ditambahkan Firdaus, dalam menulis judul di media digital ditentukan oleh Google dengan sistem clicbait yaitu istilah untuk judul berita yang dibuat untuk menggoda pembaca yaitu menggunakan  bahasa yang provokatif dan  menarik perhatian.

"Karena judul adalah elemen yang paling pertama dibaca netizen di hasil pencarian, maka dengan mengoptimasi judul jumlah klik bisa bertambah. klik tidak melalui konten berkualitas, melalui tajuk utama halaman depan yang menarik, provokatif, dan sensasional yang bertujuan mengeksploitasi keingintahuan pengguna," tandas Firdaus.

Lebih jauh diterangkan Firdaus, di era digital, jurnalis menggunakan media sosial sebagai alat pengumpul informasi, memeriksa berita media lain, mendapatkan berita terkini, mewawancari narasumber, memvalidasi informasi, dan menyebarkan pemberitaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Trending topics media sosial dapat memiliki pengaruh signifikan dalam memproduksi informasi yang mempengaruhi agenda publik. Media menggunakannya, agar tidak tertinggal informasi yang sedang diperbincangan para nitizen," tutur Firdaus.

Media, sambung Firdaus,  menjadikan media sosial sebagai medium penyebarluasan berita. Karena media sosial dapat memperluas kemampuan berkomunikasi.

"Penyajian berita pada media sosial tersebut dilakukan dalam format foto, infografis, video pendek berdurasi satu sampai enam menit, videografis, dan live streaming," urai Firdaus.

Masih dalam paparanya, owner Teras Grup ini juga menjelaskan berbagai bentuk berita diantaranya, Hard news yang  memiliki daya tarik tinggi bagi pembaca karena sifatnya informatif, aktual, realtime.

Selanjutnya berita opini yang mengulas persoalan secara khusus dengan pendekatan akademik dan jurnalisme sastrawi.

"Berita-berita opini memiliki nilai tersendiri bagi para pembacanya. Berita opini untuk refrensi dalam beberapa kasus, seperti isu lingkungan, hukum, politik, ekonomi dan sosial," cetus Firdaus.

"Berita investigasi memiliki nilai lebih dalam memberikan kepuasan pembaca, sehingga berita ini akan sangat ekslusif dalam memberikan berita. Tingkat kerumitan dan proses panjang membuat berita ini akan mampu menarik pembaca dari berbagai segementasi pembaca," imbuh Firdaus.

Sementara itu, bicara perihal masa depan jurnalistik, Firdaus menerangkan, menurut (Burgess & Hurcombe, 2019:365), jurnalisme digital adalah praktik-praktik pengumpulan berita, pelaporan, produksi teks dan komunikasi tambahan yang mencerminkan, merespons, dan membentuk logika sosial, budaya dan ekonomi dari lingkungan media digital yang terus berubah.

Jadi jurnalistik digital tidak hanya memindahkan produk media konvensional ke media digital, tapi juga harus membuat model bisnis.

Firdaus mencontohkan, model bisnis ”The Long Tail” yang  dipopulerkan oleh Chris Anderson tahun 2004. Istilah ini mendeskripsikan  strategi bisnis pada segment pasar tertentu seperti yang dilakukan oleh Amazon.com atau Netflix, yang menjual sejumlah besar item unik dimana masing-masing memiliki kuantitas yang sedikit ke pangsa pasar yang besar.

Lalu, model bisnis Siberindo.co, media digital  yang motori  Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) menjadi newsroom terbesar di Indonesia merupakan model bisnis media digital yang memproduksi konten dimana konten bisa digunakan anggota SMSI se-Indonesia. Kolaborasi ini berpotensi secara ekonomi, dengan tetap memegang teguh prinsip akuntabilitas penulisan informasi.

Diakhir paparan, Firdaus menyebut, masa depan jurnalistik adalah bagaimana mengkombinasi jurnalisme lama dan baru yaitu fungsi pers sebagai penjaga pintu tak menghilang sepenuhnya, melainkan hanya mengecil dimensinya tentang apa yang mesti disediakan pers.

