Manado,Sulutnews.com – Bertempat di Ruang Sidang Utama, pada hari Kamis tanggal  18 Februari 2021 telah disidangkan 3 (tiga) perkara salah satunya adalah perkara “kawin dua” yang diduga dilakukan oleh Terdakwa atas nama Kopda S.

Sidang dipimpin Hakim Ketua Mayor Sus Aulisa Dandel, S.H. dilaksanakan mulai pukul 13.30 Wita dengan tetap menerapkan Standar Protocol Covid-19 dengan mewajibkan Penggunjung sidang menggunakan masker, mengecek suhu badan dan menjaga jarak, dimana hal ini juga berlaku bagi Hakim, Oditur Militer, Penasihat hukum, Terdakwa maupun Saksi. Dalam dakwaan yang telah dibacakan sebelumnya oleh Oditur Militer disebutkan bahwa Terdakwa didakwa telah melakukan “kawin dua” pada tahun 2020 dimana perbuatan ini dilakukan Terdakwa di Kota Manado.

Mayor Chk Subiyatno, S.H., M.H. selaku Juru Bicara Pengadilan Militer III-17 Manado menjelaskan bahwa agenda sidang perkara “kawin dua” yang diduga dilakukan Kopda S telah memasuki tahapan pemeriksaan Saksi dan Terdakwa. Sidang akan dilanjutkan hari Selasa tanggal 23 Februari 2021 dengan agenda pemeriksaan barang bukti. Perbuatan Terdakwa sendiri diancam dengan hukuman pidana penjara maksimal 5 (lima) tahun sebagaimana diatur dan diancam dengan Pasal 279 ayat (1) ke-1 KUHP.

Dalam pemeriksaan perkara ini Oditur Militer menghadirkan 1 (tiga) orang Saksi, yaitu Sdri. Y selaku istri pertama yang melaporkan perbuatan Terdakwa. Dari keterangan Saksi Sdr. Y diperoleh kejelasan tentang perbuatan yang dilakukan Terdakwa yang menikahi Sdri. L tanpa ijin dan sepengetahuan Sdr. Y selaku istri sah Terdakwa. Sdri. Y merupakan istri sah yang telah dinikahi Terdakwa secara sah sesuai agama dan tercatat secara kedinasan dan sampai dengan saat ini masih berstatus istri sah karena belum pernah diceraikan Terdakwa.  

Pelaksanaan persidangan di Pengadilan Militer III-17 Manado telah mempedomani Peraturan Mahkamah Agung Nomor 6 tahun 2020 tentang perubahan atas Perma Nomor 5 tahun 2020 tentang Protokol Persidangan dan Keamanan dalam Lingkungan Pengadilan.(/Merson)

Manado,SulutNews.com - Tiga tahun jadi buronan Polisi,  YD (35) yang merupakan tersangka pencabulan terhadap dua anak tirinya, akhirnya dibekuk Tim Resmob Satreskrim Polres Minahasa pada hari Selasa (16/02/2021) belum lama ini.

Diketahui sebelumnya, Tersangka yang masuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang) pihak kepolisian sejak 2018 silam, berhasil ditangkap di wilayah Kelurahan Inobonto, Kecamatan Bolaang, Kabupaten Bolaang Mongondow.

Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast membenarkan hal tersebut,  kepada Sulutnews.com saat di konfirmasi , Rabu (17/02).

Dijelaskan Kabid Humas,  Kasus inj awalnya dilaporkan oleh istri tersangka yang merupakan ibu kandung korban, April 2018 lalu. Tersangka diketahui mencabuli 2 anak tirinya yang masih berumur 9 dan 14 tahun.

Informasi diperoleh, dini hari itu pelapor terbangun dan mendapati tersangka tidak berada di kamar. Pelapor yang penasaran lalu mencari keberadaanya. Betapa terkejutnya pelapor saat mendapati tersangka sedang menyetubuhi korban yang masih dibawah umur.

Diduga kuat, tersangka beraksi lebih dari satu kali. Pelapor yang merasa sangat keberatan kemudian melaporkan perbuatan bejat tersangka ke SPKT Polres Minahasa. Mengetahui dirinya dilaporkan, tersangka YD langsung melarikan diri, ujar Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast.

