Manado, Sulutnews.com - Pelaksanaan operasi teritorial dan intelijen atas perintah Pangdam XIII/Merdeka, Tim Operasi Kodam XIII/Merdeka berhasil menemukan jalur peredaran senjata api ilegal di wilayah Sulawesi Utara.

Hal tersebut dikatakan As Intel Kodam XIII/Merdeka Kolonel Inf Eko Suprayitno saat dikonfirmasi diruang kerjanya, Selasa (5/9/2017).

Kolonel Eko mengatakan, temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh tim operasi dan anggotanya berhasil mengamankan sejumlah barang bukti berupa senjata api.

Dari temuan senjata api tersebut, Kolonel Eko menerangkan, permasalah yang sering dihadapi di perbatasan adalah yakni ada beberapa kelompok masyarakat yang tidak memiliki indetitas penduduk, baik identitas penduduk Indonesia maupun Philipina.

“Kita tidak jarang mendengar tentang kepemilikan senjata api ilegal dari mereka-mereka yang tidak punya identitas diri, Jadi anggota kita melakukan deteksi hingga melakukan pengejaran. Setelah itu kita melakukan pendekat hubungan emosional dengan mereka dan hasil memuaskan, mereka berhasil disadarkan dan kemudian menyerahkan senjata api tersebut,” terang Kolonel Eko.

Lebih lanjut kata As Intel Kodam XIII/Merdeka, sejak Marawi mengalami konflik, Kami tetap waspada dan melakukan penjagaan keamanan di perbatasan. Termasuk masuknya barang-barang jenis apapun.

“Kita tetap intensif menjaga perbatasan Indonesia-Philipina, baik dari barang ilegal dan orang-orang yang masuk secara ilegal tanpa identitas yang sah, seperti yang sudah kita amankan pada beberapa waktu lalu yang mana mereka memiliki identitas anggota Moro Islamic,” lanjutnya.

Dirinya menegaskan, dibutuhkan saat ini adalah kebersamaan antara TNI-Polri dan rakyat, seperti yang selalu digambarkan TNI dan rakyat bagai ikan dan air laut, ikan tak bisa hidup tanpa air, begitu pun sebaliknya air tanpa ikan terasa belum lengkap.

“Dengan adanya temuan ini, membuktikan bahwa memang benar adanya peredaran senjata api ilegal di wilayah kita. Dan kita butuh kebersamaan antara TNI Polri dan Rakyat untuk keamanan wilayah kita,” tegas As Intel Kodam XIII/Merdeka Kolonel Inf Eko Suprayitno.

Adapun sejumlah barang bukti senjata api dan munisi yang ditemukan, antara lain :

– Penemuan dua pucuk pistol colT Cal 45 USA, 2 buah magasen, 12 butir butir munisi Cal 45 mm dan 1 buah sarung pistol di kampung Bahagia Petta, kecamatan Tabukan Utara, kabupaten Sangihe pada tanggal 18 Juli 2017.

-Penyerahan 1 pucuk pistol revolver made in USA dan 4 butir munisi di desa Bongon, kecamatan Melonguane Timur, kabupaten kepulauan Talaud pada tanggal 12 Agustus 2017.

-Penemuan 3 pucuk pistol revolver buatan Filipina dan 36 butir munisi Cal 3,8 mm di desa Tinakareng, kecamatan Nusa Tabukan, kabupaten Sangihe pada tanggal 3 September 2017.(MS) 

Manado, Sulutnews.com - Mengawali upacara Hari Ulang Tahun ke-72 dan detik'detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2017, pemerintah pusat melalui Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemenkum HAM) RI, menyerahkan Surat Keputusan pemberian remisi kepada narapidana dan tahanan di seluruh Indonesia.