"Pers harus menampilkan seperangkat fungsi yang lebih kompleks dari sekadar penjaga pintu dan mengadopsi format baru gaya bertutur, penyebaran dan pelibatan public dalam berita. Pers masih menjadi mediator, tetapi dengan peran mediasi yang lebih beragam dan kompleks, dan menjalankannya di dunia komunikasi tanpa batas seperti sekarang akan lebih sulit. (Kovach dan Rosentiels, 2012: 180)," pungkas Firdaus.(*/Rolina)

Medan,Sulutnews.com - Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, menyambut kedatangan Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) periode 2020-2024, Pdt Dr Robinson Butarbutar di Rumah Dinas Gubernur Sumut, Jalan Jenderal Sudirman Medan, Senin (28/12/2020).

Ephorus Pdt Dr Robinson Butarbutar datang saat itu bersama dengan Sekretaris Jenderal Pdt Dr Victor Tinambunan MST, Kepala Departemen Koinonia Pdt Dr Deonal Sinaga dan Kepala Departemen Marturia Pdt Kardi Simanjuntak MMin.

Sementara Gubernur Edy didampingi Staf Ahli Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan, Binsar Situmorang, Kepala Balitbang Sumut, Harianto Butarbutar, Kadis Budpar Sumut, Ria Novida Telambanua dan Kepala Biro Bina Perekonomian Sumut, Ernita Bangun. Turut hadir Pdt Dr Eben Siagian STh dan tokoh masyarakat Sumut, Kisharyanto Pasaribu.

Gubernur Edy dan Ephorus Pdt  Robinson tampak akrab dalam pertemuan silaturahmi tersebut. Bahkan canda tawa juga menyelingi pembicaraan mereka bersama rombongan lainnya. Namun kadang mereka juga terlibat pembicaraan serius.

Pertemuan Gubernur Edy Rahmayadi dengan Ephorus Pdt Robinson itu adalah yang pertama kali sejak Pdt Robinson terpilih sebagai Ephorus HKBP pada 11 Desember 2020 di Sinode Godang, di Seminarium Sipoholon, Taput.

Kedua-duanya sama-sama mengungkapkan kerinduan untuk bertemu. Ephorus Pdt Robinson misalnya, sangat berterima kasih atas dukungan semua pihak, termasuk Pemprov Sumut dengan telah terlaksananya Sinode Godang. 

Dia berharap Gubernur Edy bisa segera berkunjung ke Kantor Pusat HKBP di Pearaja, Tarutung. "Tadi sudah banyak sekali pembicaraan kita. Kami mengapresiasi dukungan yang diberikan semua pejabat tinggi di Sumatera Utara untuk terlaksananya Sinode Godang dengan sangat ketat protokol kesehatan dan kami semua tunduk pada harapan pemerintah. Sehingga kami dapat melaksanakan Sinode Godang itu dengan sangat baik," ujar Ephorus kepada wartawan.

Pdt Robinson juga mengungkapkan harapan Gubernur Edy kepada ephorus sebagai pemimpin agama, agar turut bekerjasama  membangun moralitas etis dari Sumut. "Agar dengan moralitas etis itu, kita bisa membangun Sumut secara bersama-sama dengan baik," ujar Ephorus.

Akan tetapi, Pdt Robinson menampik jika kunjungan Pucuk Pimpinan HKBP itu dikaitkan dengan politik. Sebab sebagai gereja, HKBP tidak bisa berbicara politik. Juga dalam kapasitas dirinya sebagai Ephorus HKBP, tegas Pdt Robinson, juga tidak bisa berpolitik.

Sementara Gubernur Edy juga rindu bertemu. Bahkan dia mengatakan seharusnya dirinyalah yang lebih dulu menjumpai Ephorus HKBP sebagai salah satu pemimpin umat Kristiani, termasuk dengan para tokoh agama lainnya di Sumut. "Awal beliau menjabat 11 Desember 2020 (tersebutkan 13 Desember), inilah direncanakan beliau (ephorus) datang ke Gubernur Sumut. Apresiasi, harusnya saya yang datang kepada tokoh-tokoh agama, kalau Islam, ulama, kalau Nasrani, ephorus," ujar Edy.

Kunjungan Pucuk Pimpinan HKBP itu, sebut Edy, menunjukkan ciri khas baik Sumut yang telah berlangsung turun-temurun, yakni beragam tapi satu. Gubernur Edy juga berpesan kepada Pucuk Pimpinan HKBP agar sama-sama membangun Provinsi Sumut.

Teks Foto : Foto Bersama Rombongan : Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi foto bersama dengan Ephorus HKBP periode 2020-2024, Pdt Dr Robinson Butarbutar dan rombongannya di Rumah Dinas Gubernur Sumut, Jalan Jenderal Sudirman Medan, Senin (28/12).