"Pihak kepolisian pun sempat kehilangan jejak tersangka. Meski demikian, pencarian terus dilakukan. Hingga akhirnya Tim Resmob mendapat informasi dari warga bahwa tersangka bekerja disalah satu toko bangunan di wilayah Inobonto.

Tim yang  dipimpin oleh Aiptu Ronny Wentuk merespons informasi tersebut dengan melakukan penyelidikan di lapangan. Ternyata benar, tersangka bekerja disalah satu toko bangunan.

Tim pun segera melakukan penangkapan. Namun tersangka berusaha melawan dan melarikan diri. Petugas memberikan tembakan peringatan tetapi tak digubris oleh tersangka. Hingga petugas kemudian ‘melumpuhkan’ tersangka dengan ‘timah panas’ di betis kirinya, imbuhnya.

Saat ini tersangka YD sudah diamankan di Mapolres Minahasa untuk dimintai keterangan lebih lanjut,” tandas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast. (adrian).

Manado,Sulutnews.com – DT (44) Pelaku penikaman akhirnya harus dibekuk oleh Personel Tim Paniki dan Tim Macan Satreskrim Polresta Manado  karena telah menikam ayah mertuanya, Jefri Boham (55), Rabu (17/02/2021), sekitar pukul 03.00 WITA.

Dari  informasi yang diperoleh SulutNews.com, Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast saat di konfirmasi menjelaskan bahwa peristiwa yang terjadi di  rumah korban, Kelurahan Karame Lingkungan IV, Kecamatan Singkil, Kota Manado, sekitar pukul 00.45 WITA.

"Bermula ketika pelaku menegur korban agar tidak memutar musik dengan suara keras, karena anak pelaku sedang sakit.

Namun korban tak menghiraukan, dan justru memutar musik semakin keras, ujar Kombes Pol Jules Abraham Abast.

Lanjut karena Kesal, "pelaku (DT) langsung keluar dari kamar lalu mengambil pisau di dapur. Tanpa basa basi, pelaku langsung menikam korban sebanyak satu kali, tepat di perut bagian kiri.

Setelah itu pelaku melarikan diri. Sedangkan korban dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Berawal dari laporan korban, tim gabungan langsung dengan mengejar pelaku.

Tim akhirnya berhasil menangkap pelaku di wilayah Kelurahan Ketang Baru, Kecamatan Singkil dan langsung mengamankan pelaku.

Saat ini pelaku beserta barang bukti sebilah pisau dapur telah diamankan di Mapolresta Manado untuk diperiksa lebih lanjut,” tandasnya. (Adrian)

Manado, SulutNews.com - Sidang perkara pidana nomor97/PID.B/2020/PN.TNN  di Pengadilan Negeri (PN) Tondano seakan tak berujung.

Kali ini, pihak Audy Alexander Tujuwale SH, Kuasa Hukum JL alias Epi (52), mencoba mencari keadilan dengan menindak lanjuti laporan dugaan hilangnya barang bukti dalam perkara tersebut, yakni 13 dari 14 unit Panel Lampu SollarCell Type SW-ISL701-40W dan tiang lampu Solar Cell bersama kelengkapannya.

Kepada Sulutnews.com, dijelaskan Tujuwale "Ada bukti surat tanda terima yang kami pegang, yang kami duga dibuat oleh oknum penyidik ke pelapor perempuan bernama Leony. Namun, surat tanda terima itu tidak mencantumkan nomor dan cap dari pihak Polres Minahasa. Kami juga sudah ke Kejati Sulut dan mereka berjanji memproses aduan kami," ungkap Tujuwale

Menurut Tujuwale, dugaan hilangnya barang bukti tersebut sebelumnya telah diadukan ke Kapolda Sulawesi Utara (Sulut), melalui Bagian Propam Polda Sulut dan Irwasda Polda Sulut pada 5 Februari pekan lalu, oleh Tujuwale.

"Pada tanggal 5 Februari lalu, dugaan hilangnya barang bukti ini sudah kami adukan secara resmi ke pak Kapolda. Hari ini (Senin/15/02, red) kami menindak lanjuti aduan tersebut, sudah sejauh mana prosesnya," kata Tujuwale, yang keseharian sebagai Ketua Departemen Hukum Manguni Indonesia Minahasa, didampingi rekannya Ronald Aror SH dan Zulfikar SH

Lanjut kata Tujuwale, aduan pihaknya telah ditanggapi dengan baik oleh Polda Sulut dan berjanji akan segera menindaklanjuti laporan tersebut. "Jawabannya, sudah dalam penanganan," ujarnya.