Hal itu juga dilakukan Rumah Tahanan (Rutan) Klas II Malendeng Kota Manado, Kamis (17/08) pagi tadi. Penyerahan remisi tersebut dilaksanakan dalam bentuk upacara bendera yang dipimpin Walikota Manado DR Ir GS Vicky Lumentut SH MSi DEA. Upacara berlangsung khidmat diikuti petugas Rutan dan narapidana Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) serta dihadiri unsur kepolisian, kejaksaan dan Badan Narkotika Nasional (BNN). Menteri Hukum dan HAM RI Yasonna Hamonangan Laoly, dalam sambutan yang dibacakan Walikota GSVL mengatakan Remisi bukan anugerah pengurangan hukuman karena belas kasihan negara terhadap terpidana.

Tetapi hak yang diberikan berdasarkan persyaratan yang diatur dalam Undang-undang, salah satunya UU Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. "Pemberian remisi juga meringankan beban lapas dan rutan yang ada di seluruh Indonesia. Mengingat, warga binaan pemasyarakatan di dalam negeri jumlahnya sudah mencapai 226.143 orang. Rinciannya, narapidana 156.613 orang dan tahanan 69.530 orang," ujar Menkumham, seperti dikutip Walikota GSVL.

Lebih lanjut dikatakan, dengan jumlah narapidana yang sangat besar, dapat menimbulkan dampak gejolak keamanan didalam lapas atau rutan. Tak hanya itu, pemberian remisi juga diklaim berdampak pada penghematan anggaran negara sampai Rp 102 miliar. "Ini jumlah yang sangat besar. Kalau tidak ada pemberian remisi umum, jumlah itu akan terus membesar," tukas Laoly.

Dalam kesempatan itu, Walikota GSVL menyerahkan SK pemberian remisi umum secara simbolis kepada 3 orang narapidana dari 11 napi penerima remisi tahun 2017. "Saya berharap, dengan remisi yang mereka terima di hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2017 ini, mereka akan menjadi warga yang baik dan dapat kembali ke masyarakat dan keluarga dengan tidak mengulangi perbuatan mereka," ujar Walikota GSVL, didampingi Kepala Rutan Klas II Malendeng Manado Ahmad Zainal Fichri AMD IP SH.

Dalam kesempatan itu pula, Walikota GSVL menyerahkan bantuan satu unit kendaraan ambulance dari Pemerintah Kota Manado kepada Rutan Klas II Malendeng. Penandatanganan penyerahan ambulance dilakukan Walikota GSVL dan Kepala Rutan Klas II Malendeng Ahmad Zainal Fichri. Sedangkan, pihak Rutan menyerahkan bingkisan sebuah lukisan tiga dimensi Perjamuan Suci hasil karya WBP Rutan Malendeng. Tampak hadir Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kota Manado Drs Rum Dj Usulu dan sejumlah pejabat Pemkot Manado.(YY) 

Manado, Sulutnews.com - Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Sulawesi Utara (Sulut) berhasil membongkar sindikat peredaran narkotika golongan I jenis sabu dan ganja di Kota Manado, baru-baru ini. Enam tersangka pria beserta sejumlah barang bukti diamankan di tempat dan dalam waktu berbeda.

Para tersangka, masing-masing berinisial FW (49), MRL (48), AH (40), FS (32), SP (33), kelimanya warga Kota Manado dan MM (27), warga Kabupaten Minahasa Utara (Minut). Terbongkarnya bisnis barang haram tersebut, bermula dari laporan warga kepada Timsus Ditresnarkoba Polda Sulut, tentang adanya peredaran gelap narkotika.

Berdasarkan laporan warga, tim menangkap FW dan RML di parkiran timur Grand Central Kawanua, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Selasa (25/07/2017), sekitar pukul 10.30 WITA. Dari dua tersangka ini, petugas mendapati barang bukti sabu dan ganja masing-masing 1 paket, yang menurut pengakuan keduanya, diperoleh dari AH.

Malam harinya sekitar pukul 20.00 WITA, tim membekuk AH dan FS di parkiran minimarket Alfamidi Kelurahan Paniki, Kecamatan Mapanget, Kota Manado. Saat digeledah, dari tangan AH tim menemukan sabu dan ganja, masing-masing 1 paket. Sementara dari FS, didapati 1 paket ganja. FS mengaku, sabu ia dapatkan dari MM sedangkan ganja dari SP.

