Lipsus

Lipsus (1)

Manado, Sulutnews.com - Kekerasan kelompok masyarakat seperti yang diekspresikan oleh aksi teroris, dengan mengintimidasi masyarakat dengan mengganggu semua lingkup kehidupan dan organisasi masyarakat, dengan menimbulkan kerusakan dan kehancuran, rasa sakit dan penyakit, cedera dan kematian. Terorisme telah menjadi kenyataan selama berabad-abad dan merupakan masalah dunia. Kualitas cakupan terorisme jelas tergantung pada banyak faktor.

Dalam proses kesiapan dan tanggapan, saluran komunikasi dan kerja sama yang tepat di antara berbagai sektor yang terlibat merupakan hal yang sangat penting. Tindakan komunikasi dan kesiapsiagaan risiko harus mempertimbangkan nilai dan budaya setempat, keragaman bahasa, dan organisasi masyarakat setempat. Transmisi pengetahuan, berbagi informasi dan kerja sama untuk dapat memastikan respon yang lebih efektif terhadap ancaman teror, kejadian aktual dan konsekuensinya.

‘’Torang Samua Basudara’’ (kita semua bersaudara). Kalimat  dialek Manado ini  merupakan slogan penjabaran dari ungkapan Pahlawan Nasional Dr GSSR  Ratulangie  asal Sulawesi Utara kelahiran Tondano ‘’Si Tou Timou Tumou Tou’’ yang artinya ‘’Manusia  hidup untuk memanusiakan manusia’’ atau orang yang hidup saling berbagi ilmu kepintaran dengan orang lain.

Dari Ungkapan  ‘’Torang Samua Basudara’’, boleh dikatakan kini sudah menjadi budaya warga Sulawesi Utara, dalam menangkal berbagai hal yang bermaksud merongrong sendi-sendi kehidupan kerukunan atau toleransi antar umat beragama sehari-hari di Sulawesi Utara.

Kalimat Torang Samua Basudara, bahkan dapat dijadikan tameng menangkal penyusupan radikalisme dan teroris. Sebagai salah satu indikator Kota Manado, Ibukota Provinsi Sulawesi Utara, diapit oleh daerah konflik di Filipina Selatan, Maluku Utara, Maluku dan Poso. Tetapi, kehidupan kerukunan antar sesama hingga tidak goyah. Padahal, Kota Manado menurut data dari aparat kepolisian merupakan salah satu daerah menjadi lintasan pelaku teroris.

Mantan Dosen Universitas Manado di Tondano Prof ABG Ratu yang ditemani tokoh agama Kristen Protestan mantan Sekretaris Umum Badan Pekerja Sinode GMIM Pdt Nico Gara juga sebagai pengurus Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) Sulut, bersama tokoh agama lainnya saat berdialog dengan Rombongan studi strategis dalam negeri Program Pendidikan Reguler Angkatan XLIX (PPAR 49) beberapa waktu lalu, mengatakan, slogan ‘’Torang Samua Basudara’’ kini menjadi salah satu kekuatan masyarakat Sulawesi Utara dalam  menangkal berbagai konflik horizontal.

Menurut Ratu yang dikenal ahli sejarah, cikal bakal lahirnya slogan ‘’Torang Samua Basudara’’ berawal  dari kepedulian warga Minahasa terhadap tujuh orang perkasa yang menjadi tawanan penjajah Belanda pada waktu perang, dimana tujuh orang tersebut berasal dari suku Jawa dan diasingkan oleh penjajah di Sulawesi Utara tepatnya di Manado.

‘’Mula-mula dari pengawasan penjajahan Belanda tersebut timbul kepedulian dan belas kasihan orang-orang Minahasa, dan mereka mulai mendekati tawanan Belanda itu dengan memberikan makanan, pakaian. Atas kepedulian tersebut, para tawanan Belanda yang berasal dari Jawa inipun mulai membaur bersama masyarakat lokal pada waktu itu sehingga mulai terjalin kasih,’’ kisahnya.

Bahkan para tawanan setelah bebas dari tawanan Belanda menikah bersama wanita-wanita asal Minahasa dan setelah menikah, mereka kemudian mendiami  suatu tempat di wilayah Tondano, Ibukota Kabupaten Minahasa. Sejak itu, pemukiman tersebut dinamakan Kampung (Jaton) Jawa Tondano. Warga suku jawa adalah keturunan pangeran Kyai Mojo yang dimakamkan di kampung tersebut. Selaian itu adapula keturunan  Pahlawan  Imam Bonjol yang dimakamkan di Desa Lota, Kecamatan  Pineleng.

Nah, disitulah terjalin persaudaraan antara perbedaan suku di masyarakat Minahasa, dan  slogan ‘’Torang Samua Basudara ‘’ mulai dikenal sejak zaman tersebut, sebelum Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945. Hal itu dikuatkan lagi dengan motto seorang Pahlawan Sulawesi Utara, Dr GSSJ Ratulangie yang populer yakni  ‘’Si Tou Timou Tumou Tou’’ yang  artinya  "manusia hidup untuk memanusiakan/menghidupkan manusia lain" dalam dialek manado artinya saling baku beking pande (saling membagi ilmu pengetahuan membuat pandai)

Berdasarkan data  Wikipedia, penganut agama Kristen sekitar 62,10 persen, Katolik 5,02 persen sedangkan penduduk beragama Islam/muslim 31,30 persen, sisanya beragama Hindu, Budha dan Konghucu.  Data Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Utara, tahun 2017 jumlah penduduk Sulawesi Utara, 2.461.028  jiwa. Khusus penduduk Kota Manado 430.133 jiwa.  