Kapolda Sulawesi Utara (Sulut) Irjen Pol RZ Panca Putra melalui Kabid Humas Kombes Pol Jules Abraham Abast saat di konfirmasi, Senin (15/02/2020)  belum memberikan tanggapan, nanti saya cek dulu laporannya di Propam jawab nya singkat. (adrian)

Manado,SulutNews.com - Kolaborasi  antara Timsus Maleo Polda Sulut bersama Timsus Waruga Polres Minut, Resmob Polres Minut dan Resmob Polres Kotamobagu berhasil mengamankan lelaki yang menjadi buronan Polisi dalam kasus pembunuhan, yang terjadi pada tahun 2017 di lokasi tambang Desa Tatelu Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara.

Adalah tersangka lelaki berinisial IS alias Indra (30) warga Tompaso Baru, diamankan gabungan Tim dipimpin oleh Kapolsek Dimembe Iptu Fadhly, di Desa Biga Kecamatan Kotamobagu Utara, Sabtu (13/2/2021) sekitar pukul 22.00 Wita.

Saat akan dilakukan penangkapan, tersangka melakukan perlawanan dan menyerang anggota dengan menggunakan senjata tajam jenis badik.

Tim kemudian melakukan tembakan peringatan ke atas tetapi pelaku masih terus melakukan penyerangan sehingga Petugas langsung mengambil tindakan tegas dan terukur.

Kepada Sulutnews.com, Minggu (14/02/2020) baru - baru ini saat di konfirmasi, Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast membenarkan hal tersebut. "Tersangka dan barang bukti senjata tajam jenis badik telah diamankan dan dibawa ke Polres Minahasa Utara untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut," terang Kombes Pol Jules Abraham Abast.

Penangkapan terhadap tersangka berkat laporan dari masyarakat yang memberikan informasi keberadaan tersangka terhadap Polisi. "Terima kasih atas kerja samanya," ungkap Kombes Pol Jules Abraham Abast.

Lanjut Dijelakan Kombes Pol Jules Abraham Abast,  Kasus pembunuhan ini sendiri terjadi pada hari Rabu, 5 Juli 2017 sekitar pukul 24.00 wita di kompleks tambang rakyat Desa Tatelu Kecamatan Dimembe.

"Saat itu tersangka lelaki IS bersama rekannya berinsial CS mencari rekan korban di lokasi tambang, namun hanya bertemu dengan korban, lelaki bernama Masri Pasambuna.

Saat itu juga terjadi cekcok dan tersangka langsung menikam korban dengan senjata tajam berupa pisau dan mengenai di bagian dada dan punggung belakang korban.

Usai melakukan aksinya, tersangka langsung melarikan diri meninggalkan lokasi tambang, urai Kombes Pol Pol Jules Abraham Abast. (Adrian)

Manado,SulutNews.com – Kolaborasi Tim Paniki dan Tim Macan Polresta Manado berhasil mengamankan seorang IRT (Ibu Rumah Tangga) berinisial FS (41), warga Singkil Manado, atas dugaan kasus pencurian sebuah handphone Apple iPhone 12 Pro Max, Sabtu (13/02/2021).

Kejadian tersebut dialami oleh korban bernama Fiolen Octaviane Manoppo (41), warga Perkamil Manado, Rabu (03/02/2021) malam sekitar pukul 19.30 WITA, disalah satu toko yang berada di dalam Megamall Manado.

Kepada Sulutnews.com Minggu (14/01/2020) baru - baru ini,  Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast saat di konfirmasi membenarkan hal tersebut.

Dijelaskan Kombes Pol Jules Abraham Abast, "Korban dalam laporannya di Polresta Manado, menerangkan, malam itu sedang berbelanja disalah satu toko dan sebelumnya menyimpan handphone di dalam tas selempang.

