Print this page

Pahlawan Nasional Indonesia Beragama Katolik Dikupas Pada Acara Talkshow Manado Catholic Orchestra

Written by  Aug 24, 2020

Manado, Sulutnews.com - Acara talkshow dibuka music oleh divisi band Manado Catholic Orchestra dan dilanjutkan oleh Host Pastor Hendro Kandowangko Pr yang juga ketua komisi kepemudaan Keuskupan Manado. setelah itu, Moderator pada malam hari itu Pastor Kris Ludong, Pr langsung memberikan kata pembukaan dan memberikan pertanyaan kepada para pembicara.

Pastor Revi Rafael Henrico Mario Tanod Pr, Ph.D, mantan Rektor Unika De La Salle Manado yang sekarang menjabat sebagai sekarang Ketua Yayasan Pendidikan Katolik Keuskupan Manado mengawali Talkshow dengan menjawab pertanyaan host mengenai sejarah Mgr. Albertus Soegijapranata S.J seorang pahlawan nasional sekaligus uskup. Ditahbiskan sebagai uskup pribumi pertama 1940 oleh keputusan Paus Pius XII, 5 tahun sebelum Indonesia merdeka. Sebagai uskup, dia juga akan membawahi pastor- pastor belanda pada saat itu. Untuk menunjukkan keindonesiaannya, Mg. Soegiopranoto menyebutkan semboyan “100% Katolik 100% Indonesia”

“Kiprah mgr Soegijapranata tidak lepas dari kedatangan misionaris Jesuit bernama Van Lith, seorang imam Belanda. Di Indonesia, SJ. Van Lith membangun sekolah seminari menengah di Muntilan yang merupakan sekolah Mgr Soegijapranata Bersama dengan Romo Mangun dan Yos Sudarso. Sekolah ini juga merupakan sekolah dari L.B Manik pencipta lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan Cornel simanjuntak pencipta Maju Tak Gentar. Juga merupakan lulusan seminari menengah Muntilan. Di tempat ini Mgr. Soegijapranata mengasimilasikan budaya Indonesia kedalam gereja Katolik. Mgr Soegijapranata juga memiliki semboyan lain yaitu: Talenta pro patria et humanitate (talenta terbaik dipersembahkan demi bangsa-negara serta kemanusiaan). Semboyan dan semangat ini diteruskan hingga saat ini dan di abadikan sebagai motto dari Universitas Katolik Soegijapranata yang berlokasi di Kota semarang Jawa tengah dibawah naungan Yayasan Sandjojo yang terafiliasi dengan keuskupan Agung Semarang.” Kata pastor Revi

Ibu Dra. Joula P. Makarawung, MM sebagai pembimas Katolik Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Utara juga menambahkan “pada waktu kekacauan terjadi di semarang, Mgr. Soegijapranata menengahi konflik. Ketika ibukota negara RI. Dipindahkan ke Yogyakarta, saat itu juga Mgr. Soegijapranata memindahkan pusat administrasinya dari Semarang ke Yogyakarta. Sebagai wujud kesatuan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Kekatolikan tidak setuju dengan penjajahan. Salah satu dukungan Gereja terhadap kemerdekaan Indonesia juga dapat dilihat dari dukungan Negara Vatikan yang merupakan negara Eropa yang paling pertama mengakui kemerdekaan Indonesia.”

Pastor Kris menambahkan daftar pahlawan nasional yang beragama katolik dalam kancah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia antara lain:

Agustinus Adi Sucipto, pilot pertama yang berasal dari orang Indonesia. 5 oktober 1945 dibentuk tentara keamanan rakyat yang di kepalai oleh Surya Dharma. Atas perintah Surya Dharma, Adi Sucipto mengecat pesawat Jepang dengan warna merah putih dan menerbangkan pesawat ini kesana kemari untuk membakar semangat para pejuang yang melihat untuk tetap mempertahankan kemerdekaan. Adi Sucipto juga menjemput bantuan obat – obatan di Hindia dan Malaya dengan menerobos blokade Belanda untuk di bawa ke Yogyakarta. Disaat pesawat yang di kendarai Adi Sucipto tiba di Yogyakarta di tembak dua pesawat belanda. Adi Sucipto juga mendirikan sekolah penerbangan pertama di Indonesia yang berlokasi di Jogyakarta.

