Lipsus

Lipsus (5)

Dubai, Sulutnews.com - 25 April 2019 - Membawa filantropi ke level selanjutnya, UNHCR merestrukturisasi program Zakatnya menjadi Dana Zakat Pengungsi untuk membantu individu dan institusi keuangan Islam mewujudkan tanggung jawab sosial mereka dengan dampak global

  • Laporan perdana menunjukkan bahwa umat Muslim membayar sekitar US$76 miliar Zakat setiap tahunnya, jumlah yang berpotensi besar untuk memberikan dampak positif pada dunia
  • Struktur yang membawa perubahan ini berpotensi membantu 154.740 keluarga pengungsi yang paling rentan di Yordania, Lebanon, Yaman, Irak, Mauritania, dan Mesir
  • Program Zakat UNHCR menerima US$14,4 juta dari tahun 2016 hingga 2018 dari individu dan institusi di seluruh dunia berdasarkan laporan perdana tentang pengumpulan dan distribusi Zakat
  • UNHCR mendorong umat Muslim di seluruh dunia untuk mengingat para pengungsi dalam doa mereka dan melalui Zakat mereka pada bulan suci Ramadan ini

Dunia Muslim berpotensi untuk mengubah filantropi melalui penargetan puluhan miliar dolar dari sedekah wajib secara strategis, seperti yang diumumkan oleh Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) pada acara yang dihadiri oleh para pejabat, duta besar, dan spesialis, untuk meluncurkan Dana Zakat Pengungsi, struktur global baru yang mengubah program Zakat UNHCR yang sudah ada menjadi pendanaan global yang bertujuan membantu populasi pengungsi yang paling rentan sekaligus memenuhi kebutuhan institusi Islam dan individu dalam memenuhi tanggung jawab sosial mereka.

 UNHCR mengumumkan “UNHCR Zakat Program: 2019 Launch Report”, yang dikembangkan dengan bekerja sama dengan DinarStandard, sebuah firma penasihat dan penelitian strategi pertumbuhan sekaligus penulis pendamping dari laporan tersebut, dalam peluncuran Dana Zakat Pengungsi hari ini. Laporan ini menyatakan bahwa program Zakat UNHCR secara global menerima US$14,4 juta dari tahun 2016 hingga 2018, secara langsung membantu 6.888 keluarga pengungsi, yang sebagian besar merupakan pengungsi Suriah di Yordania dan Lebanon. Selain itu, laporan ini menyatakan bahwa Zakat global mencapai US$76 miliar di seluruh dunia, dan berpotensi untuk mencapai US$356 miliar, apabila mekanisme yang tepat disediakan untuk umat Muslim memenuhi kewajiban Zakat mereka secara aman.

 Zakat adalah sedekah wajib dari umat Muslim yang memenuhi kriteria kekayaan yang sesuai setiap tahun, khususnya untuk orang-orang yang membutuhkan. UNHCR telah memelopori penggunaan Zakat dan menciptakan program Zakat untuk membantu keluarga-keluarga pengungsi yang paling rentan. Keputusan untuk merestrukturisasi program Zakat ini menjadi Dana Zakat Pengungsi global didasarkan pada sumbangan besar yang telah diterima UNHCR selama beberapa tahun terakhir.

Dana ini memungkinkan individu dan institusi untuk memenuhi kewajiban Zakat mereka secara efisien melalui organisasi yang dipercaya dan dihormati secara global, yang dikelola oleh UNHCR, dengan 100% kontribusi disalurkan secara langsung kepada para pengungsi yang paling rentan dan keluarga pengungsi dalam negeri. Program Zakat UNHCR sepenuhnya sesuai dengan prinsip Syariat dan didukung oleh fatwa-fatwa dari para ulama dan institusi Islam terkemuka, serta memiliki tata kelola yang ketat, sehingga menjamin transparansi. UNHCR bertujuan untuk menjembatani dana yang dibutuhkan sebesar US$208,6 juta untuk 154.740 keluarga paling rentan yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

“Selama beberapa tahun terakhir, UNHCR telah melihat lonjakan permintaan atas cara yang dapat dipercaya dan efisien untuk memenuhi kewajiban Zakat sekaligus memberikan dampak pada kehidupan populasi yang paling rentan di dunia,” kata Houssam Chahine, Kepala Kemitraan Sektor Swasta di wilayah MENA.