Tak berselang lama, saat korban akan menggunakan handphone tersebut, ternyata sudah hilang dari dalam tas. Kejadian ini mengakibatkan korban mengalami kerugian material sekitar Rp. 21 juta.

Sedangkan informasi diperoleh, diduga tersangka sudah membuntuti korban sejak awal. Begitu korban lengah, tersangka langsung beraksi dengan membuka tas dan mengambil handphone milik korban, kemudian melarikan diri.

Tim gabungan yang sedang melakukan penyelidikan di lapangan kemudian mendapat informasi keberadaan tersangka. Tim menuju lokasi dan berhasil mengamankan tersangka beserta barang bukti handphone milik korban tersebut.

 “Ternyata berdasarkan Informasi yang diperoleh dari Polresta Manado, tersangka ini merupakan residivis kasus pencopetan.

Saat ini tersangka beserta barang bukti telah diamankan di Mapolresta Manado untuk diperiksa lebih lanjut,” terang nya.

Kombes Pol Jules Abraham Abast juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dan waspada saat menyimpan barang-barang berharga.

 “Termasuk saat berada di tempat umum, jangan lengah. Jaga dan simpan barang berharga dengan aman untuk mencegah terjadinya aksi kejahatan,” kuncinya.(Adrian)

Manado,SulutNews.com -  Dua lelaki berinsial YK (28) dan NK (39) yang berprofesi sebagai pekerja swasta, yang diduga melakukan penganiayaan secara bersama,

tak hitum jam langsung dibekuk Tim Paniki Rimbas 3 Polresta Manado, Pada Minggu (14/02/2021) dini hari sekitar pukul 03.00 Wita, di rumah tersangka di Kelurahan Mahakeret Barat, Manado.

Kepada media ini, Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast membenarkan kejadian tersebut,

Dijelaskan Kabid Humas bahwa, Kedua lelaki berbadan kekar ini diamankan aparat karena diduga telah melakukan penganiayaan terhadap korban bernama Rafael Marcelino Korompis (27) warga Karombasan Selatan, berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP/23/II/2021/Spkt/RESTA MANADO.

Kejadian ini berawal 3 jam sebelumnya, dimana korban menegur seorang lelaki, tiba-tiba tersangka lelaki YK tanpa alasan yang jelas langsung memukul wajah korban, diikuti oleh lelaki NK yang memukul kepala korban serta menendang ke arah wajah korban.

Hal tersebut membuat korban mengalami bengkak, hidung berdarah dan tangan kanan luka ungkap Kabid Humas.

Lanjut itu, Korban akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Manado dan Tim Paniki Rimbas 3 langsung merespon hal tersebut.

"Saat ini kedua tersangka sudah diserahkan Tim Paniki ke Polresta Manado untuk diproses hukum lebih lanjut," tandas Kombes Pol Jules Abraham Abast.(Adrian)

Foto 2: Barang bukti hasil dari curanmor yang berhasil di amankan oleh Polisi.

Manado,SulutNews.com -  Tim Resmob Polres Minahasa Utara berhasil menangkap  2 orang tersangka yang terlibat dalam kasus pencurian kendaraan bermotor (Curanmor)

Hal tersebut  di ungkapkan  Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast, kepada SulutNews.com, saat di Konfirmasi Sabtu (13/02/2020), dijelaskan Kombes Pol Jules Abast, Kedua lelaki tersebut yaitu DRG alias Deny (21) dan NAS alias Nov (25), "Mereka diamankan oleh Tim Resmo Polres Minut yang dipimpin langsung oleh Kanit Resmob Aipda Steven Pandi, di Kota Bitung, Jumat (12/2/2021).

Sementara itu tersangka (TSK) utama yaitu lelaki BVJM alias Brian (21), yang dibantu lelaki DRG dalam melakukan pencurian sepeda motor merk Honda Scoopy berwarna merah hitam DB 3616 CT di Kolongan Kecamatan Kalawat, masih dalam pengejaran Tim Resmob Polres Minahasa Utara.

Dikatakan Kombes Pol Jules Abraham Abast, "Dalam pengembangan kasus tersebut, Tim menemukan barang bukti curanmor sudah berada di Kota Bitung, tempat ketiganya berdomisili.

Saat ditemukan, barang bukti berada di rumah seorang penadah, yaitu lelaki NAS, yang dia beli dari tersangka utama lelaki BVJM.