Sementara itu, kehidupan warga di Kota Manado yang dikenal heterogen karena berbeda agama, suku dan ras, tetapi pola hidup masyarakatnya  saling menghargai satu sama lain dan hidup menjunjung tingi nilai-nalai toleransi, terbuka rukun dan dinamis. Sehingga, Pemerintah Kota Manado mendapat penghargaan dari pemerintah pusat, peringkat ke II sebagai Kota Toleransi di Indonesia. Penghargaan itu tentunya tidak terlepas dari slogan ‘’Torang Samua Basudara’’.

Misalnya sebut saja, disaat menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Terlihat keakraban antara umat muslim dan non muslim, hal itu tampak pada penjual makanan atau kue untuk buka puasa tentu 100 persen halal, umat non muslim juga ikut membeli mencicipi jualan untuk buka puasa yang dijual di sejumlah titik. ‘’Situasi seperti ini sudah menjadi tradisi turun temurun  warga Sulawesi Utara.  

Seperti di Kelurahan Banjer, dan di kawasan   Kampung Ternate yang menyajikan jualan  kue basah dan kue kering khas ramadhan yang selalu dipadati  penggemar kuliner berbuka puasa, selain itu jenis pasar kuliner dadakan seperti ini juga selalu muncul di setiap pelataran halaman masjid yang ada di Kota Manado selama bulan Ramadhan.

Bukan saja itu, ketika umat Muslim menunaikan ibadah sholat Tarawih dan Witir, banyak diantara para pemuda non Muslim yang menjaga kekhusyukan sholat. Mereka berjaga dengan duduk di pelataran halaman masjid hingga malam harinya. Fenomena seperti ini pun terus berlanjut hingga hari kemenangan tiba.

Banyak pemuda berkalung Salib berjaga di pelataran masjid sambil mengenakan kemeja baju koko. Sungguh pemandangan yang menyenangkan. Harmonisasi seperti ini harusnya dimaknai dengan penuh sukacita.

Disaat umat Muslim melakukan ibadah Sholat Id, seusai menunaikan puasa di bulan suci Ramadhan, sudah menjadi tradisi warga non muslim ikut bersama aparat keamanan menjaga lokasi tempat pelaksanaan. Saat hari raya Idul Fritri, umat non muslim saling bersilahturahmi ke rumah tetangga yang merayakan Idul Fritri. Suasana pawai malam takbiran juga demikian, umat non muslim ikut serta memeriakan mengikuti iring-iringan pawai.

Begitu juga sebaliknya,   ketika hari raya Natal, umat muslim ikut bersama dalam ibadah dengan menyalahkan lilin natal. Bahkan, di Kelurahan Banjer Lingkungan IV, Kecamatan Tikala, sudah menjadi tradisi saat ibadah Natal Rukun Tumou Tou yang menjadi Ketua Panitia seorang warga bernama Ridwan Ibrahim penganut agama Muslim. Ibadah di Gereja  saat umat kristiani dalam rangkaian Hari Raya Natal, umat muslim ikut berperan menjaga keamanan.  

Karenanya, Jargon Si Tou Timou Tumou Tou dan Torang Samua Basudara tidak hanya menjadi slogan semata tapi mengakar di tiap diri masyarakatnya. Terbentuk pulalah suatu modal sosial (social capital) yang merupakan bagian dari organisasi sosial kemasyarakatan yang didalamnya terdiri dari trust, norm dan network serta linkage.

‘’Torang Samua Basudara’’ yang artinya ‘’Kita Semua Bersaudara’’ merupakan   semboyan yang di tinggalkan para leluhur masyarakat sulawesi utara,   menjadi tameng dari isu-isu perpecahan baik dari dalam maupun luar sulawesi utara. Tahun 1999, saat indonesia diguncang masalah politik dan dimana-mana terjadi kerusuhan, sulawesi utara termasuk daerah yang relatif aman.

Sulawesi Utara boleh dinilai adalah  provinsi yang ajaib. Kenapa? Berbagai macam suku, agama dan ras mendiami tanah bumi ‘’Nyiur Melambai’’ ini. Ada Suku Minahasa, terdiri dari  Tonsea, Toumbulu, Tountemboan,Toulour,Tounsawang, Pasan, Panosakan dan Bantik. Suku Bolaang Mongondow, yakni Bolaang Mongondow, Bolaang Uki, Kaidipang Besar dan suku Bintauna. Wilayah Nusa Utara juga didiami suku Sangir dan suku Talaud. Sulawesi Utara didiami berbagai suku-suku lainnya dari Nusantara.

Walaupun memiliki beragam Suku, Agama, dan Ras, Masyarakat Sulawesi Utara selalu menjaga kerukunan dan saling menghargai satu sama lainnya. Ini mungkin karena telah tertanam jauh ke dalam pikiran masyarakat Sulut dengan  semboyan ‘’Torang Samua Basudara’’. Sehingga setiap kali ada provokasi dari dalam dan dari luar, masyarakat tidak terlalu ambil pusing dengan isu-isu tersebut dan tetap menjaga keutuhan semboyan “Torang Samua Basudara”.(Merson Simbolon)