 “Karena keuangan Islam telah menjadi bagian yang penting dari ekonomi global, kami merilis laporan Zakat tahunan pertama kami hari ini dalam acara Tahun Toleransi di Dubai, ibukota ekonomi Islam. Sudah sewajarnya program Zakat kami berkembang menjadi struktur yang lebih menarik bagi industri keuangan Islam global. Struktur dana ini memungkinkan UNHCR untuk lebih transparan dan dapat dipercaya dalam hal penerimaan dan pendistribusian dana Zakat,” Houssam menambahkan.

“Zakat berpotensi untuk menyalurkan puluhan miliar dolar untuk tujuan filantropi global dan kebutuhan kemanusiaan global berdasarkan laporan perdana UNHCR,” kata Rafi-uddin Shikoh, CEO dan Direktur Pengelola di DinarStandard. “Kontribusi sedekah wajib umat Muslim mungkin merupakan solusi untuk menyelesaikan kekurangan dana UNHCR, karena 60% dari 68,5 juta pengungsi di seluruh dunia (sekitar 40,8 juta) memenuhi syarat untuk memberikan Zakat,” Rafi menambahkan.

Meskipun struktur Dana ini diumumkan tepat sebelum bulan suci Ramadan, yang secara tradisional merupakan bulan memberi dan sedekah bagi umat Muslim di seluruh dunia, Chahine dari UNHCR ingin menekankan bahwa kewajiban Zakat dapat dipenuhi sepanjang tahun. “Ramadan adalah waktu yang penting bagi para pengungsi, dan tahun ini, kami meluncurkan kampanye besar secara global untuk mengajak umat Muslim mengingat para pengungsi dalam doa mereka dan melalui Zakat. Namun, Dana Zakat Pengungsi menerima kontribusi sepanjang tahun untuk membantu individu, institusi, dan bisnis menyalurkan Zakat filantropi mereka sesuai dengan persyaratan keuangan hukum dan kalender mereka masing-masing.”

Anggaran yang dibutuhkan oleh UNHCR pada tahun 2019 sebesar US$7,9 miliar untuk memenuhi seluruh kebutuhan para pengungsi, pengungsi dalam negeri, dan orang lain yang membutuhkan di seluruh dunia.

Untuk informasi selengkapnya tentang Dana Zakat Pengungsi, klik tautan berikut: https://zakat.unhcr.org .(/SMSI)

Manado, Sulutnews.com – BPJS Kesehatan menggelontorkan dana sebesar Rp 11 triliun untuk membayar hutang klaim jatuh tempo BPJS Kesehatan kepada rumah sakit. Di luar itu, BPJS Kesehatan juga melakukan pembayaran sebesar Rp 1,1 triliun dalam bentuk dana kapitasi kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

"Sampai hari ini, tagihan klaim rumah sakit yang lolos verifikasi dan sudah jatuh tempo, akan dibayar BPJS Kesehatan dengan mekanisme first in first out. Urutan pembayarannya disesuaikan dengan catatan kami. Rumah sakit yang lebih dulu mengajukan berkas secara lengkap, tentu transaksi pembayaran klaimnya akan diproses terlebih dulu. Upaya menuntaskan pembayaran fasilitas kesehatan ini dapat terwujud karena ada dukungan penuh dari Kementerian Keuangan dan Kementerian Kesehatan," kata Pejabat Pengganti Sementara (PPS) Kepala Cabang Manado BPJS Kesehatan Angla Pelealu, Selasa (16/04).

Menurut Angla, setiap tanggal 15 merupakan tanggal pembayaran kapitasi untuk FKTP. Oleh karena itu, ada kemungkinan pembayaran non kapitasi dan tagihan rumah sakit dibayarkan BPJS Kesehatan pada hari berikutnya. Hal ini merupakan mekanisme pembayaran yang rutin dilakukan setiap bulan oleh BPJS Kesehatan.

