Kesehatan

Kesehatan (3)

Jakarta, Sulutnews.com - Selain menjaga kesehatan tubuh supaya tetap fit, kita juga perlu untuk merawat seluruh bagian tubuh supaya tetap tampil menawan. Salah satunya ialah bagian ketiak, yang mana oleh beberapa orang dianggap sebagai bagian penting lantaran dapat menunjang kepercayaan diri dalam menggunakan outfit kesayangannya. 

Berdasarkan hasil riset ZAP Beauty Index 2021, hampir 40% wanita dibawah 25 tahun mempercayakan perawatannya ke klinik kecantikan. Dengan presentase 39,0% wanita Gen Z, 43,3% wanita Gen Y, dan 49,6% wanita Gen X yang memilih melakukan perawatan ke klinik kecantikan guna melakukan perawatan kulit termasuk melakukan perawatan ketiak. 

ZAP Clinic hadir dengan Underarms Hair Removal yang dimana dapat menghilangkan rambut-rambut membandel pada area ketiak hingga ilang permanen dengan dibantu teknologi IPL, Underarms Rejuvenation yang dimana mampu membantu mencerahkan kulit area ketiak, dan Super Brightening Underarm yang merupakan perawatan premium dengan hasil signifikan dan metode khusus yang aman guna mencerahkan kulit yang menghitam sekalipun.(/Parly)

Jakarta, Sulutnews.com - Peneliti Utama Tim Vaksin Nusantara, dr Jonny Sp. PD, K.GH M.Kes, MM, CAPD membeberkan tingkat keamanan vaksin besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. 

Awalnya, dr Jonny menjelaskan bagaimana proses Vaksin Nusantara dimasukkan ke dalam tubuh pasien. Sebelum disuntikkan, komponen dari Vaksin Nusantara dibersihkan terlebih dahulu dan kemudian imunitas seluler di dalam tubuh dikenalkan dengan antigen. 

"Antigennya itu bukan komponen virus. Jadi di dalam Vaksin Nusantara ini tidak ada komponen virus. Beda dengan yang lain (konvensional,res) yang semuanya virus. Tidak ada virus yang dimasukkan ke dalam tubuh," jelas dr Jonny kepada tim awak media, Selasa (9/11).

Uji klinis fase I yang sudah memasuki bulan kesepuluh mendapatkan hasil yang sangat baik. Dikatakan dr Jonny, dari segi keamanan tidak ada yang bermasalah dengan Vaksin Nusantara. 

"Tidak ada kejadian yang tidak diinginkan yang serius. Efeknya hanya ringan dan sedang saja dan kebanyakan sifatnya lokal, nyeri di penyuntikan," katanya.

Demikian juga dengan fase II yang dilakukan untuk mencari dosis penyuntikan ke dalam tubuh seseorang. 

Menurut dr Jonny, pada fase 2 juga diperhatikan dengan seksama faktor keamanan diperhatikan, termasuk pada fase 3 nantinya. 

"Seberapa besar bisa mencegah supaya pasien itu walaupun kena Covid-19 tapi dia tidak berat, tidak sampai dirawat. Itu efikasi. Karena kalau kita baca-baca efikasi itu bukan seberapa banyak orang yang nggak kena Covid-19, tapi seberapa banyak orang itu walaupun kena Covid-19 tapi tidak berat. Kan itu fungsi vaksin," tuturnya. 

Dari 135 orang yang menjadi relawan uji klinis fase II hingga bulan ke-6 diketahui sebanyak 21 orang yang positif Covid-19 dengan varian Delta. 

"Dari 21 pasien ini, yang dirawat cuma 3 orang. Jadi kalau lihat efikasi itu 97 persen. Tapi kalau lihat dia (pasien) kena atau tidak, yang tidak kena saat ini sekitar 84,6 persen (efikasi)," tandasnya.(/Mercys)

Sulutnews.com - Belum selesai dengan pandemi COVID-19, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO melaporkan kasus penyakit virus Marburg, yang sangat menular yang menyebabkan demam berdarah. Virus mematikan ini satu keluarga dengan Ebola dan ditularkan ke manusia melalui kelelawar buah.

Pejabat kesehatan Guinea mengkonfirmasi kasus pertama infeksi virus Marburg di Afrika Barat. Penyakit ini muncul lagi di Afrika dan diketahui merupakan penyakit yang sangat menular dan masih keluarga yang sama dengan virus penyebab Ebola.

Dilansir dari BBC, Kamis (12/8/2021),

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa penyebaran virus Marburg perlu segera dihentikan.

Penyakit yang disebabkan infeksi virus Marburg ini ditularkan ke manusia dari kelelawar buah dan menyebar antar manusia melalui transmisi cairan tubuh.

Kasus virus Marburg ini sangat jarang terjadi, yang mana wabah besar yang terakhir kali terjadi di Angola pada tahun 2005.

Infeksi virus Marburg adalah penyakit yang parah, bahkan seringkali berakibat fatal. Gejala virus Marburg yang diketahui termasuk sakit kepala, demam, nyeri otot, muntah dan pendarahan.

Kasus pertama virus Marburg itu diidentifikasi di Guéckédou minggu lalu, wilayah yang sama di mana kasus Ebola baru-baru ini ditemukan dalam wabah yang sekarang sudah berakhir.

"WHO akan mencegah wabah Marburg dengan mempertahankan pengawasan dan mendukung negara-negara berisiko untuk mengembangkan rencana kesiapsiagaan," sebut WHO di laman resminya.

Kasus virus Marburg terdeteksi di Prefektur Gueckedou, Guinea. Dan, kasus itu muncul selang kurang dari dua bulan setelah negara Afrika tersebut mengumumkan berakhirnya wabah Ebola pada tahun ini yang menewaskan 12 orang.

Pasien yang terjangkit virus Marburg adalah seorang pria yang meninggal pada 2 Agustus lalu, delapan hari setelah timbul gejala. Desa tempat dia tinggal berada di dekat perbatasan Guinea dengan Sierra Leone dan Liberia.

Ini merupakan kasus pertama yang diketahui dari penyakit virus Marburg di Guinea dan Afrika Barat.

Melansir laman UN News, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, Kementerian Kesehatan Guinea melaporkan kasus tersebut ke organisasinya pada Jumat (6/8) pekan lalu.

Pasien mengalami gejala pada 25 Juli. Lalu, 1 Agustus, ia mengunjungi fasilitas kesehatan kecil di dekat desa tempat tinggalnya dengan gejala demam, sakit kepala, kelelahan, sakit perut, dan pendarahan gusi. 

Tes diagnostik cepat untuk malaria dilakukan dan hasilnya negatif. Pasien lalu menjalani perawatan suportif dengan rehidrasi, antibiotik parenteral, dan pengobatan untuk mengatasi gejala.

Tingkat kematian hampir 90%

Menurut Tedros, WHO mendukung pihak berwenang Guinea dalam menyelidiki sumber wabah, melacak kontak, dan membentuk komunitas lokal tentang langkah-langkah perlindungan. "Sekitar 150 kontak telah diidentifikasi dan sedang ditindaklanjuti, termasuk tiga anggota keluarga dan seorang petugas kesehatan, yang telah diidentifikasi sebagai kontak erat berisiko tinggi,” katanya. (**/Adrian)