Ignatius Slamet Riyadi lahir di kota Surakarta (solo). Pada usia 17 tahun membawa kabur kapal jepang, mengumpulkan para pejuang kemerdekaan untuk merebut Kembali kota Surakarta yang telah diduduki oleh belanda. Slamet Riyadi juga berperan menumpas pemberontakan pada saat itu antara lain DI TII, Ratu adil dan Andi Asis. Ia juga di utus untuk menumpas Republik Maluku Selatan (ambon) dan disanalah dia wafat. Slamet Riyadi juga bekerjasama dengan EA kawilarang untuk cita – cita Bersama membentuk Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat RPKAD yang sekarang di sebut Komando Pasukan Khusus (KOPASUS)

Robert Wolter Mongisidi, dilahirkan di  Malalayang, alumni sekolah Frater Don Bosco Manado yang pertama kali di kenal dengan nama AMS (Algemene Middelbar School) pada tahun 1950. “Setia hingga akhir dalam keyakinan”, catatan itulah yang menjadi pesan terakhir Robert Wolter Mongisidi sebelum di eksekusi mati dihadapan regu tembak. Keyakinan sebagai anak muda yang beriman dan keyakinan akan perjuangannya untuk rela mati bagi kemerdekaan Indonesia.

Kepala staff TNI Pertama: Jendral Urip Sumiharjo lahir 22 Februari 1893 – meninggal 17 November 1948 pada umur 55 tahun) adalah seorang jenderal dan kepala staf umum Tentara Nasional Indonesia pertama pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Lahir di Purworejo, Hindia Belanda. Oerip menerima sejumlah tanda kehormatan dari pemerintah secara anumerta, termasuk Bintang Sakti (1959), Bintang Mahaputra (1960), Bintang Republik Indonesia Adipurna (1967), dan Bintang Kartika Eka Pakçi Utama (1968). Jenderal Urip Sumiharjo ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 314 Tahun 1964 pada tanggal 10 Desember 1964.

Wilhelmus Zakaria Yohannes (lahir di Pulau Rote, 1895 – meninggal di Den Haag, Belanda, 4 September 1952 pada umur 57 tahun) adalah ahli radiologi pertama di Indonesia, guru besar Radiologi dan pernah menjabat Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Wakil Ketua Senat Universitas Indonesia. Namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit umum di Kupang, Nusa Tenggara Timur yakni RSU WZ Johannes dan nama sebuah kapal perang TNI-AL yakni KRI Wilhelmus Zakaria Johannes.

Marsekal Pertama TNI Tjilik Riwut: penerjun payung pertama dari Kalimantan yang mempersatukan 142 suku Dayak untuk bergabung dengan Indonesia. Tjilik Riwut juga memimpin Operasi Penerjunan Pasukan Payung Pertama dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada tanggal 17 Oktober 1947 oleh pasukan MN 1001 yang kini di kenal sebagai pasukan Khas TNI-AU.

Ibu Joula menceritakan kiprah dan tujuan dari Bimas katolik yang dibawahi oleh kementerian agama Republik Indonesia ini:  “bimas katolik ada sejak munculnya kementerian agama sejak 3 januari 1946. Pelayanan bimas katolik merupakan representasi peran negara kepada masyarakat katolik. Kerja bimas katolik: memberdayakan masyarakat katolik, meningkatkan paham iman dan agama di tengah kehidupan masyarakat indonesia yang beraneka ragam. Berusaha merajut kebhinekaan yang pancasilais, Bimas Katolik juga membangun jembatan dan fasilitator masyarakat dan pemerintah. Bimas Katolik memberdayakan pemuka agama dan tokoh agama. “

“Program Bimas Katolik tentang moderasi agama, agar masyarakat tidak menjurus kepada ekstrimisme. “ tambahnya

Para pembicara, host dan moderator saling menambahkan menjawab pertanyaan dari para pemirsa mengenai sosok Ignatius Joseph Kasimo yang berperang bukan dengan senjata api tetapi dengan pena:

“Ignatius Joseph Kasimo, lahir di Yogyakarta, Hindia Belanda, 10 April 1900 – meninggal di Jakarta, 1 Agustus 1986 pada umur 86 tahun) adalah salah seorang pelopor kemerdekaan Indonesia. Ia juga merupakan salah seorang pendiri Partai Katolik Indonesia. Selain itu, beberapa kali ia menjabat sebagai Menteri setelah Indonesia merdeka. ia adalah salah satu tokoh yang menjunjung tinggi moto salus populi suprema lex, yang berarti kepentingan rakyat adalah hukum tertinggi,”

Host pada acara talkshow ini, Ketua Komisi Kepemudaan, Pastor Hendro Kandowangko, Pr. menjawab pertanyaan dari penonton yang ditujukan kepada kaum muda. Ia mengatakan bahwa “pahlawan bukan cuman ada di masa lalu tapi juga ada di masa kini. Jadilah kaum muda yang kreatif sehingga bisa mengisi kemerdekaan indonesia yang sudah 75 tahun supaya sesuai dengan cerdas, tangguh, militan, misioner. Bukan menjadi orang muda yang eksklusif tapi terbuka. Jangan hanya berada dalam zona nyaman tetapi berkarya. Melebur dengan orang muda yang lain menyebarkan sukacita injil.” 

