Kemandirian Relatif Media Massa

Written by  Gandhi Goma Feb 07, 2022

Kendari, Sulutnews.com - Transformasi Digital adalah sesuatu yang tak bisa dihindari. Semua sektor mengalaminya. Menolaknya jelas bukan pilihan yang realistis. Mempersiapkan diri untuk menghadapinya adalah sebuah keharusan. Keniscayaan itu juga berlaku untuk industri media massa.

Tahapan acara Hari Pers Nasional (HPN) dengan tema; KONVENSI NASIONAL MEDIA MASSA : "Membangun Kedaulatan Nasional Di Tengah Gelombang Digitalisasi Global." Dibuka resmi oleh Menteri BUMN Erick Thohir secara virtual. Bertempat di Claro Hotel  Kota Kendari. Senin (07/02/2022)

Sebelum masuk ruangan, panitia memberi sebuah buku dari Dewan Pers; "Dialektika Industri Media Nasional Menghadapi Disrupsi Digital." (Rangkuman Seri Diskusi "Membangun Model Media Massa Berkelanjutan")

Ditulis oleh Agus Sudibyo.

Menjadi perhatian dari tulisan ini mengenai komunikasi media massa yang beretika seharusnya menjadi solusi bagi ruang publik media. Dalam pemberitaannya, pers tidak terjebak dalam keriuhan yang yang tak meninggalkan manfaat bermakna buat pembaca.

Empat November 2021, publik dikejutkan oleh meninggalkannya artis Vanessa Angel dan suami dalam kecelakaan maut di jalan bebas-hambatan di wilayah Nganjuk, Jawa Timur. Namun, apa benar pemberitaan media mesti segencar dan seheboh itu ? Apa iya dalam jurnalisme terkini, trafik dan page view menjadi pertimbangan utama dalam proses produksi berita, mengalahkan pertimbangan kualitas jurnalistik dan kelayakan publik ? Apakah secara moral dapat dibenarkan "jurnalisme selebritis" menenggelamkan jurnalisme publik ?

Untuk para pengelola media saat ini, semakin sulit menghadapi integrasi ke dalam ekosistem distribusi konten, data penguna dan periklanan yang dikendalikan platform digital global. Persinggungan jurnalisme dengan teknologi penunjang distribusi konten, penambangan data dan layanan iklan yang dioperasikan platform digital sesungguhnya hanya soal waktu dan intensitas.

Dalam konteks membangun kemandirian relatif terhadap platform digital global, apa yang mesti dilakukan ? Para penerbit atau pengelola media di Indonesia semestinya tidak hanya berkutat dengan eksploitasi target yang mudah tercapai, orientasi untuk bertahan hidup dalam jangka pendek dan mengembangkan inisiatif strategis secara top down untuk memberi respon cepat terhadap terpaan disrupsi. Tiga hal ini menyelamatkan media dalam jangka pendek, tetapi akan menghadirkan disrupsi yang lebih mendalam pada jangka panjang.

"Para penerbit harus berani mengeksplorasi potensi pertumbuhan dengan membangun strategi yang tetap berbasis pada penempatan jurnalisme berkualitas dengan keunggulan komperatif media massa," ujar Agus Sudibyo.

Pemberitaan kecelakaan maut Vanessa Angel menjadi contoh. Banyak media mendulang page view yang besar dari kecelakaan maut itu bukan terutama karena beritanya memang bagus, tetapi karena kemurahan Google dalam menyediakan teknologi yang memungkinkan suatu konten muncul di daftar top search.

Realitas yang seperti ini tentu tidak kondusif bagi pengembangan jurnalisme berkualitas. Ruang publik media dilanda gelombang tabloidisasi, dalam arti dibanjiri konten-konten yang mungkin saja menarik, menghibur, menebus rasa penasaran masyarakat, tetapi tidak benar-benar relevan dengan kebutuhan untuk membangun ruang publik yang mencerahkan dan memberdayakan.

"Dalam jangka panjang, tabloidisasi ruang media membuat publik sulit membedakan media massa dan media sosial, karena toh apa yang mereka sajikan hampir serupa. Tentu saja hal ini berdampak negatif terhadap citra media di hadapan publik, juga di hadapan pengiklan. Dengan kata lain, tabloidisasi ruang media merupakan model media yang tidak berkelanjutan secara sosial maupun secara bisnis,"ujarnya.

Bagaimana meraih iklan tanpa perantara perusahaan layanan periklanan digital ? Hal ini tidak kalah penting dalam hal ini adalah penerbit harus bekerjasama dengan perusahaan yang menyediakan teknologi periklanan tanpa perantara (direct ads platform). Penerbit membutuhkan teknologi yang dapat membantunya meraih transaksi iklan secara langsung dari pengiklan.

Pentingnya membangun hubungan langsung dengan pengiklan pararel dengan pentingnya menjaga hubungan langsung penerbit dengan pembaca.

Distribusi konten penerbit semakin tergantung pada platform digital. Bahkan lebih dari itu, berita penerbit yang mendistribusikan melalui platform digital juga dirancang untuk secara langsung diakses (natively) oleh pengguna pada platform seperti Apple News, Facebook Instant Articles, Instagram, dan Snapchat, alih-alih diakses pada website penerbit. Produk penyajian konten secara langsung di platform (native) ini terjadi pada Google AMP, Facebook Instant Articles, Twitter Moments, Apple News, Snapchat Discover, dan Instagram Stories. (**/Gandhi Goma).