Tim  yang mendapat informasi tersebut langsung memburu tersangka utama di rumahnya dan rumah sahabatnya, namun belum juga ditemukan.

"Kedua lelaki tersebut sudah diamankan di Polsek Airmadidi untuk dimintai keterangan, sedangkan Tim Resmob masih terus memburu tersangka utamanya," terang Kombes Pol Jules Abraham Abast.

Iapun berpesan kepada seluruh pengendara kendaraan agar berhati-hati dalam memarkirkan kendaraannya, "Pastikan kendaraan dalam keadaan terkunci dan parkirlah di tempat yang aman," pungkas Kabid Humas Kombes Pol Jules Abraham Abast. (adrian)

Manado,SulutNews– Polres (Mitra)  Minahasa Tenggara  di-back up Polda Sulut berhasil mengungkap kasus penganiayaan yang terjadi di area perkebunan Alason Desa Ratatotok I, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Mitra, yang terjadi Minggu (07/02/2021), belum lama ini.

Melalui konferensi pers, yang digelar di Mapolda Sulut, Selasa (09/02) hari ini,  Pengungkapan kasus tersebut dikatakan oleh Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast peristiwa  bermula saat pelaku berinisial YHW dan temannya berinisial S berjalan menuju camp untuk beristirahat.

Namun di tengah perjalanan keduanya dihadang oleh korban bernama Berry dan temannya Sepo.  Dari situ terjadi adu mulut antara mereka,” 

Kemudian Berry sempat mengeluarkan senjata jenis air softgun dan mengeluarkan tembakan yang mengena di betis kiri pelaku ungkap Kabid Humas  Polda Sulut didampingi Kapolres Mitra AKBP Rudi Hartono.

Lanjut Kabid Humas, “Sebelumnya Berry juga melarang pelaku agar tidak masuk ke area perkebunan, karena perkebunan tersebut masih dalam proses sengketa terkait kepemilikan,”

Beberapa waktu kemudian, pelaku bersama beberapa temannya kembali ke lokasi di mana dia dihadang oleh korban. Pelaku saat itu membawa sebilah besi, kemudian memukulkannya ke arah korban.

 “Pukulan besi kena di bahu korban sebelah kiri, lalu pelaku memukul lagi dan kena di bagian kepala, hingga korban mengalami luka.

Setelah itu pelaku kembali ke camp,” terang Kabid Humas.

Dijelaskan Kabid Humas adapun pelaku berinisial YHW ini berumur 46 tahun, warga Wenang Manado. Sedangkan korban Berry berumur 42 tahun, warga Mapanget Manado.

Pelaku telah ditangkap oleh Satreskrim Polres Mitra  di-back up Polda Sulut, Senin (08/02) malam, saat berada di rumahnya,  sedangkan korban saat ini dalam perawatan medis di RSUP Prof. Kandou Manado.

Dalam penangkapan ini, Polres Mitra juga mengamankan barang bukti 2 bilah senjata tajam jenis pedang besi putih dan parang, 1 pucuk air softgun, serta 1 bilah besi panjang,”

Adapun  pasal yang dilanggar oleh pelaku kadalah Pasal 351 ayat 2 KUHP tentang penganiayaan, dengan ancaman hukuman 5 tahun pidana.

“Kasus ini penanganannya tetap dilakukan oleh Polres Mitra dan di-back up sepenuhnya oleh Polda Sulut,” pungkas Kombes Pol Jules Abraham Abast.

Sementara itu Kapolres Mitra menambahkan, masing-masing pihak (Berry dan YHW) ini saling melapor.

 “Saudara YHW ini juga melaporkan Berry karena merasa telah ditembak memakai air softgun. Jadi nanti laporan dua-duanya tetap kita proses.

Sementara karena saudara Berry masih di rumah sakit belum memungkinkan untuk dihadirkan. Terkait air softgun juga akan kita telusuri proses kepemilikannya seperti apa,” tutup Kapolres.(arp)

Minahasa, SulutNews.com -  Barang bukti dalam perkara pidana nomor 97/PID.B/2020/PN.TNN yang terdiri dari   14 unit Panel Lampu Sollar Cell Type SW-ISL701-40W dan 14 unit tiang lampu Solar Cell bersama kelengkapannya tinggal satu, sisanya raib entah kemana.