Pastor Revi menjawab pertanyaan dari pemirsa akan perginya gerjea katolik di tanah minahasa ratusan tahun lalu ternyata ini berhubungan dengan kiprah belanda di negara indonesia “Gereja Katolik Keuskupan Manado pernah ada sekitar tahun 1563 tetapi sejak kehadiran VOC yang awalnya berdagang kemudian menjajah, Belanda menolak keberadaan Gereja Katolik.”

Selain itu Pastor Revi juga mengingatkan kita

“Tetapi hal ini juga mengingatkan kita bahwa bisa saja iman itu lenyap. Contohnya dulu ketika para imam Belanda datang ke Indonesia. Tetapi sekarang di sana sudah sulit mendapatkan calon iman, sekularisme terjadi disana. Tetapi sebaliknya di Indonesia, iman itu tumbuh. Kita berada di Indonesia bukan kebetulan, kita hidup disini merupakan anugerah Tuhan. Maka dimanapun kita ditabur, kita di tanam, maka harus berbuah.”

Ternyata pastor Revi yang notabene pastor katolik juga ikut dalam Jemaat GMIM. Dalam talkshow, pastor revi mengungkapkan “Saya ikut dengan kolom 23 jemaat Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Getsemani berdasarkan wilayah tampat tinggal pastor di daerah Sario. Pastor juga ikut dengan pria kaum bapa GMIM.” 

Moderator mengakhiri komentarnya dengan memberikan harapan dari komisi katekteik dan kerasulan awam  “Diharapkan dengan talkshow ini menggugah kekatolikan ini untuk menerjemahkan iman kita menjadi 100% Indonesia”

Pastor Kris menjelaskan kegiatan komisi kateketik dan kerasulan awam Keuskupan Manado sedang giat - giatnya membentuk rasul - rasul berjenjang. Kerasulan ini dibuat dalam 3 jenjang yaitu anak, orang muda, dan dewasa. Anak dibagi 3 rasul cilik, ekaristi dan rosario. Rasul orang muda : rasul anak alam, lingkugan hidup laudato si, rasul ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi kerasulan di mulai sejak dini. Ada juga rasul sosial yang berisi dokter, sarjana. Rasul doa yang terdiri dari lansia. Rasul penolong jiwa - jiwa  yang bertugas untuk membantu orang yang meninggal. 

Acara di tutup dengan penyerahan sertifikat kepada para pembicara yang diserahkan langsung oleh ketua Manado Catholic Orchestra, Revan Umbas, SH. 

Direktur MCO dr Ade John Nursalim mengucapkan terima kasih kepada partisipan/peserta, penanya dan semua pihak yang telah membantu terselenggaranya acara ini.Juga kepada para pembicara, host dan moderator, kepada Pastor Made Pantyasa Pr dan Radio Montini 106 FM yang telah menyediakan tempat dan menyiarkan acara ini secara langsung melalui radio.

John juga berterima kasih kepada pihak Komisi Kateketik, Komisi Kerasulan Awam, Komisi Kepemudaan, Komisi Komunikasi Sosial yang telah bersama - sama bekerjasama untuk kesuksesan acara ini.

Kepada Team dari divisi band Manado Catholic Orchestra: Alfian Kobis ketua divisi Band yang juga memainkan electric guitar pada acara ini, Revan Umbas sebagai bassist, Glen Amiri, Keyboardist, Reza Mercyano Tulong Drummer, Frisky tangapo sebagai guitarist, Angelia Veronika Menggana dan Glayrio sebagai Vocalist.Ia juga berterima kasih kepada tim broadcasting, yaitu Caren Mainsiouw, Fransis Lasut, Andreas Wawolangi, Gabriella Kalalo, Yoan Karapa dan Melisa Saisab.Tim broadcast yang bertugas pada malam hari ini, Brigita Carmelia wowor dan  Felicia Pangerapan. Dan manaager acara sekaligus audio engineer Victor ZY Mongi, ST.

“Kami juga berterima kasih kepada sahabat - sahabat media yang telah berkenan membantu dalam mensosialisasikan dan mewartakan kegiatan kami melalui media massa. Semoga Tuhan memberkati kita semua dan kepada beberapa donatur kita pada acara talkshow ini, Susan L, Immanuel Tular,. Novita Simbala, dan Jumbo pasar swalayan” kata dia

John juga mengajak penonton dan masyarakat untuk mengikuti acara cerdas cermat kitab suci (CCKS) yang akan di selenggarakan pada tangal 29 Agustus 2020 pukul 19:00 di halaman Facebook yang sama. Pertanyaan CCKS akan di ambil dari materi talkshow minggu ini.(/MCO)