Print this page

Gereja Sentrum, Bangunan Bersejarah Yang Menyimpan Rahasia Besar Berakhirnya Perang Dunia II

Written by  Yayuk Aug 17, 2020

Manado, Sulutnews.com - Manado adalah kota wisata yang memiliki tempat-tempak bersejarah, salah satunya Gereja Masehi Injil di Minahasa (GMIM). Gedung gereja ini pun menjadi adalah saksi bisu berakhirnya Perang Dunia II dan kemerdekaan Indonesia.

Gereja yang sering disebut juga Gereja Sentrum Manado ini merupakan Gereja tertua di Kota Manado.

Berdiri tahun 1677, usianya telah mencapai ratusan tahun dan kini menjadi salah satu situs sejarah religi di Manado.

Bangunan GMIM Sentrum terletak 200 meter dari Pasar 45.

Pada tahun 1944 Gereja Sentrum  pernah beralih fungsi (yaitu masa pendudukan Jepang),  Gereja tua ini menjadi markas Manado Syuu Kiri Sutokyop Kyookai (MSKK) yang dipimpin Pdt. Hamasaki yang berkebangsaan Jepang.

Saat terjadi perlawanan terhadap penjajahan dikala itu, Indonesia berhasil memproklamirkan Kemerdekaanya pada tanggal 17 Agustus 1945 di Betavia.

Setelah Jepang kalah pada sekutu, tahun 1946 Belanda pun akhirnya mundur dan mengakui kemerdekaan RI. Kemudian Belanda membangun

Monumen Perang Dunia II tepat di samping Gedung Gereja Sentrum. Monumen ini konon dibangun pada tahun 1946 s.d 1947 oleh orang Belanda bernama Van de Bosch.

Dibangun untuk meninggalkan bukti  atas Perang Dunia II antar pihak Sekutu dan Jepang serta rakyat semasa Perang Dunia II.

Sayang Monumen yang dibangun di kawasan Jalan Sarapung No.1, Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara, tidak sempat diresmikan sehingga tidak ada prasasti penamaannya. Selanjutnya direnovasi oleh Pemprof Sulut menjadi salah satu wisata religius karena letaknya bersebelahan dengan Gereja Sentrum.

Seiring berjalannya waktu, kedua situs bersejarah ini menjadi objek wisata religius yang menjadi incaran widatawan dan para akademisi dari dalam dan luar negeri. Karena monumen ini sebagai bukti orang Manado pernah berjuang mengusir penjajah sama seperti saudara-saudarinya di pulau Jawa.  (*/Yayuk)