"Biasanya mitra perbankan kami menjalankan transaksi untuk pembayaran kapitasi ini dulu. Namun kami pastikan kewajiban pembayaran ke fasilitas kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku dapat dilakukan paling lambat hari ini. Kami juga sudah berkoordinasi dengan seluruh Kantor kabupaten/Kota, sehingga masing-masing Kantor Kabupaten/Kota bisa memantau dan memastikan fasilitas kesehatan di wilayah kerjanya telah dibayar sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tegas Angla.

Angla mengatakan, dengan dibayarnya hutang klaim jatuh tempo oleh BPJS Kesehatan kepada fasilitas kesehatan, diharapkan pihak fasilitas kesehatan juga bisa melakukan kewajibannya sesuai dengan yang tertuang dalam regulasi. Angla juga berharap pihak RS dapat kian optimal dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada para pasien JKN-KIS.

"Kami selalu berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan yang melayani peserta JKN-KIS untuk memberikan pelayanan terbaik tanpa diskriminasi, sebagaimana yang diatur dalam regulasi yang ditetapkan pemerintah. Dengan demikian diharapkan masyarakat semakin yakin bahwa program ini akan terus berlangsung, rumah sakit menjadi lebih tenang dan tenaga kesehatan merasa nyaman," ucap Angla.

Angla juga menginformasikan bahwa Program JKN-KIS yang dikelola BPJS Kesehatan selain memberikan jaminan layanan kesehatan yang berkualitas, juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan industri kesehatan dan penciptaan lapangan kerja. Ia mengatakan, apabila terdapat kekurangan, hendaknya dapat diperbaiki bersama-sama. Menurutnya, jangan sampai ada diskriminasi pelayanan yang bersifat kasuistis, lalu digeneralisir, sementara sangat banyak peserta JKN-KIS yang terlayani dengan baik.

"Ke depannya, semoga pemerintah akan terus menjaga sustainabilitas Program JKN-KIS ini dan pelayanan kepada masyarakat akan terus diperbaiki. Kami berterima kasih kepada penyedia layanan (provider) sekaligus mohon maaf serta apresiasi atas kerja sama, pengertian dan kesabarannya selama ini," imbuh Anga.

Sebagai informasi, khusus di wilayah kerja Kantor Cabang 6 Kabupaten/Kota (Kota Manado, Kota Bitung, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Kepl. Sangihe, Kabupaten Kepl. Sitaro, Kabupaten Kepl. Talaud) terdapat 233 FKTP untuk kapitasi dan 39 FKRTL yang telah dibayarkan dana kapitasi dan tagihan klaimnya oleh BPJS Kesehatan setempat. Adapun total pembayaran yang dilakukan KC Manado adalah sebesar Rp.198.035.302.527.00 sepanjang bulan April 2019.(/Stevanus)

Informasi lebih lanjut hubungi:  Twitter      : @BPJSKesehatanRI

Humas BPJS Kesehatan  Instagram     : @bpjskesehatan_ri 

BPJS Kesehatan Kantor Pusat  Facebook     : BPJS Kesehatan 

+62 21 424 6063  Youtube     : BPJS Kesehatan

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.  Kompasiana  : BPJS Kesehatan

Website :www.bpjs-kesehatan.go.id  Kaskus      : bpjskesehatan

Bintan, Sulutnews.com - Objek wisata Treasure Bay yang ada di kawasan wisata Lagoi, Bintan masih menjadi objek wisata unggulan di Pulau Bintan bahkan di Kepri. Pada 2018 saja, resort yang dibangun dilahan seluas 338 hektar ini mempu menyedot wisatawan mencapai 180 ribu wisatawan asing dan wisatawan lokal.

Menurut CK Fong Presiden Direktur Treasure Bay, wisatawan lokal yang berkunjung ke Treasure Bay, tidak hanya dari wilayah kepri saja, namun banyak dari Jawa Barat, Jawa Timur dan sejumlah provinsi di Indonesia.

"Sekitar 25 persen dari pengunjung Treasure Bay ini merupkan wistawan asing. Jumlah kunjungan pada 2018, naik cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya. Untuk satu kawasan wisata, pertumbuhan pengunjung Treasure Bay cukup fantastis, apalagi usia Treasure Bay ini baru 2015 lalu dibuka. Kami optimis angka kunjungan akan terus meningkat pada tahun ini dan tahun depan," sebut CK Fong di sela-sela berkunjung ke Rumah Bahagia Lansia di Kelurahan Kawal, Bintan, Kamis (18/4/2019).