Hal ini tertuang dalam dokumen duplik yang disampaikan dalam persidangan yang berlangsung, Selasa (09/02) pagi,

dimana Kuasa Hukum JL alias Jeffry (52), sebagai terdakwa dalam perkara pidana ini, Alexander Tujuwale SH, didampingi rekannya Ronald Aror SH mempertanyakan hilangnya sejumlah  barang bukti tersebut.

"Kami mempertanyakan soal keberadaan barang bukti yang di pakai sebagai dasar penuntutan oleh JPU yang di mana keberadaannya telah raib entah kemana.

Sesuai Pasal 44 KUHP menyebut, selama persidangan, barang bukti dilarang untuk dipergunakan atau diberikan oleh dan kepada siapapun tanpa putusan pengadilan.

Bagaimana bisa JPU menuntut berdasarkan barang bukti yang sudah tidak ada.

Maka, sudah sepantasnya perkara ini batal demi hukum," kata Tujuwale, yang keseharian sebagai Ketua Departeman Hukum Manguni Indonesia Minahasa.

Atas apa yang terjadi pada klienya ini, Kuasa Hukum Jeffry meminta keadilan yang seadil adilnya, bahkan sampai mengajukan pengaduan atau laporan Kapolda Sulawesi Utara.

Sebab, dirinya merasa kliennya diproses hukum secara pidana karena uang pinjaman, padahal perkara ini adalah masalah hutang piutang, sementara barang bukti susah diambil tanpa melalui perintah pengadilan padahal perkaranya belum selesai.

"Dari pengakuan atau hasil konfirmasi dengan penyidik yang menangani perkara ini, yang kami laporkan di Propam Polda Sulut. Barang bukti tersebut telah diserahkan kepada saksi pelapor.

Bagaimana bisa klien kami diproses hukum secara pidana dikarenakan hutang, yang notabene barang bukti sudah diserahkan kepada pelapor," tukasnya.

"Dengan adanya peristiwa ini terhadap klien kami, kami merasa terkesan dikriminalisasi atas suatu peristiwa hukum perdata.

Jadi mohon keadilan atas kasus yang sementara bergulir di PN Tondano," pungkasnya.

Terkait pengaduan ini, Ketua Majelis Hakim La Ode Arsal Kasir SH, yang memimpin sidang mengaskan bahwa, sampai hari ini Pengadilan tidak pernah meminjam pakaikan barang bukti dalam kasus ini.

Menurutnya, bila didapati oleh Kuasa Hukum ada peristiwa yang seperti tersebut diatas, maka dirinya mempersilahkan Kuasa Hukum menempuh jalur hukum yang disediakan.

"Kami menegaskan bahwa barang bukti dalam kasus ini tidak pernah kami keluarkan untuk pinjam pakaikan, apalagi menjual barang bukti tersebut.

Semisal dari Kuasa Hukum ingin menempuh jalur hukum untuk hal itu, silahkan tempuh sesuai jalur hukum yang berlaku," ujar Hakim La Ode.

Kepada Media ini, Selasa (09/02/2020) Tujuwale selaku Kuasa Hukum Jeffry kembali menjelaskan, dimana dalam perkara tersebut kliennya sebelumnya pernah meminjam uang kepada perempuan bernama Leony Liontin Mongi, warga yang sama dengan kliennya. Hanya saja, klennya belum bisa menyanggupi mengembalikan uang pinjaman tersebut karena terkendala kemampuan ekonomi.

Karena belum juga bisa melunasi hutang secara keseluruhan, dia lalu dilaporkan ke Polres Minahasa dengan tuduhan melakukan penipuan dan penggelapan uang oleh Leony, yang berujung di sidang PN Tondano, yang padahal sebelumnya Leony sudah terlebih dahulu melayangkan somasi penagihan hutang selama tiga kali.

Sambung Tujuwale, yang membuat dirinya keberatan dan mengajukan pengaduan ke PN Tondano adalah bahwa, saat ini perkara dia masih dalam persidangan, yang masih pada tahap Jawab Menjawab antara Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan penasihat hukumnya, namun pada 21 Januari 2021 lalu imbuhnya. (arp)