Di bagian akhir audiensi itu, Ephorus HKBP memberikan cinderamata berupa ulos, yang langsung diuloskannya bersama Sekjen dan kepala departemen kepada Gubernur Edy Rahmayadi. Demikian juga Gubernur Edy, turut memberikan cindermata berupa plakat Pemprov Sumut, yang diakhir dengan foto bersama.(/SMSI)

Samosir, Sulutnews.com - Anggota DPR RI, DR Effendi Muara Sakti Simbolon melempar pujian kepada Bupati Samosir Rapidin Simbolon dan Wakil Bupati Juang Sinaga. Efendi menyebut pasangan Bupati dan Wakil Bupati dengan slogan Rapberjuang merupakan pasangan kompak majunya pembangunan Samosir dan wisata Danau Toba.

Effendi yang juga sebagai Ketua Umum Punguan Simbolon dohot Boruna Indonesia (PSBI) mengaku sudah melakukan kunjungan ke sejumlah desa yang ada di kabupaten seluas 1.444,25 kilo meter persegi itu.

Dalam kunjungannya, Effendi melihat banyak pembangunan di kabupaten yang beribukota Pangururan itu sedang berlangsung. Mulai dari pembangunan drainase, jalan kabupaten, jembatan hingga infrastruktur pariwisata yang anggarannya bersumber dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir, Pemerintah Provinsi Sumatra Utara (Pemprov Sumut), dan pemerintah pusat.

Realisasi pembangunan ini sejalan dengan capaian Pemerintah Kabupaten Samosir yang berhasil meraih Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) tahun 2020 sesuai dengan surat Deputi Bidang Pemantauan, Evaluasi, dan Pengendalian Pembangunan Kementerian PPN/ Bappenas RI.

 “Tentunya ini menjadi momentum bahwa Pemkab Samosir mendukung majunya destinasi wisata yang sudah ditetapkan oleh UNESCO. Selain itu, dukungan tersebut pun turut disertai dengan kucuran anggaran dari pemerintah pusat untuk sejumlah kabupaten yang mengelilingi danau terbesar se-Asia Tenggara, salah satunya Kabupaten Samosir,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (18/11/2020)

Effendi menerangkan dari kunjungannya ke kabupaten yang resmi berdikari pada 18 Desember 2003 itu, terdapat pelebaran alur tano ponggol, rehabilitasi embung nadeak, penataan trotoar dan drainase kawasan pariwisata Samosir, pelebaran jalan pembangunan jalan lingkar pesisir Danau Toba untuk konektivitas 7 kabupaten, dan lainnya. 

Dia menilai bahwa kepemimpinan Rapidin Simbolon sebagai Bupati Samosir dianggap berhasil melakukan pembangunan di sejumlah sektor seperti pariwisata dan sektor pertanian-perikanan yang menjadi tumpuan utama mata pencaharian masyarakat Samosir dengan tetap menjaga kelestarian seni, adat dan budaya warisan leluhur “Dalihan na tolu” yang tidak bertentangan dengan ajaran agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Samosir.

 “Masih banyak yang harus dilakukan guna kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu saya sebagai Anggota DPR RI dan juga yang berasal dari Bonapasogit Pulo Samosir sangat berharap kelangsungan kepemimpinan Rapidin Simbolon guna menjamin terwujudnya semua program pembangunan baik yang ditargetkan oleh Presiden Jokowi maupun aspirasi dari musrenbang di tingkat kabupaten dan provinsi sumut,” ujarnya.

Seperti yang diketahui bahwa Kementerian PUPR mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2,4 triliun untuk mengembangkan Kawasan Danau Toba. Anggaran itu diantaranya diperuntukkan bagi Kabupaten Samosir yang melingkupi pembangunan sumber daya air, bina marga, perumahan dan cipta karya.

Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan pariwisata bukan hanya didukung oleh infrastruktur yang memadai saja, tapi juga harus didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM). Untuk itu, ia berharap di kepemimpinan nantinya peningkatan kualitas SDM harus diutamakan. 

 “Ini bertujuan untuk meningkatkan kepariwisataan kita. Bagaimana memberikan pelayanan yang terbaik buat pengunjung atau turis baik lokal maupun mancanegara. Saya kira, Samosir sudah banyak berbenah dan banyak perubahan ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.(/MS)