Tak mau kehilangan buruannya, tim dibawah pimpinan AKBP Denny Palit ini, terus melakukan pengejaran. Rabu (26/07) dini hari, sekitar pukul 00.30 WITA, tim berhasil meringkus MM beserta 1 paket sabu, di TKP yang sama dengan penangkapan sebelumnya, yakni di Alfamidi Kelurahan Paniki.

Tim lalu menggeledah rumah MM di Perum Mapanget Griya II, Kecamatan Talawaan, Minut, dan berhasil menyita barang bukti 6 paket sabu siap edar, yang ditemukan di dalam kamarnya. Dari pengakuan MM, sabu tersebut milik RH, warga binaan Lapas Tuminting.

Berkat kerja keras dan tak kenal lelah, tim akhirnya juga berhasil menciduk SP, Rabu (26/07), sekitar pukul 08.00 WITA, di wilayah Kecamatan Tuminting, Kota Manado. Saat menggeledah rumah SP, tim mendapati bungkusan koran berisi daun ganja kering di dalam kardus sepatu, yang tersimpan di dalam lemari ruang tengah.

SP mengaku, ganja tersebut didapatnya dari seseorang di Ternate, Maluku Utara. Ditambahkannya, ganja sebagian telah habis terpakai dan diedarkan, salah satu pembelinya yaitu FS.

Kapolda Sulut, Irjen Pol Bambang Waskito melalui Kabid Humas, Kombes Pol Ibrahim Tompo menegaskan, penangkapan tersebut merupakan bukti nyata komitmen Polda Sulut dan jajaran dalam memberantas peredaran serta penyalahgunaan narkotika. “Para tersangka sudah diamankan di Mapolda Sulut,” ujar Kabid Humas, Selasa (01/08) pagi.

Masing-masing tersangka, lanjutnya, dijerat dengan UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dalam pasal yang berbeda. “Kasus ini masih dalam pengembangan lanjut,” Tegas Kabid Humas.(NP)

Minut, Sulutnews.com - Peristiwa penikaman terjadi di Desa Matungkas Jaga IX, Minahasa Utara, Selasa malam (1/8/2017).

Peristiwa naas itu dialami korban Elias Metusala (46), yang dilakukan tersangka J (45), tepatnya di depan Gereja Pantekosta Maranata. Keduanya merupakan warga Desa Matungkas Jaga VII Kecamatan Dimembe.

Berdasarkan informasi yang dirangkum, kejadian berawal dari adanya tiga pengendara sepeda motor yang balapan dan saling bersenggolan. Saat itu anak korban, Alvian Metusala yang kebetulan lewat di tempat kejadian sempat mampir.

Tidak lama kemudian tersangka yang saat itu berada di Poskamling dan sudah mabuk datang mendekatinya dan berkata “Kenapa teman kamu, kamu kurang senang sama saya?”.

Menurut Alvian saat itu dirinya hanya diam dan akhirnya pulang melaporkan bahwa dirinya telah diancam oleh tersangka.

Korbanpun marah dan langsung mendatangi tersangka di lokasi kejadian dan terjadilah percekcokan antara tersangka dan korban.

Tersangka yang naik pitam langsung mengeluarkan parang yang dibawanya dan menikam korban sebanyak satu kali di bagian perut. Saat korban terjatuh, tersangka kembali menambah tikaman sebanyak dua kali di bagian perut, yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

Korban yang sudah tergeletak di jalan akhirnya ditemukan oleh Jhony Mandagi (31), yang kebetulan melintasi jalan raya Desa Matungkas dan mencari bantuan untuk mengevakuasi korban.

Kapolres Minahasa Utara AKBP Alfaris Pattiwael melalui Kasubag Humas AKP Alex Watugigir membenarkan peristiwa tersebut.

“Tersangka akhirnya menyerahkan diri beberapa saat setelah kejadian dengan membawa barang bukti sebuah parang yang panjangnya kira-kira 45 cm. Dan untuk korban akan dibuatkan permintaan autopsi, selanjutnya tersangka akan diproses sesuai hukum yang berlaku,” Tegasnya.