Saat ini, kata CK Fong, objek wisata Treasure Bay sudah dilengkapi dengan 200 kamar hotel. "Awalnya kita bangun 40 kamar dan hingga saat ini sudah 200 kamar yang beroperasi. Sampai saat ini, nilai investasi kita untuk sektor witasa treasure bay sudah sekitar 50 juta Dolar Singapura (setara Rp519 miliar dengan kurs Rp10.380)," kata CK Fong di sela-sela penyerahan program CSR bersama komunitas CB motor.

Karena potensi wisata yang cukup baik, lanjut CK Fong, tahun ini kita akan bangun 200 kamar hotel lagi serta sarana pendukung lainnya dengan tambahan investasi 50 juta Dolar Singapura. "Target kita 200 kamar penambahan ini sudah beroperasi pada 2020 mendatang," sebutnya.

Ketika disinggung tentang alasannya berinvestasi di Pulau Bintan, CK Fong menyebutkan, selain Bintan lokasinya sangat straregis karena berbatasan dengan sejumlah negara tetangga, juga proses perizinannya yang sederhana serta kondisi keamanannya yang cukup baik.

CK Fong juga menceritakan program pihak Treasure Bay terhadap masyarakat sekitar dan lingkungan yang sangat mendukung terhadap keberadaan Treasure Bay. "Sebagai tanggungjawab kami membina lingkungan melalui Corporate Social Responsibility (CSR), kami rutin melakukan penanaman mangrove bekerjasama dengan berbagai komunitas kepemudaan dan masyarakat setempat, serta membantu membagun sejumlah masjid sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dan sekarang, saya datang ke Rumah Bahagia Lansia ini bersama komunitas CB Motor. Program ini kami namai ride for life, untuk berbagi rasa dengan orang tua-orang tua kita yang tinggal di Rumah bahagia lansia ini," ucap CK Fong.

Dalam kunjungan ke rumah bahagia itu, sejumlah petinggi Treasure Bay grub juga hadir.

"Selain Treasure Bay, ada juga dari pihak pengelola Hotel The Canopi dan Diamont yang juga masih satu grub dengan Treasure Bay dan lokasi kami berdampingan di Kawasan Wisata Lagoi," beber CK Fonk.(/SMSI)

Bagikan lebih dari 14.000 porsi sarapan gratis dan berkomitmen untuk lanjutkan gelaran kegiatan di lebih dari 10 kota lainnya

Manado, Sulutnews.com – Melanjutkan peluncuran kampanye ‘Awali Hari Baik dengan Nestlé’ yang berlangsung pada 17 Februari 2019 di Jakarta, Nestlé Indonesia kembali mengadakan kegiatan edukasi sarapan bergizi seimbang di 14 kota di Indonesia (Medan, Lampung, Samarinda, Surabaya, Manado, Bengkulu, Bandung, Semarang, Gresik, Tenggarong, Parepare, Kediri, Ternate dan Mamuju) pada 24 Februari hingga 10 Maret 2019. Adapun kurang lebih 45.000 peserta berpartisipasi dalam kegiatan edukasi gizi dari Nestlé Indonesia di 17 titik di kota-kota tersebut.

“Sejalan dengan komitmen untuk membantu 50 juta anak menjalani hidup yang lebih sehat pada 2030, di bawah naungan program global Nestlé for Healthier Kids, kegiatan ini bertujuan sebagai sarana edukasi seputar pentingnya sarapan sehat dengan gizi seimbang yang diimbangi olahraga secara teratur. Hal ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan pemahaman masyarakat akan pentingnya kebiasaan mengonsumsi makanan bergizi baik yang disertai dengan gaya hidup aktif dan sehat,” sebut Debora R. Tjandrakusuma, Direktur Nestlé Indonesia.

Edukasi seputar sarapan bergizi seimbang penting untuk terus digencarkan mengingat sarapan memenuhi 15-30% kebutuhan gizi harian. Di samping itu, 76% orang Indonesia yang sarapan di pagi hari ternyata mengaku belum mengonsumsi menu makanan bergizi seimbang.1

Menyadari pentingnya menciptakan pendekatan yang mudah diterima masyarakat untuk menanamkan pentingnya nilai sarapan bergizi seimbang, Nestlé Indonesia memperkenalkan prinsip ABC (Atur-Baca-Cukupi):

  1. Atur porsi untuk memastikan jumlah asupan makanan cukup (tidak berlebih dan tidak kurang) sehingga mendukung aktivitas setiap hari.
  2. Baca label kemasan makanan untuk memperhatikan kandungan gizi dan cara penyajian sehingga membantu masyarakat agar memahami produk yang mereka konsumsi dan dapat menikmati manfaat produk secara maksimal.
  3. Cukupi asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh dengan mengonsumsi beragam jenis makanan.

“Melalui penyampaian yang lebih sederhana, masyarakat diharapkan dapat lebih cermat dalam mengonsumsi sarapan yang tidak hanya lezat, tapi juga memiliki nilai gizi yang seimbang sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi hariannya dengan baik,” jelas Eka Herdiana, Corporate Nutritionist Nestlé Indonesia.

Adapun acara sarapan ini juga dimeriahkan dengan senam bersama serta beragam zona edukasi interaktif untuk semakin memantapkan pemahaman pengunjung terhadap pendekatan ABC dan pentingnya gaya hidup aktif dan sehat. Lebih dari 14.000 porsi sarapan telah dibagikan oleh Nestlé Indonesia di kota-kota tersebut tersebut. Minggu depan, Nestlé Indonesia juga akan menggelar kegiatan serupa di lebih dari 10 kota lainnya sampai dengan 17 April 2019.

Adapun detil penyelenggaraan acara di 14 kota tersebut dapat dilihat di https://www.sahabatnestle.co.id/awaliharibaik/ (/Merson)

Manado, Sulutnews.com - Kekerasan kelompok masyarakat seperti yang diekspresikan oleh aksi teroris, dengan mengintimidasi masyarakat dengan mengganggu semua lingkup kehidupan dan organisasi masyarakat, dengan menimbulkan kerusakan dan kehancuran, rasa sakit dan penyakit, cedera dan kematian. Terorisme telah menjadi kenyataan selama berabad-abad dan merupakan masalah dunia. Kualitas cakupan terorisme jelas tergantung pada banyak faktor.

Dalam proses kesiapan dan tanggapan, saluran komunikasi dan kerja sama yang tepat di antara berbagai sektor yang terlibat merupakan hal yang sangat penting. Tindakan komunikasi dan kesiapsiagaan risiko harus mempertimbangkan nilai dan budaya setempat, keragaman bahasa, dan organisasi masyarakat setempat. Transmisi pengetahuan, berbagi informasi dan kerja sama untuk dapat memastikan respon yang lebih efektif terhadap ancaman teror, kejadian aktual dan konsekuensinya.

‘’Torang Samua Basudara’’ (kita semua bersaudara). Kalimat  dialek Manado ini  merupakan slogan penjabaran dari ungkapan Pahlawan Nasional Dr GSSR  Ratulangie  asal Sulawesi Utara kelahiran Tondano ‘’Si Tou Timou Tumou Tou’’ yang artinya ‘’Manusia  hidup untuk memanusiakan manusia’’ atau orang yang hidup saling berbagi ilmu kepintaran dengan orang lain.

Dari Ungkapan  ‘’Torang Samua Basudara’’, boleh dikatakan kini sudah menjadi budaya warga Sulawesi Utara, dalam menangkal berbagai hal yang bermaksud merongrong sendi-sendi kehidupan kerukunan atau toleransi antar umat beragama sehari-hari di Sulawesi Utara.

Kalimat Torang Samua Basudara, bahkan dapat dijadikan tameng menangkal penyusupan radikalisme dan teroris. Sebagai salah satu indikator Kota Manado, Ibukota Provinsi Sulawesi Utara, diapit oleh daerah konflik di Filipina Selatan, Maluku Utara, Maluku dan Poso. Tetapi, kehidupan kerukunan antar sesama hingga tidak goyah. Padahal, Kota Manado menurut data dari aparat kepolisian merupakan salah satu daerah menjadi lintasan pelaku teroris.

Mantan Dosen Universitas Manado di Tondano Prof ABG Ratu yang ditemani tokoh agama Kristen Protestan mantan Sekretaris Umum Badan Pekerja Sinode GMIM Pdt Nico Gara juga sebagai pengurus Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) Sulut, bersama tokoh agama lainnya saat berdialog dengan Rombongan studi strategis dalam negeri Program Pendidikan Reguler Angkatan XLIX (PPAR 49) beberapa waktu lalu, mengatakan, slogan ‘’Torang Samua Basudara’’ kini menjadi salah satu kekuatan masyarakat Sulawesi Utara dalam  menangkal berbagai konflik horizontal.

Menurut Ratu yang dikenal ahli sejarah, cikal bakal lahirnya slogan ‘’Torang Samua Basudara’’ berawal  dari kepedulian warga Minahasa terhadap tujuh orang perkasa yang menjadi tawanan penjajah Belanda pada waktu perang, dimana tujuh orang tersebut berasal dari suku Jawa dan diasingkan oleh penjajah di Sulawesi Utara tepatnya di Manado.

‘’Mula-mula dari pengawasan penjajahan Belanda tersebut timbul kepedulian dan belas kasihan orang-orang Minahasa, dan mereka mulai mendekati tawanan Belanda itu dengan memberikan makanan, pakaian. Atas kepedulian tersebut, para tawanan Belanda yang berasal dari Jawa inipun mulai membaur bersama masyarakat lokal pada waktu itu sehingga mulai terjalin kasih,’’ kisahnya.

Bahkan para tawanan setelah bebas dari tawanan Belanda menikah bersama wanita-wanita asal Minahasa dan setelah menikah, mereka kemudian mendiami  suatu tempat di wilayah Tondano, Ibukota Kabupaten Minahasa. Sejak itu, pemukiman tersebut dinamakan Kampung (Jaton) Jawa Tondano. Warga suku jawa adalah keturunan pangeran Kyai Mojo yang dimakamkan di kampung tersebut. Selaian itu adapula keturunan  Pahlawan  Imam Bonjol yang dimakamkan di Desa Lota, Kecamatan  Pineleng.

Nah, disitulah terjalin persaudaraan antara perbedaan suku di masyarakat Minahasa, dan  slogan ‘’Torang Samua Basudara ‘’ mulai dikenal sejak zaman tersebut, sebelum Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945. Hal itu dikuatkan lagi dengan motto seorang Pahlawan Sulawesi Utara, Dr GSSJ Ratulangie yang populer yakni  ‘’Si Tou Timou Tumou Tou’’ yang  artinya  "manusia hidup untuk memanusiakan/menghidupkan manusia lain" dalam dialek manado artinya saling baku beking pande (saling membagi ilmu pengetahuan membuat pandai)

Berdasarkan data  Wikipedia, penganut agama Kristen sekitar 62,10 persen, Katolik 5,02 persen sedangkan penduduk beragama Islam/muslim 31,30 persen, sisanya beragama Hindu, Budha dan Konghucu.  Data Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Utara, tahun 2017 jumlah penduduk Sulawesi Utara, 2.461.028  jiwa. Khusus penduduk Kota Manado 430.133 jiwa.  

Sementara itu, kehidupan warga di Kota Manado yang dikenal heterogen karena berbeda agama, suku dan ras, tetapi pola hidup masyarakatnya  saling menghargai satu sama lain dan hidup menjunjung tingi nilai-nalai toleransi, terbuka rukun dan dinamis. Sehingga, Pemerintah Kota Manado mendapat penghargaan dari pemerintah pusat, peringkat ke II sebagai Kota Toleransi di Indonesia. Penghargaan itu tentunya tidak terlepas dari slogan ‘’Torang Samua Basudara’’.

Misalnya sebut saja, disaat menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Terlihat keakraban antara umat muslim dan non muslim, hal itu tampak pada penjual makanan atau kue untuk buka puasa tentu 100 persen halal, umat non muslim juga ikut membeli mencicipi jualan untuk buka puasa yang dijual di sejumlah titik. ‘’Situasi seperti ini sudah menjadi tradisi turun temurun  warga Sulawesi Utara.  

Seperti di Kelurahan Banjer, dan di kawasan   Kampung Ternate yang menyajikan jualan  kue basah dan kue kering khas ramadhan yang selalu dipadati  penggemar kuliner berbuka puasa, selain itu jenis pasar kuliner dadakan seperti ini juga selalu muncul di setiap pelataran halaman masjid yang ada di Kota Manado selama bulan Ramadhan.

Bukan saja itu, ketika umat Muslim menunaikan ibadah sholat Tarawih dan Witir, banyak diantara para pemuda non Muslim yang menjaga kekhusyukan sholat. Mereka berjaga dengan duduk di pelataran halaman masjid hingga malam harinya. Fenomena seperti ini pun terus berlanjut hingga hari kemenangan tiba.

Banyak pemuda berkalung Salib berjaga di pelataran masjid sambil mengenakan kemeja baju koko. Sungguh pemandangan yang menyenangkan. Harmonisasi seperti ini harusnya dimaknai dengan penuh sukacita.

Disaat umat Muslim melakukan ibadah Sholat Id, seusai menunaikan puasa di bulan suci Ramadhan, sudah menjadi tradisi warga non muslim ikut bersama aparat keamanan menjaga lokasi tempat pelaksanaan. Saat hari raya Idul Fritri, umat non muslim saling bersilahturahmi ke rumah tetangga yang merayakan Idul Fritri. Suasana pawai malam takbiran juga demikian, umat non muslim ikut serta memeriakan mengikuti iring-iringan pawai.

Begitu juga sebaliknya,   ketika hari raya Natal, umat muslim ikut bersama dalam ibadah dengan menyalahkan lilin natal. Bahkan, di Kelurahan Banjer Lingkungan IV, Kecamatan Tikala, sudah menjadi tradisi saat ibadah Natal Rukun Tumou Tou yang menjadi Ketua Panitia seorang warga bernama Ridwan Ibrahim penganut agama Muslim. Ibadah di Gereja  saat umat kristiani dalam rangkaian Hari Raya Natal, umat muslim ikut berperan menjaga keamanan.  

Karenanya, Jargon Si Tou Timou Tumou Tou dan Torang Samua Basudara tidak hanya menjadi slogan semata tapi mengakar di tiap diri masyarakatnya. Terbentuk pulalah suatu modal sosial (social capital) yang merupakan bagian dari organisasi sosial kemasyarakatan yang didalamnya terdiri dari trust, norm dan network serta linkage.

‘’Torang Samua Basudara’’ yang artinya ‘’Kita Semua Bersaudara’’ merupakan   semboyan yang di tinggalkan para leluhur masyarakat sulawesi utara,   menjadi tameng dari isu-isu perpecahan baik dari dalam maupun luar sulawesi utara. Tahun 1999, saat indonesia diguncang masalah politik dan dimana-mana terjadi kerusuhan, sulawesi utara termasuk daerah yang relatif aman.

Sulawesi Utara boleh dinilai adalah  provinsi yang ajaib. Kenapa? Berbagai macam suku, agama dan ras mendiami tanah bumi ‘’Nyiur Melambai’’ ini. Ada Suku Minahasa, terdiri dari  Tonsea, Toumbulu, Tountemboan,Toulour,Tounsawang, Pasan, Panosakan dan Bantik. Suku Bolaang Mongondow, yakni Bolaang Mongondow, Bolaang Uki, Kaidipang Besar dan suku Bintauna. Wilayah Nusa Utara juga didiami suku Sangir dan suku Talaud. Sulawesi Utara didiami berbagai suku-suku lainnya dari Nusantara.

Walaupun memiliki beragam Suku, Agama, dan Ras, Masyarakat Sulawesi Utara selalu menjaga kerukunan dan saling menghargai satu sama lainnya. Ini mungkin karena telah tertanam jauh ke dalam pikiran masyarakat Sulut dengan  semboyan ‘’Torang Samua Basudara’’. Sehingga setiap kali ada provokasi dari dalam dan dari luar, masyarakat tidak terlalu ambil pusing dengan isu-isu tersebut dan tetap menjaga keutuhan semboyan “Torang Samua Basudara”.(Merson Simbolon)